Kamis, 20 November 2014

Sebuah Proses: Jika Aku Menjadi

Aku sudah menduga akan seperti ini prosesnya. Tak akan ada yang tiba-tiba atau mendadak langsung jadi tanpa ada prosesnya. Perjuangan ini akan terus berlanjut sampai akhirnya nanti aku akan "menjadi". Ya, ini adalah ujian yang mengiringi langkahku menjadi seorang penulis.

Aku telah memutuskan untuk menjadi seorang penulis, sejak dulu, sejak dini, sejak SMP aku mulai menulis cerpen-cerpen kecil, cerita cinta monyet anak SMP yang tergila-gila akan anime-anime. Aku akan memulainya, menjadi sebuah debut. Prosesnya mungkin akan panjang tapi akan aku lalui sedemikian rupa dengan segenap jiwa.

Insya Allah nanti akan terjadilah apa yang akan terjadi, jika Allah berkehendak. Cerita yang akan aku tulis dalam novel ini adalah cerita menuju kedewasaan, bukan lagi cerita-cerita konyol yang pernah aku tulis saat aku masih duduk di bangku sekolahan. Ya, otak manusia pun juga akan berkembang seiring bertambahnya usia. Begitu juga dengan cerita-ceritaku yang akan aku tulis dalam novel. Jika dulu aku suka menulis cerita anak remaja sekolahan yang jatuh cinta, maka kali ini berbeda. Ceritanya tentang gadis remaja yang memakai jilbab namun tak sepenuh hati sampai akhirnya ia bertemu dengan lelaki yang sholeh dan membuatnya berjilbab sebagaimana muslimah sejati.

Semoga akan selesai secepatnya dan memulai debutku menjadi seorang penulis..
Semoga..
Hanya Engkau-lah sumber kekuatanku Ya Allah...
Hanya Engkau-lah Tuhan yang semata-mata memberikan kekuatan dan cahaya...
Give me a power...

Rabu, 19 November 2014

MENYIMAK GANGSADEWA SEDANG “BERMAIN”

Artikel ini diterbitkan di Koran Minggu Pagi, kolom Flash
edisi 25 TH 67


Untuk menghadirkan kembali perpaduan musik tradisi dengan musik barat (Cross Culture), Gangsadewa Etnich Ensamble, sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik nusantara telah menggelar pertunjukan dengan judul “Bermain” pada tanggal 15 September tadi malam pukul 19.30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. “Leader” Gangsadewa adalah Pak Memet (Drs. Chairul Slamet. MSn), musisi sekaligus dosen musik di ISI Jogja.
Kelompok musik yang berdiri sejak tahun 2004, dikomandani oleh Memet Chairul Slamet (composer), Dodi Precil (perkusi), Haris (sapek, kecapi, gambus), Herry (kecapi, bonang, cak), Herman (gitar), Putri (perkusi, jembe, vokal), dan Yopi (bass, perkusi) ini telah menghasilkan 4 album dan kaya akan pengalaman pentas di panggung nasional maupun internasional.
Di lagu pertamanya, Gangsadewa mengajak penonton yang hadir untuk bersama-sama berdo’a. Alunan instrumen musik tradisional yang berasal dari etnik nusantara dipadu dengan musik modern, penonton yang duduk dengan khidmat serasa diajak ke alam terbuka, menyatu dengan alam seraya menyematkan do’a agar tanah air selalu “gemah ripah loh jenawi”.
“Siluet” merupakan judul lagu kedua yang dibawakan oleh Gangsadewa. Lagu ini bercerita tentang alam di Indonesia. Unsur etnik telah terasa sejak musik ini dimainkan, diawali dengan suara vokal Putri dan Yopi, penonton diajak untuk menyatu dengan alam. Penonton serasa berada di pucuk gunung yang sejuk, terhampar hijau dengan gemerlap cahaya di bayang-bayang air yang jernih, lembah-lembah dan langit biru, burung-burung bergerombol beterbangan, hawa sejuk pegunungan menyelinapkan ketenangan, berada di sebuah negeri yang damai, nusantara tak terbatas dari ujung ke ujung, dari jauh ke tempat yang jauh namun sesungguhnya kita satu. Hingga akhirnya menjelang akhir dari lagu kedua ini, Memet dkk, memainkan melodi secara bersama-sama sebagai penutup membawa kita ke hutan-hutan, daun-daun basah oleh embun yang menjadi dingin, alam kita yang semerbak wangi bunga pinus. Tanah negeri kita yang dulu hijau.
Setelah “Siluet”, lagu selanjutnya adalah “Gravitasi” yaitu sebuah konsep dimana gravitasi tidak hanya ke bawah tapi bisa juga ke samping, miring, ke atas, atau ke arah mana saja. Saatnya menciptakan istilah sendiri, menjadi diri sendiri. Hal ini diutarakan langsung oleh Pak Memet sesaat sebelum Gangsadewa tampil di lagu ketiganya kali ini. Hidup tanpa gravitasi, manusia akan kehilangan keseimbangan ketika ia hidup berdampingan dengan alam, akibatnya manusia akan kehilangan tujuan hidupnya sebagai pemelihara alam di bumi ini. Dibawakan dengan tempo yang sedang, serta perasaan emosional yang tinggi dari para personilnya, Gangsadewa berusaha menterjemahkan “Gravitasi” ke dalam bentuk komposisi modern dan unik yang dibalut dengan unsur etnik Nusantara, kemudian dipadukan secara harmonis dalam pola ritme yang dihasilkan oleh tiupan Flute dari Pak Memet. Tata cahaya panggung pun ikut berubah seiring perubahan tempo yang dimainkan oleh Memet dkk.
Selanjutnya adalah lagu dengan judul “Yuu Joo”, yang berasal dari bahasa Jepang berarti “Persahabatan”. Komposisi ini bercerita tentang persahabatan budaya antara Jepang dan Nusantara yang berbeda etnik namun bisa berpadu lewat alunan musik, seperti yang diungkapkan oleh Pak Memet sendiri sebelum komposisi ini ditampilkan. Nada musik teralun dengan tempo yang lembut segera membawa penonton menjadi Hanami ke negeri Sakura pada musim Semi di bulan Maret dengan bunga-bunga Cherry Blossom yang bermekaran, sambil menggelar tikar dan minum teh bersama keluarga atau sahabat. Perpaduan musik Jepang dan Nusantara ini merupakan dua garis budaya yang bertemu dalam satu titik lebur yang menjadikan komposisi “Yuu Joo” ini sangat enak untuk dinikmati.
Menjelang penutupan, Pak Memet memperkenalkan semua personil yang berasal dari genre musik yang berbeda. Contohnya Yopi yang berasal dari aliran musik reggae, Putri yang beraliran dangdut dan Heri beraliran rock. Meski berasal dari aliran musik yang berbeda-beda, namun Pak Memet “merekayasa” dan jadilah “Gangsadewa” sehingga masing-masing personel dapat memainkan segala jenis instrument musik tanpa merubah karakter. Selain memperkenalkan personel satu per satu, Pak Memet juga memperkenalkan setiap alat instrumen. Katanya, dengan perpaduan setiap instrumen di Gangsadewa, dosa terbesar dalam musik yaitu “fales” tidak dimasukkan ke dalam “neraka” tetapi justru dimasukkan ke “surga” dalam musik sehingga terciptalah suatu komposisi yang justru dapat dinikmati.
Pada lagu penutup, penonton diajak “Bermain”, sesuai judulnya, karena dengan bermainlah sesungguhnya seseorang dapat menikmati hidupnya. Dengan bermain kita menjadi apa adanya, bermain kita bisa tahu; kita bisa lepas; kita bisa berlari; kita bisa berteriak; kita bisa puas. Hanya dengan “Bermain”, kita bisa menikmati belajar.

Penerimaan Naskah Diva Press

Kali ini kabar gembira datang dari Penerbit Diva Press yang menerima naskah-naskah novel religi spesial HUT Diva Press yang ke-14,

Info lebih lengkapnya, silahkan klik link di bawah ini untuk masuk ke blog resmi Diva Press,

http://blogdivapress.com/dvp/2014/10/28/penerimaan-naskah-naskah-religi-spesial-hut-diva-press-ke-14/

Selamat menulis dan pantang menyerah untuk menjadi Penulis...

Sabtu, 15 November 2014

Event Menulis Cerita Fiksimini tentang Hujan

Cerpenku masuk lagi di event menulis Fiksimini tentang Hujan..
Ini cerita komedi romantis... :D

PAYUNG BIRU
oleh Anis Unifah

Awalnya aku mengesalkan hujan deras hari ini. Mencerca nikmat dari Allah lewat hujan yang melimpah. Petani pasti bersyukur karena hujan kali ini menyuburkan tanahnya sehingga padinya akan lebih lebat lagi bijinya. Tetapi, aku yang terdiam sendiri di teras kelas sangat menyesal, sedih dan hatiku tak karuan. Sementara teman-teman tengah asyik berjalan di bawah payung menuju pulang sambil menikmati hujan yang memercik sepatu dan seragam putih abu-abunya, aku menyalahkan hujan padahal aku sudah tahu Allah merencanakannya.
“Aku lupa membawa payung,” Inilah kesalahanku. Tetapi aku mengelak kelupaanku sendiri dan menyalahkan hujan yang tak berbuat dosa. Memang benar lupa itu tidak berdosa, tetapi aku justru mendosakan lupa karena ia telah menahanku disini bersama hujan yang menipiskan waktuku disini tanpa berbuat apa-apa. Sia-sia waktuku, pikirku.
“Diska,” seseorang memanggilku.
Meskipun aku tidak mencari sumber suara, aku sudah tahu suara itu milik siapa. Mas Alif tersenyum kepadaku lalu mengalihkan pandangan ke tetesan hujan di depannya, tetesan yang turun dari atas genteng. Dialah Ketua OSIS, kakak kelas yang telah aku sukai sejak aku masuk SMA. Sudah hampir dua tahun aku menyukainya. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri ketika MOS. Teman-teman begitu iri melihat kedekatanku dengannya, tetapi Mas Alif menjawab kami sebatas layaknya kakak dan adik. Dia ingin punya adik perempuan seperti aku karena dia anak tunggal, sedangkan aku menginginkan seorang kakak lelaki karena aku anak pertama dan dua adikku semuanya perempuan.
“Kamu tidak bawa payung?” tanyanya.
“Tidak. Padahal aku sudah dengar berita cuaca kemungkinannya hampir 100 % hari ini akan turun hujan.”
Mas Alif mengeluarkan payung biru dari dalam tasnya. “Baiklah, kamu pakai saja Diska. Aku tak apa-apa tidak pakai payung.”
Sebelum mendengarkan jawabanku dia berlari pergi.
Tidak mungkin aku membiarkan orang yang kusukai basah oleh hujan menyebalkan. Dibawah mekarnya payung, aku berlari mengejarnya. Kulihat dia hampir basah kuyup dan segera kukejar. Langkahnya terhenti ketika dia merasa ada yang menghalangi siraman hujan ke tubuhnya. Kuperlihatkan senyum termanis yang kupunya lalu kami berjalan dibawah payung yang sama. Disampingnya, aku merasa sangat pendek. Tinggi Mas Alif sekitar 173 cm sedangkan aku hanya 151 cm. Interval jarak yang sangat jauh, sehingga tinggiku hanya sebatas lengannya saja.
Tanganku gemetar memegang batang payung. Aku begitu gugup layaknya tampil di panggung yang ditonton ribuan orang. Ini pertama kalinya berjalan berdua dengannya. Ada sesuatu yang membuncah didada, seperti kawah yang mendidih. Mungkinkah ini cinta? Namun sebelum aku menyadarinya, Mas Alif telah lebih dulu menyadarkanku dari lamunan. Payung yang kupegang justru nyangkut dan menutupi wajahnya. Orang-orang di jalan tertawa melihat payung menutupi wajah Mas Alif, hahaha.
Karena kejadian memalukan itu, Mas Alif sekarang yang ganti memegang batang payung. Sangat romantis sekali, pikirku. Mungkinkah ini akan jadi momen tak terlupakan sepanjang masa remajaku? Meski sekitar 20 cm jarak kami tetapi tetap saja masih membuatku senang karna kami masih berbagi payung yang sama. Aku senyum-senyum sendiri, tetapi tiba-tiba kepalaku terasa dingin. Tepi payung tepat berada di atas kepalaku sehingga jatuhnya air dari atas payung meluncur tepat ke kepalaku, deras seperti air terjun. Mas Alif, yang bener bawa payungnya dong!!
Setelah kejadian memalukan yang kedua, dia lebih dekat meskipun kami tidak bersentuhan. Dia tidak ingin berdua-duaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, katanya yang ketiga adalah syetan. Aku mengiyakan, cukup sekali ini saja kami berdua berjalan di bawah payung yang sama.
“Ayahku hari ini ke Surabaya,” katanya tiba-tiba.
Ibunya telah tiada dan hanya tinggal bersama Ayahnya saja. Ayahnya seorang pengusaha tekstil yang sering bepergian keluar kota karena itu Mas Alif sering sendirian di rumahnya.
Pikiranku menerawang jauh sementara rumahku semakin dekat. Jika saja ini yang terakhir aku berjalan berdua saja, dibawah payung yang sama dengan Mas Alif, maka aku berharap tidak akan pernah sampai rumah. Jika saja rumahku sedikit lebih jauh lagi. Jika saja aku tidak pernah sampai rumahku, tapi itu mustahil sekali kan?
“Jika saja…” Mas Alif mengatakan sesuatu seolah bisa membaca pikiranku, ataukah kami bisa bertelepati?
Hatiku terasa berdegup-degup, kawah yang tadinya telah dingin kini mendidih kembali bahkan lebih panas dari sebelumnya.
“Jika saja tidak pernah sampai ke rumahku…” dia melanjutkan kata-katanya semakin membuatku penasaran, benarkah kami punya pikiran yang sama?
“Di rumahku… aku baru ingat kalau ada jemuran …” lanjutnya.
APAAA? Jadi tidak romantis lagi.




Yogyakarta, 10 Oktober 2014

Event Menulis FTS "Fobia"

Alhamdulillah jadi 20 kontributor, yaah meskipun tidak menang.. never mind..


SCARY BAMBOO
oleh Anis Unifah


Ini cerita yang sudah lama sekali, ketika aku masih duduk di bangku SMA di Kediri. Fobia yang aneh, menurutku. Jika kebanyakan orang punya fobia terhadap gelap, ular, kecoa, atau apapun, tapi fobia ini adalah “fobia terhadap bambu”. Setiap melihat bambu atau benda yang terbuat dari bambu maka penderita fobia ini akan ketakutan dan berusaha menghindarinya. Bukan aku yang punya fobia seperti itu tetapi Ibu dari teman SMA-ku. Namanya Bu Ratna. Beliau asli orang Kediri.
Pertama kali aku mengetahui fobia yang diderita Bu Ratna, yakni ketika aku bermain ke rumah temanku. Beliau menyuguhkan teh untukku dan mengajakku ngobrol, bertanya tentang rumahku, sedangkan temanku sedang ganti pakaian di dalam kamarnya. Saat asyik ngobrol, tiba-tiba mata beliau tertuju pada gelang yang kupakai di tangan kiriku. Sebuah gelang yang terbuat dari bambu kemudian dicat warna coklat. Entah, tiba-tiba saja keringat Bu Ratna mulai bercucuran, tubuhnya juga gemetar. Tanpa lagi meneruskan kata-kata, beliau segera masuk ke dalam dengan buru-buru. Aku merasa aneh melihatnya waktu itu, jangan-jangan ibu dari temanku ini punya penyakit jiwa atau apa, sedikit “gila”? Aku takut sendiri.
Temanku kembali menemuiku di ruang tamu. Demi menghormatinya, aku tidak menanyakannya kepada temanku itu perihal kejadian yang baru saja aku lihat tentang Ibunya. Kami asyik mengerjakan mengerjakan PR Matematika. Setelah pertemuan kami yang pertama, sampa aku pamit untuk pulang, Bu Ratna tidak keluar dan menyalamiku. Tapi aku cuek-cuek saja, tidak terlalu memikirkan fobia aneh itu. UPS BUKAN, justru saat itu aku belum tahu bahwa itu adalah fobia yang diderita Bu Ratna.
Dua hari setelah kejadian itu, aku dan temanku itu pergi jalan-jalan ke Pasar Bandar Kediri, dekat dengan sekolahku. Dia memintaku menemaninya membeli kemoceng. Katanya kemoceng di rumahnya sudah rusak bulu-bulunya jadi Ibunya memintanya untuk membeli yang baru. Memenuhi ajakannya, kami berdua ke Pasar Bandar untuk mencari kemoceng.
Disana, temanku sedang memilih-milih kemoceng. Ada kemoceng yang bagus menurutku, bukan karena warnanya tetapi karena aku lebih suka gagang kemoceng yang terbuat dari bambu lebih kuat daripada gagang kemoceng yang terbuat dari besi. Aku mengambil kemoceng bergagang bambu itu dan menyodorkannya kepada temanku supaya dipilihnya.
“Jangan yang ini.” jawabnya lalu memilih-milih lagi kemoceng yang lain.
Dia sibuk mengamati kemoceng satu per satu lalu memilih kemoceng bergagang besi dengan bulu ayam warna coklat.
“Kalau gagang besi sepertinya nggak terlalu kuat, ini lho yang awet.” Saranku menyodorkan lagi kemoceng lain bergagang bambu.
“Ibuku takut sama bambu.” Jawabnya singkat.
APAA??? Aku diam sejenak, memutar kembali kaset yang terpasang di otakku. Jadi waktu itu ketika melihat gelang yang kupakai, sebenarnya Ibunya bukan orang gila, tetapi punya fobia terhadap bambu, lalu kutanya, “Kok bisa takut sama bambu?”
“Iya, waktu kecil kalau Ibuku berbuat salah, selalu dipukul pakai bambu sama Kakekku. Karena seringnya dipukul dan kenangan-kenangan waktu kecil kan tetap melekat sampai dewasa. Makanya Ibuku takut sama bambu. Di rumah tidak ada peralatan yang terbuat dari bambu. Bahkan Ibuku juga pernah pingsan ketika melihat bambu yang begitu banyak.” Tutur temanku bercerita.
Aku mengangguk-angguk. Jadi ada juga fobia seperti itu. Setelah aku lulus SMA, aku jarang lagi bertukar kabar dengan temanku itu sehingga sampai saat ini aku tidak tau apakah Ibunya sudah sembuh dari fobianya terhadap bambu atau belum. Memang, kejadian yang terjadi pada masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap masa-masa perkembangan setelahnya. Jadi, kita para calon orang tua harus berhati-hati terhadap tindakan kita kepada anak kita nantinya, supaya tidak sampai membuat trauma atau fobia yang berakibat fatal kepada anak kita, karena hal itu kerap tidak disadari oleh orang tua. Niatnya memang baik, tapi pendekatan yang dipakai orang tua yang kurang tepat.

Juara 2 Lomba Menulis "Pahlawan Inspirasiku"

Diikut sertakan dalam Lomba "Pahlawan Inspirasiku", Teater Petass

“THE GRAND OLD MAN”
(MENELISIK KEHIDUPAN H. AGUS SALIM)
oleh Anis Unifah

Sejujurnya saya mendengar seorang teman bercerita bahwa dia sangat mengagumi Haji Agus Salim. Saya tanya apa alasannya, maka dia pun bercerita tentang kejeniusan Haji Agus Salim menguasai 9 bahasa dan pernah meniupkan asap cerutu di depan Pangeran Philip (Suami Ratu Elizabeth) di Belanda. Saya juga pernah mendengar cerita itu sebelumnya dari tutur Dosen saya, namun saya menjadi lebih tertarik sekarang dan membaca tentang kehidupan Haji Agus Salim lebih dalam.
Kata-kata di Harian Neraca yang ditulisnya pada tanggal 25 September 1917 yang menyatakan "dalam negeri kita, janganlah kita yang menumpang" membuat kita patut untuk diam sejenak berpikir. Tidak hanya dalam masa perjuangan untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia dahulu kala, tetapi sekarang kita pun harus merenungkan kata-kata tersebut. Kita memang tidak dalam masa penjajahan Belanda ataupun Jepang, tapi kebudayaan kita yang sedang dijajah. Pemuda/i Indonesia telah kehilangan budayanya sendiri tertindas oleh budaya asing, daripada positifnya malah lebih banyak negatifnya yang masuk, seperti budaya berpakaian yang seronok, seks bebas, narkoba, dan lain-lain. Sedangkan budaya kita sendiri tidak pernah dipelajarinya, seperti budaya wayang kulit, tari tradisional, musik tradisional dan budaya Indonesia lain yang hampir tenggelam karena tidak ada penerusnya. Sungguh “miris”.
Menelisik ke tengah-tengah kehidupan Haji Agus Salim sesungguhnya kita belajar tentang sejarah Indonesia dan perjuangan tokoh-tokohnya. Seperti gelar "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man) yang mulai disandang oleh Haji agus Salim sekitar tahun 1946-1950 karena ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik. Gelar itu akan tetap melekat pada diri seseorang karena jasanya. Kalau kita sungguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu kemudian mendalaminya, maka pasti akan ada penghargaan meskipun tidak bersifat materi. Dan yang lebih penting lagi, materi itu bisa hilang dan musnah sedangkan immateri itu abadi.
Ditambah lagi tulisannya tentang “polisi dan rakyat” yang dimuat di harian Fadjar Asia tanggal 29 November 1927 yang isinya: "sikap polisi terhadap rakyat, istimewa keganasan dan kebuasan polisi dalam memeriksa orang yang kena dakwa atau yang hanya kena sangka-sangka rupanya belum berubah-ubah. Hampir tiap hari ada pesakitan di depan landraad yang mencabut "pengakuan" di depan polisi yang lahir bukan karena betul kejadian melainkan hanya karena kekerasan siksa." Ternyata memang dari dulu ya, jadi tidak kaget kalau begitu.
Pernah suatu hari di tahun 2013, saya mengantar seorang teman untuk mengurus kecelakaan yang dia alami sehingga mengakibatkan motornya rusak. Untuk mengurus jasa asuransi, dia harus minta surat pernyataan dari kepolisian yang menyatakan bahwa dia benar-benar kecelakaan. Kata si polisi, demi untuk uang rokok saja harus bayar 1 juta kepada si polisi karena telah mengurus surat pernyataan kecelakaannya ke pihak asuransi. Padahal uang asuransi yang dia dapat hanya 6 juta, sedangkan untuk biaya rumah sakit yang masih hutang itu pas 6 juta. Terus uang 1 juta dapat darimana? Bukannya tugas polisi itu membantu rakyat? Surat pernyataan kalau ngeprint di rental print saja mungkin cuma habis 500 perak. Sungguh lucu negeri ini.
Ada tulisan mengenai Haji Agus Salim yang menarik lagi, “Meskipun seorang poliglot yang mahir banyak bahasa, namun Agus Salim justru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang Dewan Rakyat (Volksraad), sehingga menggegerkan Belanda. Lawan berundingnya dari pihak Belanda mengakui, "Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, dan mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat," demikian Prof Schermerhorn, dalam catatan hariannya, 14 Oktober 1946.”
“Melarat” adalah kata yang bermakna rendah, tetapi Haji Agus Salim tidak pernah minder. Menurut beliau, Islam menghendaki terbinanya masyarakat adil dan makmur yang berpangkal pada persamaan, tetapi juga kesempatan untuk maju bagi mereka yang berusaha. Suatu masyarakat yang juga tolong menolong dan menjauhkan diri dari eksploitasi sesama manusia. Dari kata-kata yang diucapkan oleh beliau, maka dapat dimaknai bahwa biarpun melarat asalkan tidak mengeksploitasi sesama manusia itu mulia. Menurut saya, kaya tetapi korupsi! Itu sebenarnya yang “melarat”.
Seperti yang saya singgung di paragraf pertama tentang Haji Agus Salim yang meniupkan asap cerutunya di depan Pangeran Philip. “Haji Agus Salim memang tidak pernah minder berhadapan dengan tokoh asing. Ketika mewakili Presiden Soekarno menghadiri upacara penobatan Ratu Inggris Elisabeth tahun 1953, ia agak kesal dengan suami Ratu (Pangeran Philip) yang kurang perhatian terhadap tamu asing yang datang dari negeri-negeri jauh. Agus Salim lalu menghampiri dan mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung Pangeran. "Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini?" Dengan ragu-ragu menghirup rokok itu, Pangeran mengakui tidak mengenal aroma tersebut. Agus Salim pun dengan tersenyum, lalu berujar, "Itulah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya." Maka suasana pun menjadi cair, Sang Pangeran mulai ramah meladeni tamunya.
Dari cerita di atas, kita diajarkan untuk tidak minder kepada siapa saja meskipun kepada orang yang pangkatnya lebih tinggi. Manusia itu kan sama, kita bebas untuk bersuara. Di hadapan Tuhan, manusia itu sama derajatnya, tidak ada yang berbeda. Semua menangis ketika lahir dan akan mati suatu saat nanti. Yang membedakan manusia dengan manusia yang lainnya hanya iman dan ilmunya. 
Jika kita menilik pemuda Indonesia saat ini, mungkin kita boleh mengatakan “miris”. Betapa tidak, sekolah hanya dianggap rutinitas yang harus dilakukan setiap hari, bukan sebagai tempat untuk belajar sungguh-sungguh. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, ada yang mengumandangkan “mumpung masih sekolah” jadi mereka menjadikan sekolah sebagai alasan tawuran dan kenakalan remaja yang lain. Mungkin hanya beberapa pemuda/i yang bisa dihitung dengan jari yang benar-benar sungguh-sungguh belajar demi kemajuan bangsa Indonesia. Kenapa tidak menjadikan alasan “Mumpung masih muda” sebagai wadah untuk kreatif dan inovatif? Mumpung masih muda, ayo kita berkreativitas!

50 Nominator Cerpen Travel n Love

Cerpenku masuk dalam 50 Nominator Lomba Cerpen "Travel & Love" yang diadakan Padmagz Magazine. Pemenangnya masih belum ditentukan.... Sabar.. sabar..!!!


COLORS OF SECRET GARDEN
oleh Anis Unifah


Suatu hari teramat dingin, di dalam hujan yang deras. Pintu ruang seni berdecit, rasa hambar kegelisahan mencekik. Aku berdiri seorang diri. Lukisan-lukisan yang terapung di dasar dinding begitu tenang. Angin mulai menyusup lewat jendela yang mengembun oleh percikan air hujan. Diluar orang-orang berlalu lalang mencari tempat berteduh. Namun ruangan dimana aku berdiri ini bukan tempat berteduh, ini adalah ruang bersembunyi dari orang-orang yang tidak suka akan kemenangan yang aku dapatkan. Aku menyembunyikan ketakutanku disini bersama hatiku yang lemah dan hampir retak oleh ejekan dan hinaan, oleh rasa ketidakpercayaan orang-orang. Kehidupan yang berwarna tertarik dalam mimpi yang menghitam. Melucutiku dalam kesepian. Sekali lagi aku merintih dalam ketakutan dan kegelapan.
“Dia seorang plagiat!”
“Tidak mungkin dia menang dengan kemampuan melukisnya!”
“Dia bukan pemenang!”
“Dia tidak bisa melukis!”
Orang-orang di sekolah protes, aku tidak layak jadi pemenang di kompetisi melukis tahun ini. Tapi nyatanya aku memenangkan lomba dan mengalahkan 199 orang peserta yang lain. Joan, siswa paling hebat dalam melukis yang menyebut dirinya ‘Iblis pembunuh kanvas’ berkoar-koar bahwa aku memplagiat lukisan ‘Kebun Rahasia’-nya. Ia tidak terima dan meluncurkan ultimatum kejam terhadap diriku. Jadilah anak-anak lain mengejarku. Disinilah aku bersembunyi bersama sebuah lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang kugores dengan kanvas peninggalan Ayahku. Aku meringkuk dalam kegelapan sambil mendekap kuas dan kanvas. Ujung jariku mulai terasa nyeri, kulihat sekejap tadi seberkas cahaya menyinari. Karena dalam kegelapan ada cahaya. Kuas yang aku bawa kemana-mana tiba-tiba menyala seperti sebuah lilin dengan cahaya putih keemasan.
Jikalau sekarang tamat riwayatku walaupun harus demikian, tak apa-apa. Kupikir begitu, tak ada yang aku takutkan. Sementara aku khawatir tentang ilusi tercermin didalam cermin, di beberapa titik aku mengambil kecepatan setelah diberitahu ''Kau bisa pergi kemanapun yang kau inginkan''. Suara yang familiar dan sering kudengar ketika aku masih kecil, dibawah selimut hangat sambil mendengarkan dongeng sebelum tidur lelap.
Tiba-tiba semua penunjuk arah berubah menjadi abu-abu dibawah keinginanku yang telah matang. Kerlip api menarikku ke dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang berubah menjadi sebuah kotak yang berlubang seperti pintu terbuka. Dari tempatku yang gelap dan dingin hujan di ruang seni, aku berpindah ke sebuah tempat yang terang dan cerah bercahaya. Sebelum aku menemukan diriku dalam kesadaran, aku lebih dulu menemukan kuasku kembali dalam genggaman tangan. Apakah ujung kuasku mengering? Cahaya itu memudar.
Jika aku dapat melihat langit biru, membuka payung biru. Bagaimana tentang hal itu? Langit yang aku lihat sekarang lebih cerah dari biasanya, bagai sehelai kain kanvas berwarna biru terang, dengan goresan-goresan putih sebagai awannya dan satu titik terang berwarna kuning bersinar sebagai matahari. Angin sepoi-sepoi yang hangat dan lembut seakan meniupkan lagu-lagu di daun pepohonan. Apakah ini surga ataukah aku berada di tempat yang lebih indah dari surga? Aku tak tau dimana kecuali aku menemukan diriku seorang diri lagi. Kanvas milikku, apa kau mengibarkan bendera putih hanya saat kau sudah menyerah? Memberi isyarat sekarang dengan merah murni seperti matador. Mawar yang berwarna merah, aku melihatnya di dalam lukisanku. Ah benar, apakah aku sekarang berada dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’? Semua yang aku lihat disini tampak persis seperti yang aku lukis dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’-ku.
Warna memudar dibawah lampu neon.  Aku bertemu dengan seseorang pada papan catur hitam-putih. Melihat matahari terbenam orange disisinya. Itu baik, namun semakin sedikit kata yang baik, apakah seseorang memakai hitam hanya ketika berkabung? Aku rasa aku mengenali orang berpakaian itu, lebih dekat dan lebih dekat lagi. Apakah aku telah mati sehingga bisa melihat orang itu lagi disini?
“Ayah,” Aku memanggilnya lirih dengan kerinduan dalam.
“Marisa,” dia memaggilku dengan mesra lalu memelukku.
Aku tak percaya. Jikalau aku yang mati atau Ayahku yang telah mati, dia tidak akan bisa menyentuhku dan aku tidak bisa menyentuhnya. Tetapi apa ini? Aku masih bisa menyentuh dan merasakan hangat pelukannya. Kami masih hidup tetapi aku tidak tau dimana ini sekarang.
“Akhirnya kau tahu cara bagaimana menggunakan kuas itu,” kata Ayahku dengan wajah yang bahagia.
Dalam kebingunganku, rasa tidak percayaku, berada di dunia lain tak kukenali, bertemu dengan seseorang yang telah menghilang dan kukira telah mati. Aku semakin tegas membisikkan bahwa aku berada di dunia mimpi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Apakah aku telah tertidur di ruang seni ketika aku bersembunyi sehingga aku bermimpi seperti sekarang ini. Tetapi ini terasa seperti nyata. Aku bertanya pada Ayahku, “Apa maksud Ayah?”
“Kuas itulah penyebabnya,” Ayah memandang sebatang kuas yang aku genggam sejak tadi.
Kuas inilah yang melukis, bukan tanganku. Aku memang baru pertama kali menggunakan kuas itu untuk melukis yaitu lukisan dimana sekarang aku hidup di dalamnya sebagai makhluk hidup yang tinggal dalam lukisan. Ayahku menceritakan kejadian yang sesungguhnya ketika ia pertama kali menemukan kuas itu di sebuah toko alat-alat lukis. Kuas itu dijatuhkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan orang itu menghilang entah kemana ketika Ayah akan mengembalikan kuas itu. Lenyap seperti tertelan oleh bumi. Jika memang benar apa yang dikatakan Ayahku, maka itu berarti bisa saja kami akan berada dalam lukisan ini selamanya.
Aku penasaran dimana ayahku tinggal disini dan apa yang dia makan. Ayahku menjawab bahwa di tempat ini dia tidak merasakan lapar atau dahaga dan juga tidak mengantuk. Aku sangat penasaran sebenarnya tempat macam apakah ini. Ayahku bilang ingin memperlihatkanku sebuah tempat yang indah. Katanya itu adalah tempat yang sangat ia sukai disini. Aku mengikuti langkah kaki Ayahku tanpa ragu.
Kami melewati jalan di kebun ini dan melihat banyak bunga yang indah di sepanjang jalan. Ada bunga bleeding heart berwarna merah muda, putih dan violet. Ada banyak sekali bunga anggrek seperti yang pernah aku lihat di Taman ‘Singapore Botanic Garden’. Bunga Akasia berwarna merah muda, putih dan kuning tumbuh bermekaran bersama dengan bunga Anyelir, Aster dan Daisy juga Lily yang berwarna putih. Bahkan disini aku tidak alergi pada bunga Tulip. Dunia macam apakah ini?
Di tengah-tengah kebun ada air mancur seperti air mancur yang ada di Descanso Gardens California di San Rafael Hill. Kebun Rahasia ini seperti yang ada dalam impian, perpaduan dari tiga taman yang indah; Botanic Garden, Descanso Gardens dan Butchart Gardens di Columbia. Dari kejauhan aku bisa melihat gunung yang tinggi menjulang seperti Gunung Everest di Cina. Aku menyesal karena aku hanya mendaki gunung sekali yaitu di Gunung Bromo. Aku bahkan punya keinginan mendaki ke Gunung Everest suatu saat nanti.
“Ini tempat yang ingin Ayah tunjukkan padamu,” seru Ayah.
Tibalah kami di sebuah pantai yang menakjubkan indahnya. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, kecuali aku hanya ingin berteriak ‘HIDDEN PARADISE’. Inilah surga yang tersembunyi selama ini. Dulu waktu kecil aku pernah pergi ke pantai yang pasirnya berwarna putih seperti pantai Adonara di Nusa Tenggara Timur, pantai Sawarna di Lebak, Banten atau pantai Pok Tunggal yang ada di Yogyakarta. Namun aku belum pernah pergi ke pantai yang dipenuhi bebatuan hijau seperti di Pantai Penggajawa atau pantai yang pasirnya berwarna pink seperti di Pink Beach Flores. Namun pantai yang ada di depanku ini merupakan perpaduan kedua pantai yang ingin aku kunjungi. Ada bebatuan hijau yang aku injak di sela-sela pasir putih bersih dan lembut. Dari jauh, pasir di tepi pantai hanyalah pasir putih biasa. Ayah menyuruhku datang ke tepiannya dan menunggu sampai ombak menjilat tepian pasir. Warna pink tiba-tiba terlihat lebih pekat dibanding pasir yang masih kering. Aku hanya berdecak kagum dan hatiku serasa meleleh menikati pemandangan yang memikat ini.
Entah datang dari mana, pantai yang sepi dan cantik seperti pantai Gondang Lombok Utara tiba-tiba berubah menjadi ramai. Orang-orang tiba-tiba berlalu lalang sambil tersenyum dengan ramah. Berjalan lalu melewatiku, berbagi hangat bahagia diantara kesejukan pantai. Namun diriku hanya berdiri di samping Ayahku sambil membalas senyuman mereka dengan senyuman terlembut.
“Darimana datangnya orang-orang itu Ayah?” tanyaku.
“Mungkin mereka orang-orang terdahulu yang menemukan kuas itu. Orang yang tinggal disini tidak pernah tua meskipun sudah bertahun-tahun. Lihatlah Ayah.” Katanya seolah menunjukkan bahwa kulit dan wajahnya masih muda.
Aku memperhatikannya. Memang benar kata Ayahku. Dulu waktu Ayah menghilang kira-kira umurku masih 7 tahun dan sekarang aku sudah berumur 17 tahun. Seharusnya 10 tahun sudah membuat Ayahku berumur 40-an tetapi Ayahku masih tampak muda, masih sama ketika Ayah menghilang. Aku pernah dengar bahwa di surga tidak ada yang menjadi tua, semua tetap muda. Benarkah ini surga?
“Mungkin mereka terlalu asyik berada di tempat seperti ini dan tidak ingin kembali ke dunia nyata.” Kata Ayahku. “Setiap sore mereka pergi ke pantai ini dan melihat matahari terbenam.”
“Seharusnya mereka kembali, Ayah.”
“Untuk apa harus kembali jika disini tidak merasakan kelaparan, tidak haus, tidak mengantuk, tidak lelah, tidak tua dan bahagia seperti berada dalam surga.” Jawab Ayahku sambil memandangi matahari tenggelam masuk ke garis lurus berwarna merah keemasan.
Aku berpikir sejenak. Memang tempat ini begitu indah dan aku tidak ingin meninggalkannya. Sebuah surga indah yang tidak pernah terkira panoramanya yang mempesona, menyejukkan mata dan menghilangkan kesedihan. Namun ini dunia yang tidak dikenal dan aku ingin kembali ke dunia nyata betapapun keindahannya disini.
“Kita harus kembali, Ayah. Kita harus menemukan jalan pulang.” Ajakku dengan lembut.
Tapi Ayah sama sekali tidak meleleh meski aku merayunya dengan rajukan anak kecil kepada Ayahnya.
“Tempat ini terlalu indah untuk ditinggalkan, Marisa. Tempat ini surga yang tidak bisa kita temukan di dunia nyata.” Serunya lalu ia menggumam dengan sedih, “Kalau saja aku bisa mengajak Mayu kesini.”
Aku juga berpikiran yang sama seperti Ayah. Andai saja aku bisa mengajak Ibu masuk ke dunia ini lalu keluarga kami bersatu kembali dalam kebahagiaan di surga yang indah ini. Betapa sangat bahagianya. Saat pagi melihat matahari terbit dan memotong tanaman yang telah tinggi di kebun kemudian berjalan di air mancur dan pantai yang berwarna pink dengan bebatuan hijau yang indah. Pikiranku terkudeta oleh keindahan yang menakjubkan ini. Haruskah kami hidup di surga yang tidak nyata ini?
“Tidak, Ayah. Kita harus kembali. Kita bisa melukis dengan kuas ini lalu pergi ke tempat yang kita inginkan seperti yang pernah Ayah katakan padaku.” Kataku sambil memandangnya dengan lekat. “Aku tidak pernah merasa di surga jika aku tidak bisa berkumpul dengan keluargaku, dengan Ayah dan Ibu. Itulah surga yang paling indah bagiku. Ibu juga pasti akan khawatir ketika aku tidak kembali, Ayah. Kita bisa pergi lain kali kesini, dengan Ibu juga. Bukankah menyenangkan saat kita bisa pergi bersama?”
Aku menatapnya dengan lembut. Hati Ayah meleleh dan ia memelukku dengan hangat seperti saat dia selesai membacakan dongeng tempo dulu. Aku tersenyum.
“Baiklah. Kita kembali lalu melukis surga indah lainnya sehingga kita bisa pergi bersama-sama.” Kata Ayah. “Kita harus kembali ke Kebun Rahasia lalu melukis tempat dimana kamu hilang pertama kali dengan kuas ini.”
Aku mengangguk lega. Jadi, aku harus melukis ruang seni dimana lukisan ‘Kebun Rahasia’ itu berada, tempat dimana aku ditelan ke dalam lukisan ini. Kami berjalan menuju kebun sambil menceritakan rencana kemana lagi kita akan pergi dengan kuas ini. Tetapi setelah aku pertimbangkan lagi, aku tidak membutuhkan kuas ini lagi ketika aku telah kembali ke dunia nyata.
Aku ingin pergi ke pantai Gondang yang ada di Lombok Utara bersama-sama dengan Ayah dan Ibu, mengalami perjalanan yang normal. Perjalanan dari Mataram menuju Pantai Gondang yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam, dengan kecepatan mobil rata-rata 60 km/jam. Sepanjang jalan, bisa melihat pemandangan indah sawah-sawah milik petani yang sebagian sedang dipanen. Lalu, dapat melihat monyet-monyet kecil saat memasuki Puncak Pusuk. Hawa sejuk yang mulai terasa dan banyak monyet-monyet kecil berbaris di sisi jalan menunggu wisatawan melemparkan makanan kecil.
Aku seperti Rudy Tabootie bersama Snap di film kartun ChalkZona atau ‘Zona Kapur’ yang menggambar dengan kapur lalu semua yang digambarnya menjadi hidup. Perasaan bahagia karena memikirkannya saja telah melenturkan tanganku ketika melukis ruang seni sekolah di kain sobekan lengan seragam putihku. Aku ingin segera kembali dan mewujudkan rencana jalan-jalan bersama Ayah dan Ibuku. Lalu sebuah cahaya bersinar memancar. Tidak hanya putih tetapi berwarna-warni seperti pelangi. Warna-warni itu meluas dan memenuhi kebun ini sehingga kami masuk dalam lingkaran cahaya yang menenangkan. Karena terlalu terang, aku tidak bisa melihat apa-apa. Cahaya warna-warni itu memudar dan tiba-tiba berubah menjadi warna gelap dan suara siraman hujan terdengar dibalik warna gelap tiba-tiba. Aku telah kembali di dunia nyata dan di sampingku Ayahku tersenyum padaku.
“Ayo kita pulang,” ajak Ayahku.
Aku mengangguk senang, “Ayo kita jalan-jalan setelah itu.” Jawabku.
Kami berjalan pulang berangkulan.



Yogyakarta, 29 Agustus 2014

Sebuah Cerpen

Dimuat di Koran Minggu Pagi (KR Group) Yogyakarta,
edisi 25 TH 67


SEBUAH PENOLAKAN
oleh Anis Unifah

Aku membuka mataku dan terenyak. Perasaanku semakin tak karuan. Sementara Alby masih asyik menantikan saat-saat terakhir mentari yang tengah lenyap ditelan kegelapan. Sesaat pikirku melayang. Alangkah indahnya apa yang kulihat di depan mataku. Bukan lautan, tapi wajah Alby yang tenang. Jika dia menggilai lautan, maka aku mengaguminya dengan kegilaan yang berkobar, laksana orang yang berlari dari penjara kemudian mencicipi lezatnya udara kebebasan setelah lama mendekam dalam kesempitan.
Kulihat burung camar terbang diantara pantai dan air dari muara ke laut, dari langit ke bumi. Tapi, dimanakah letak keanehannya? Di sini! Ya, di dada yang penuh kefasikan, segala hal yang jauh dan berlawanan terkumpul bagaikan empat musim. Mungkinkah aku berdiri di hadapannya tanpa malu, kemudian aku katakan kepadanya apakah yang memikat di sini, di jiwa ini?
Rasanya tidak mungkin. Aku dan Alby tidak memiliki persamaan sedikitpun. Aku habiskan waktuku hanya dengan mengejar kesenangan. Jiwaku tumbuh di tengah-tengah suasana pesta dan hura-hura. Alunan musiklah yang mengalirkan darahku. Tarian dan dansa adalah gerak langkahku. Seolah kesenangan dan namaku adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan.
Adapun Alby tumbuh dalam studinya yang menjemukan. Jika hidupku adalah mengejar berbagai kesenangan, yang dikejarnya adalah kesuksesan dalam belajar. Terkadang hal itu membuatku tertawa sekaligus tak percaya, karena aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa hiburan, berleha-leha dan bermalas-malasan.
Itulah Alby, seolah segala hiburannya telah terampas oleh buku-buku dan shalat. Sungguh, aku merasa heran dengan adat baru itu. Sebuah adat yang dia coba masukkan ke dalam rumah kami yang mabuk dalam kesenangan duniawi. Dia adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh di tengah keluargaku yang malas dan selalu berleha-leha.
Aku berkata kepadanya tentang kenikmatan, laut, musik dan cinta. Dan dia berbicara kepadaku tentang kesadaran bersama, revolusi, agama, politik, kezaliman dan keadilan sosial. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dengan gaya bahasa yang sulit aku cerna, dengan istilah-istilah yang sulit aku lafalkan. Aku mulai memikirkan kemustahilan hidup bersamanya di tengah dunia kami yang tidak harmonis dan saling bertentangan. Nafsu amarahku membisikkan padaku untuk menghinakannya dalam kehinaan yang besar. Betapa mudahnya bagiku untuk menghinakan manusia yang hidup di rumah kami secara baik. Itulah takdir anak pungut.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Dunia Alby ternyata telah memikatku, aku memang tidak memahami dunianya yang penuh konflik, tapi aku mulai tertular dengan kebiasan-kebiasaannya, seperti membaca buku.
***
Gelap mulai merangsak datang. Saat itu jantungku berdetak kencang. Lidahku kelu untuk mengutarakan yang sebenarnya. Mungkin ini saatnya bagiku untuk mengakui semuanya. Jika tidak, sampai kapan akan kupendam perasaan ini padanya?
Bagaikan didorong oleh sesuatu yang bergelombang besar bak sunami, aku mengungkapkan perasaanku padanya. Aku bilang aku mencintainya, bukan sebagai saudara tetapi sebagai dua insan manusia. Tetapi Alby hanya tertawa mendengar pengakuanku.
“Kenapa kau tertawa, Alby?!”
 “Tidak Maisa. Mustahil bagi kita. Ini tidak benar, Maisa. Kita adalah saudara,” ujarnya untuk menegaskan. Sudahlah Maisa, buanglah jauh-jauh perasaan itu. Apa kau tak sadar bahwa kita adalah saudara? Jangan kau rusak tali persaudaraan kita,” katanya lirih mencoba menenangkanku.
“Bukan. Kau bukan saudaraku. Kau bukan saudaraku..”
Mendengar kekukuhanku, dia berbalik dan perlahan meninggalkanku. Dia menolak cintaku. Sungguh, ini merupakan penghinaan besar bagiku. Ini adalah pengalaman terpahit yang pernah kualami. Bagaimana bisa seorang anak yang dipungut keluargaku menolak cinta anak seseorang yang telah memungutnya?
Langit semakin pekat, tapi cucuran air mata tak kunjung reda. Di tengah sedu sedan, terlintas begitu saja di pikiranku keinginan untuk membalas perlakuan Alby. Entah dari mana pikiran seperti itu datang, tapi yang jelas penolakannya telah menyulut kedengkian yang mendalam.
Dengan hati geram aku melangkah pulang. Semilir angin dingin kala itu tidak mampu meredakan amarah yang seolah membakar sekujur tubuhku dan mendidihkan darahku. Meskipun niat untuk membalas dendam hanyalah sebuah pemikiran yang terlintas begitu saja, tapi sungguh aku akan melakukannya. Sambil berderai air mata, aku masuk ke dalam rumah dan sedikit berlari menuju kamar. Ketika ditanya, aku menjawab dengan terbata bahwa Alby ingin memperkosaku. Sejak lama ia tertarik padaku, namun aku menolaknya. Ayah geram, Ibu pun terperanjat kaget bukan kepalang mendengarkan pengakuanku yang bagai petir di siang hari.
Ayahku semakin habis kesabaran ketika Alby datang berwajah polos tak tahu apa yang terjadi. Seketika dia tampar Alby sekuat tenaga, Alby pun terhuyung beberapa langkah akibat tamparan hebat yang mendarat di wajahnya. Masih tidak mengaku, Ayahku mengangkat vas bunga keramik dan dipukulkannya hingga pecah tepat mengenai kepala Alby. Alby tersungkur di lantai kamar. Darah segar mengalir membasahi rambutnya yang hitam, ia mengerang kesakitan. Sementara, di dalam hati aku tertawa riang karena merasa dendamku sudah terbayarkan.
“Jangan beri dia ampun Ayah, sebenarnya telah lama dia berusaha untuk memperkosaku!” lanjutku berusaha meyakinkan. Pengakuan palsuku itu membuat Ayah semakin geram dan Ayah menendang perut Alby dengan keras hingga ia jatuh tersungkur setelah membentur dinding.
Alby merintih. Perlahan dia berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit. Dalam keadaan tak berdaya, dia menatapku dengan linangan air mata. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Ayahku mendahuluinya.
“Keluar dari rumah ini manusia terkutuk! Pergi dan jangan pernah kembali! Kau tidak pantas untuk Maisa!” teriak Ayahku penuh amarah.
Alby menatapku dengan pandangan yang melukiskan luka hatinya yang mendalam. Saat itu, aku merasa puas. Rasa dendam dan kecewaku kepadanya sedikit terobati. “Sekarang juga aku akan pergi, Paman. Aku akan pergi dan takkan pernah kembali,” ucapnya terputus-putus.
Dengan langkah gontai Alby keluar dari kamar, sambil mengusap keningnya yang berlumuran darah. Dia pergi meninggalkan kami, pergi dengan hati yang luka. Ketika melihat kepergiannya dengan kondisi seperti itu, tiba-tiba hatiku diguncang berbagai perasaan yang bergejolak hebat, antara benci, cinta, sedih, dan kecewa, semuanya lebur dalam dada.
Setelah kepergiannya aku terus berada di kamarku dalam waktu yang panjang. Di sela-sela waktu ini, aku merasa tercekik, aku menganggap segala hal telah berguguran dalam jiwaku, aku sedang mencari jawaban hidup. Kesendirian telah menelan keberadaanku seluruhnya, tapi bayangan Alby tetap tak mau meninggalkanku. Semakin hari, dia seakan tertancap dalam di dada, perasaan berdosa kepadanya seakan mengendalikan pikiranku. Dimana dia sekarang? Ya, hati ini tidak bisa lepas dari jaring-jaring penyesalan.
Waktu luang seakan memojokkanku dan aku tertawa di antara kebingungan dan ketakutan. Pikiran tentang takdir mengetuk pintu gerbang akalku, padahal aku belum pernah memikirkan sebelumnya. Aku merasa lemah di hadapan kekuatan aneh ini. Wahai takdir, yang tidak aku ketahui sama sekali, ampunilah aku!

LIKA-LIKU MASA REMAJA


Masa remaja adalah usia dimana seorang anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, setidaknya dalam masalah hak. Pembicaraan mengenai masa remaja bagaikan pembicaraan tentang suatu paradoks. Di satu sisi, masa remaja adalah masa yang menyenangkan seperti bunga mawar merah yang mekar. Namun di sisi lain, masa remaja adalah masa yang mengkhawatirkan.
Banyak hal menyenangkan ketika kita membicarakan tentang remaja. Bisa kita bercermin pada diri sendiri. Potret remaja diri kita yang menikmati kegiatan sekolah, persahabatan dan merasakan jatuh cinta. Namun, karena masa remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, apa yang terjadi pada masa remaja akan meninggalkan bekas yang mendalam di masa yang akan datang.
Selama rentang kehidupan, masa remaja merupakan periode yang sangat penting dibandingkan dengan periode sebelum maupun sesudahnya. Bukan berarti mengabaikan periode perkembangan yang lain, akan tetapi akibat-akibat jangka panjang masa remaja itulah yang menjadikan periode ini sangat penting untuk diperhatikan.
Para remaja biasanya bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menuntut kebebasan tetapi takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuannya sendiri untuk menghadapi tanggung jawab. Hal ini disebabkan mereka merasa mandiri dan menolak bantuan orang-orang di sekitarnya, padahal masalah-masalahnya pada masa kanak-kanak lebih banyak diselesaikan oleh orang tua dan guru sehingga pada masa remaja ia tidak punya pengalaman dan sulit mengatasi masalah.
Umumnya, remaja banyak berada di luar rumah bersama teman-temannya, maka pengaruh sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku pergaulannya lebih besar daripada pengaruh keluarga. Disinilah letak peran orang tua maupun orang dewasa di sekelilingnya seperti guru, untuk memberikan pendekatan dengan cara bijaksana serta memperhatikan keadaan emosi, minat, pola perilaku dan nilai-nilai para remaja.

Dalam Islam, ada sebuah Atsar dari Ali bin Abi Thalib yang artinya berbunyi: “Didiklah anak-anakmu agar siap menghadapi zamannya, karena mereka kelak akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.” Sebagai sebuah kesimpulan, tugas orang tua-lah yang harus mendidik dan memberikan contoh akhlak yang baik kepada anak-anaknya karena keluarga adalah sumber pendidikan pertama bagi anak.

#DikirimKeOpenminds