Aku sudah menduga akan seperti ini prosesnya. Tak akan ada yang tiba-tiba atau mendadak langsung jadi tanpa ada prosesnya. Perjuangan ini akan terus berlanjut sampai akhirnya nanti aku akan "menjadi". Ya, ini adalah ujian yang mengiringi langkahku menjadi seorang penulis.
Aku telah memutuskan untuk menjadi seorang penulis, sejak dulu, sejak dini, sejak SMP aku mulai menulis cerpen-cerpen kecil, cerita cinta monyet anak SMP yang tergila-gila akan anime-anime. Aku akan memulainya, menjadi sebuah debut. Prosesnya mungkin akan panjang tapi akan aku lalui sedemikian rupa dengan segenap jiwa.
Insya Allah nanti akan terjadilah apa yang akan terjadi, jika Allah berkehendak. Cerita yang akan aku tulis dalam novel ini adalah cerita menuju kedewasaan, bukan lagi cerita-cerita konyol yang pernah aku tulis saat aku masih duduk di bangku sekolahan. Ya, otak manusia pun juga akan berkembang seiring bertambahnya usia. Begitu juga dengan cerita-ceritaku yang akan aku tulis dalam novel. Jika dulu aku suka menulis cerita anak remaja sekolahan yang jatuh cinta, maka kali ini berbeda. Ceritanya tentang gadis remaja yang memakai jilbab namun tak sepenuh hati sampai akhirnya ia bertemu dengan lelaki yang sholeh dan membuatnya berjilbab sebagaimana muslimah sejati.
Semoga akan selesai secepatnya dan memulai debutku menjadi seorang penulis..
Semoga..
Hanya Engkau-lah sumber kekuatanku Ya Allah...
Hanya Engkau-lah Tuhan yang semata-mata memberikan kekuatan dan cahaya...
Give me a power...
Kamis, 20 November 2014
Rabu, 19 November 2014
MENYIMAK GANGSADEWA SEDANG “BERMAIN”
Artikel ini diterbitkan di Koran Minggu Pagi, kolom Flash
edisi 25 TH 67
edisi 25 TH 67
Untuk menghadirkan kembali perpaduan musik tradisi dengan musik barat (Cross Culture), Gangsadewa Etnich
Ensamble, sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik
nusantara telah menggelar pertunjukan dengan judul “Bermain” pada tanggal 15
September tadi malam pukul 19.30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. “Leader”
Gangsadewa adalah Pak Memet
(Drs. Chairul Slamet. MSn), musisi sekaligus dosen musik di ISI Jogja.
Kelompok musik yang berdiri sejak tahun 2004, dikomandani oleh Memet
Chairul Slamet (composer), Dodi Precil (perkusi), Haris (sapek, kecapi,
gambus), Herry (kecapi, bonang, cak), Herman (gitar), Putri (perkusi, jembe,
vokal), dan Yopi (bass, perkusi) ini telah menghasilkan 4 album dan kaya
akan pengalaman pentas di panggung nasional maupun internasional.
Di lagu pertamanya, Gangsadewa mengajak penonton yang hadir untuk
bersama-sama berdo’a. Alunan instrumen musik tradisional yang berasal dari
etnik nusantara dipadu dengan musik modern, penonton yang duduk dengan khidmat
serasa diajak ke alam terbuka, menyatu dengan alam seraya menyematkan do’a agar
tanah air selalu “gemah ripah loh jenawi”.
“Siluet” merupakan
judul lagu kedua yang dibawakan oleh Gangsadewa. Lagu ini bercerita tentang
alam di Indonesia. Unsur etnik telah terasa sejak musik ini dimainkan, diawali
dengan suara vokal Putri dan Yopi, penonton diajak untuk menyatu dengan alam.
Penonton serasa berada di pucuk gunung yang sejuk, terhampar hijau dengan
gemerlap cahaya di bayang-bayang air yang jernih, lembah-lembah dan langit
biru, burung-burung bergerombol beterbangan, hawa sejuk pegunungan
menyelinapkan ketenangan, berada di sebuah negeri yang damai, nusantara tak
terbatas dari ujung ke ujung, dari jauh ke tempat yang jauh namun sesungguhnya
kita satu. Hingga akhirnya menjelang akhir dari lagu kedua ini, Memet dkk,
memainkan melodi secara bersama-sama sebagai penutup membawa kita ke
hutan-hutan, daun-daun basah oleh embun yang menjadi dingin, alam kita yang
semerbak wangi bunga pinus. Tanah negeri kita yang dulu hijau.
Setelah “Siluet”,
lagu selanjutnya adalah “Gravitasi” yaitu sebuah konsep dimana gravitasi tidak
hanya ke bawah tapi bisa juga ke samping, miring, ke atas, atau ke arah mana
saja. Saatnya menciptakan istilah sendiri, menjadi diri sendiri. Hal ini
diutarakan langsung oleh Pak Memet sesaat sebelum Gangsadewa tampil di lagu ketiganya kali ini. Hidup tanpa
gravitasi, manusia akan kehilangan keseimbangan ketika ia hidup berdampingan
dengan alam, akibatnya manusia akan kehilangan tujuan hidupnya sebagai
pemelihara alam di bumi ini. Dibawakan dengan tempo yang sedang, serta perasaan
emosional yang tinggi dari para personilnya, Gangsadewa berusaha menterjemahkan “Gravitasi” ke dalam bentuk
komposisi modern dan unik yang dibalut dengan unsur etnik Nusantara, kemudian
dipadukan secara harmonis dalam pola ritme yang dihasilkan oleh tiupan Flute
dari Pak Memet. Tata cahaya panggung pun ikut berubah seiring perubahan tempo
yang dimainkan oleh Memet dkk.
Selanjutnya adalah
lagu dengan judul “Yuu Joo”, yang berasal dari bahasa Jepang berarti
“Persahabatan”. Komposisi ini bercerita tentang persahabatan budaya antara
Jepang dan Nusantara yang berbeda etnik namun bisa berpadu lewat alunan musik,
seperti yang diungkapkan oleh Pak Memet sendiri sebelum komposisi ini
ditampilkan. Nada musik teralun dengan tempo yang lembut segera membawa
penonton menjadi Hanami ke negeri Sakura pada musim Semi di bulan Maret dengan
bunga-bunga Cherry Blossom yang
bermekaran, sambil menggelar tikar dan minum teh bersama keluarga atau sahabat.
Perpaduan musik Jepang dan Nusantara ini merupakan dua garis budaya yang
bertemu dalam satu titik lebur yang menjadikan komposisi “Yuu Joo” ini sangat
enak untuk dinikmati.
Menjelang penutupan,
Pak Memet memperkenalkan semua personil yang berasal dari genre musik yang
berbeda. Contohnya Yopi yang berasal dari aliran musik reggae, Putri yang
beraliran dangdut dan Heri beraliran rock. Meski berasal dari aliran musik yang
berbeda-beda, namun Pak Memet “merekayasa” dan jadilah “Gangsadewa” sehingga
masing-masing personel dapat memainkan segala jenis instrument musik tanpa
merubah karakter. Selain memperkenalkan personel satu per satu, Pak Memet juga
memperkenalkan setiap alat instrumen. Katanya, dengan perpaduan setiap
instrumen di Gangsadewa, dosa terbesar dalam musik yaitu “fales” tidak
dimasukkan ke dalam “neraka” tetapi justru dimasukkan ke “surga” dalam musik
sehingga terciptalah suatu komposisi yang justru dapat dinikmati.
Pada lagu penutup, penonton diajak “Bermain”,
sesuai judulnya, karena dengan bermainlah sesungguhnya seseorang dapat
menikmati hidupnya. Dengan bermain kita menjadi apa adanya, bermain kita bisa
tahu; kita bisa lepas; kita bisa berlari; kita bisa berteriak; kita bisa puas.
Hanya dengan “Bermain”, kita bisa menikmati belajar.
Penerimaan Naskah Diva Press
Kali ini kabar gembira datang dari Penerbit Diva Press yang menerima naskah-naskah novel religi spesial HUT Diva Press yang ke-14,
Info lebih lengkapnya, silahkan klik link di bawah ini untuk masuk ke blog resmi Diva Press,
http://blogdivapress.com/dvp/2014/10/28/penerimaan-naskah-naskah-religi-spesial-hut-diva-press-ke-14/
Selamat menulis dan pantang menyerah untuk menjadi Penulis...
Info lebih lengkapnya, silahkan klik link di bawah ini untuk masuk ke blog resmi Diva Press,
http://blogdivapress.com/dvp/2014/10/28/penerimaan-naskah-naskah-religi-spesial-hut-diva-press-ke-14/
Selamat menulis dan pantang menyerah untuk menjadi Penulis...
Sabtu, 15 November 2014
Event Menulis Cerita Fiksimini tentang Hujan
Cerpenku masuk lagi di event menulis Fiksimini tentang Hujan..
Ini cerita komedi romantis... :D
Ini cerita komedi romantis... :D
PAYUNG BIRU
oleh Anis Unifah
Awalnya aku
mengesalkan hujan deras hari ini. Mencerca nikmat dari Allah lewat hujan yang
melimpah. Petani pasti bersyukur karena hujan kali ini menyuburkan tanahnya
sehingga padinya akan lebih lebat lagi bijinya. Tetapi, aku yang terdiam sendiri
di teras kelas sangat menyesal, sedih dan hatiku tak karuan. Sementara
teman-teman tengah asyik berjalan di bawah payung menuju pulang sambil
menikmati hujan yang memercik sepatu dan seragam putih abu-abunya, aku menyalahkan
hujan padahal aku sudah tahu Allah merencanakannya.
“Aku lupa
membawa payung,” Inilah kesalahanku. Tetapi aku mengelak kelupaanku sendiri dan
menyalahkan hujan yang tak berbuat dosa. Memang benar lupa itu tidak berdosa,
tetapi aku justru mendosakan lupa karena ia telah menahanku disini bersama
hujan yang menipiskan waktuku disini tanpa berbuat apa-apa. Sia-sia waktuku,
pikirku.
“Diska,”
seseorang memanggilku.
Meskipun aku
tidak mencari sumber suara, aku sudah tahu suara itu milik siapa. Mas Alif
tersenyum kepadaku lalu mengalihkan pandangan ke tetesan hujan di depannya,
tetesan yang turun dari atas genteng. Dialah Ketua OSIS, kakak kelas yang telah
aku sukai sejak aku masuk SMA. Sudah hampir dua tahun aku menyukainya. Aku
masih ingat dengan jelas bagaimana dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri
ketika MOS. Teman-teman begitu iri melihat kedekatanku dengannya, tetapi Mas Alif
menjawab kami sebatas layaknya kakak dan adik. Dia ingin punya adik perempuan
seperti aku karena dia anak tunggal, sedangkan aku menginginkan seorang kakak
lelaki karena aku anak pertama dan dua adikku semuanya perempuan.
“Kamu tidak
bawa payung?” tanyanya.
“Tidak. Padahal
aku sudah dengar berita cuaca kemungkinannya hampir 100 % hari ini akan turun
hujan.”
Mas Alif mengeluarkan
payung biru dari dalam tasnya. “Baiklah, kamu pakai saja Diska. Aku tak apa-apa
tidak pakai payung.”
Sebelum mendengarkan
jawabanku dia berlari pergi.
Tidak mungkin
aku membiarkan orang yang kusukai basah oleh hujan menyebalkan. Dibawah mekarnya
payung, aku berlari mengejarnya. Kulihat dia hampir basah kuyup dan segera
kukejar. Langkahnya terhenti ketika dia merasa ada yang menghalangi siraman
hujan ke tubuhnya. Kuperlihatkan senyum termanis yang kupunya lalu kami
berjalan dibawah payung yang sama. Disampingnya, aku merasa sangat pendek. Tinggi
Mas Alif sekitar 173 cm sedangkan aku hanya 151 cm. Interval jarak yang sangat
jauh, sehingga tinggiku hanya sebatas lengannya saja.
Tanganku
gemetar memegang batang payung. Aku begitu gugup layaknya tampil di panggung yang
ditonton ribuan orang. Ini pertama kalinya berjalan berdua dengannya. Ada sesuatu
yang membuncah didada, seperti kawah yang mendidih. Mungkinkah ini cinta? Namun
sebelum aku menyadarinya, Mas Alif telah lebih dulu menyadarkanku dari lamunan.
Payung yang kupegang justru nyangkut dan menutupi wajahnya. Orang-orang di
jalan tertawa melihat payung menutupi wajah Mas Alif, hahaha.
Karena kejadian
memalukan itu, Mas Alif sekarang yang ganti memegang batang payung. Sangat romantis sekali, pikirku.
Mungkinkah ini akan jadi momen tak terlupakan sepanjang masa remajaku? Meski sekitar
20 cm jarak kami tetapi tetap saja masih membuatku senang karna kami masih berbagi
payung yang sama. Aku senyum-senyum sendiri, tetapi tiba-tiba kepalaku terasa
dingin. Tepi payung tepat berada di atas kepalaku sehingga jatuhnya air dari
atas payung meluncur tepat ke kepalaku, deras seperti air terjun. Mas Alif, yang bener bawa payungnya dong!!
Setelah
kejadian memalukan yang kedua, dia lebih dekat meskipun kami tidak bersentuhan.
Dia tidak ingin berdua-duaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, katanya
yang ketiga adalah syetan. Aku mengiyakan, cukup sekali ini saja kami berdua
berjalan di bawah payung yang sama.
“Ayahku hari
ini ke Surabaya,” katanya tiba-tiba.
Ibunya telah tiada
dan hanya tinggal bersama Ayahnya saja. Ayahnya seorang pengusaha tekstil yang
sering bepergian keluar kota karena itu Mas Alif sering sendirian di rumahnya.
Pikiranku
menerawang jauh sementara rumahku semakin dekat. Jika saja ini yang terakhir aku berjalan berdua saja, dibawah payung
yang sama dengan Mas Alif, maka aku berharap tidak akan pernah sampai rumah. Jika
saja rumahku sedikit lebih jauh lagi. Jika saja aku tidak pernah sampai
rumahku, tapi itu mustahil sekali kan?
“Jika saja…”
Mas Alif mengatakan sesuatu seolah bisa membaca pikiranku, ataukah kami bisa
bertelepati?
Hatiku terasa
berdegup-degup, kawah yang tadinya telah dingin kini mendidih kembali bahkan
lebih panas dari sebelumnya.
“Jika saja
tidak pernah sampai ke rumahku…” dia melanjutkan kata-katanya semakin membuatku
penasaran, benarkah kami punya pikiran yang sama?
“Di rumahku…
aku baru ingat kalau ada jemuran …” lanjutnya.
APAAA? Jadi tidak romantis lagi.
Yogyakarta, 10 Oktober 2014
Event Menulis FTS "Fobia"
Alhamdulillah jadi 20 kontributor, yaah meskipun tidak menang.. never mind..
SCARY BAMBOO
oleh Anis Unifah
Ini cerita yang
sudah lama sekali, ketika aku masih duduk di bangku SMA di Kediri. Fobia yang
aneh, menurutku. Jika kebanyakan orang punya fobia terhadap gelap, ular, kecoa,
atau apapun, tapi fobia ini adalah “fobia terhadap bambu”. Setiap melihat bambu
atau benda yang terbuat dari bambu maka penderita fobia ini akan ketakutan dan berusaha
menghindarinya. Bukan aku yang punya fobia seperti itu tetapi Ibu dari teman
SMA-ku. Namanya Bu Ratna. Beliau asli orang Kediri.
Pertama kali
aku mengetahui fobia yang diderita Bu Ratna, yakni ketika aku bermain ke rumah
temanku. Beliau menyuguhkan teh untukku dan mengajakku ngobrol, bertanya
tentang rumahku, sedangkan temanku sedang ganti pakaian di dalam kamarnya. Saat
asyik ngobrol, tiba-tiba mata beliau tertuju pada gelang yang kupakai di tangan
kiriku. Sebuah gelang yang terbuat dari bambu kemudian dicat warna coklat.
Entah, tiba-tiba saja keringat Bu Ratna mulai bercucuran, tubuhnya juga
gemetar. Tanpa lagi meneruskan kata-kata, beliau segera masuk ke dalam dengan
buru-buru. Aku merasa aneh melihatnya waktu itu, jangan-jangan ibu dari temanku
ini punya penyakit jiwa atau apa, sedikit “gila”? Aku takut sendiri.
Temanku kembali
menemuiku di ruang tamu. Demi menghormatinya, aku tidak menanyakannya kepada temanku
itu perihal kejadian yang baru saja aku lihat tentang Ibunya. Kami asyik
mengerjakan mengerjakan PR Matematika. Setelah pertemuan kami yang pertama,
sampa aku pamit untuk pulang, Bu Ratna tidak keluar dan menyalamiku. Tapi aku
cuek-cuek saja, tidak terlalu memikirkan fobia aneh itu. UPS BUKAN, justru saat
itu aku belum tahu bahwa itu adalah fobia yang diderita Bu Ratna.
Dua hari
setelah kejadian itu, aku dan temanku itu pergi jalan-jalan ke Pasar Bandar
Kediri, dekat dengan sekolahku. Dia memintaku menemaninya membeli kemoceng.
Katanya kemoceng di rumahnya sudah rusak bulu-bulunya jadi Ibunya memintanya
untuk membeli yang baru. Memenuhi ajakannya, kami berdua ke Pasar Bandar untuk
mencari kemoceng.
Disana, temanku
sedang memilih-milih kemoceng. Ada kemoceng yang bagus menurutku, bukan karena
warnanya tetapi karena aku lebih suka gagang kemoceng yang terbuat dari bambu
lebih kuat daripada gagang kemoceng yang terbuat dari besi. Aku mengambil
kemoceng bergagang bambu itu dan menyodorkannya kepada temanku supaya
dipilihnya.
“Jangan yang
ini.” jawabnya lalu memilih-milih lagi kemoceng yang lain.
Dia sibuk
mengamati kemoceng satu per satu lalu memilih kemoceng bergagang besi dengan
bulu ayam warna coklat.
“Kalau gagang
besi sepertinya nggak terlalu kuat,
ini lho yang awet.” Saranku
menyodorkan lagi kemoceng lain bergagang bambu.
“Ibuku takut
sama bambu.” Jawabnya singkat.
APAA??? Aku
diam sejenak, memutar kembali kaset yang terpasang di otakku. Jadi waktu itu
ketika melihat gelang yang kupakai, sebenarnya Ibunya bukan orang gila, tetapi
punya fobia terhadap bambu, lalu kutanya, “Kok bisa takut sama bambu?”
“Iya, waktu
kecil kalau Ibuku berbuat salah, selalu dipukul pakai bambu sama Kakekku.
Karena seringnya dipukul dan kenangan-kenangan waktu kecil kan tetap melekat sampai dewasa. Makanya Ibuku takut sama bambu. Di
rumah tidak ada peralatan yang terbuat dari bambu. Bahkan Ibuku juga pernah
pingsan ketika melihat bambu yang begitu banyak.” Tutur temanku bercerita.
Aku
mengangguk-angguk. Jadi ada juga fobia seperti itu. Setelah aku lulus SMA, aku
jarang lagi bertukar kabar dengan temanku itu sehingga sampai saat ini aku
tidak tau apakah Ibunya sudah sembuh dari fobianya terhadap bambu atau belum.
Memang, kejadian yang terjadi pada masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap
masa-masa perkembangan setelahnya. Jadi, kita para calon orang tua harus
berhati-hati terhadap tindakan kita kepada anak kita nantinya, supaya tidak
sampai membuat trauma atau fobia yang berakibat fatal kepada anak kita, karena
hal itu kerap tidak disadari oleh orang tua. Niatnya memang baik, tapi
pendekatan yang dipakai orang tua yang kurang tepat.
Juara 2 Lomba Menulis "Pahlawan Inspirasiku"
Diikut sertakan dalam Lomba "Pahlawan Inspirasiku", Teater Petass
“THE GRAND
OLD MAN”
(MENELISIK KEHIDUPAN H. AGUS SALIM)
oleh Anis Unifah
Sejujurnya
saya mendengar seorang teman bercerita bahwa dia sangat mengagumi Haji Agus
Salim. Saya tanya apa alasannya, maka dia pun bercerita tentang kejeniusan Haji
Agus Salim menguasai 9 bahasa dan pernah meniupkan asap cerutu di depan
Pangeran Philip (Suami Ratu Elizabeth) di Belanda. Saya juga pernah mendengar
cerita itu sebelumnya dari tutur Dosen saya, namun saya menjadi lebih tertarik
sekarang dan membaca tentang kehidupan Haji Agus Salim lebih dalam.
Kata-kata di
Harian Neraca yang ditulisnya pada tanggal 25 September 1917 yang menyatakan
"dalam negeri kita, janganlah kita
yang menumpang" membuat kita patut untuk diam sejenak berpikir. Tidak
hanya dalam masa perjuangan untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia dahulu
kala, tetapi sekarang kita pun harus merenungkan kata-kata tersebut. Kita
memang tidak dalam masa penjajahan Belanda ataupun Jepang, tapi kebudayaan kita
yang sedang dijajah. Pemuda/i Indonesia telah kehilangan budayanya sendiri tertindas
oleh budaya asing, daripada positifnya malah lebih banyak negatifnya yang
masuk, seperti budaya berpakaian yang seronok, seks bebas, narkoba, dan
lain-lain. Sedangkan budaya kita sendiri tidak pernah dipelajarinya, seperti budaya
wayang kulit, tari tradisional, musik tradisional dan budaya Indonesia lain
yang hampir tenggelam karena tidak ada penerusnya. Sungguh “miris”.
Menelisik
ke tengah-tengah kehidupan Haji Agus Salim sesungguhnya kita belajar tentang
sejarah Indonesia dan perjuangan tokoh-tokohnya. Seperti gelar "Orang Tua
Besar" (The Grand Old Man) yang mulai
disandang oleh Haji agus Salim sekitar tahun 1946-1950 karena ia laksana
bintang cemerlang dalam pergolakan politik. Gelar itu akan tetap melekat pada
diri seseorang karena jasanya. Kalau kita sungguh-sungguh dalam mempelajari
sesuatu kemudian mendalaminya, maka pasti akan ada penghargaan meskipun tidak
bersifat materi. Dan yang lebih penting lagi, materi itu bisa hilang dan musnah
sedangkan immateri itu abadi.
Ditambah
lagi tulisannya tentang “polisi dan rakyat” yang dimuat di harian Fadjar Asia
tanggal 29 November 1927 yang isinya: "sikap
polisi terhadap rakyat, istimewa keganasan dan kebuasan polisi dalam memeriksa
orang yang kena dakwa atau yang hanya kena sangka-sangka rupanya belum
berubah-ubah. Hampir tiap hari ada pesakitan di depan landraad yang mencabut
"pengakuan" di depan polisi yang lahir bukan karena betul kejadian
melainkan hanya karena kekerasan siksa." Ternyata memang dari dulu ya,
jadi tidak kaget kalau begitu.
Pernah suatu
hari di tahun 2013, saya mengantar seorang teman untuk mengurus kecelakaan yang
dia alami sehingga mengakibatkan motornya rusak. Untuk mengurus jasa asuransi,
dia harus minta surat pernyataan dari kepolisian yang menyatakan bahwa dia
benar-benar kecelakaan. Kata si polisi, demi untuk uang rokok saja harus bayar
1 juta kepada si polisi karena telah mengurus surat pernyataan kecelakaannya ke
pihak asuransi. Padahal uang asuransi yang dia dapat hanya 6 juta, sedangkan
untuk biaya rumah sakit yang masih hutang itu pas 6 juta. Terus uang 1 juta
dapat darimana? Bukannya tugas polisi itu membantu rakyat? Surat pernyataan
kalau ngeprint di rental print saja mungkin cuma habis 500 perak. Sungguh lucu
negeri ini.
Ada tulisan
mengenai Haji Agus Salim yang menarik lagi, “Meskipun seorang poliglot yang mahir banyak bahasa, namun Agus Salim
justru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang
Dewan Rakyat (Volksraad), sehingga menggegerkan Belanda. Lawan berundingnya
dari pihak Belanda mengakui, "Orang tua yang sangat pandai ini seorang
jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam
paling sedikit sembilan bahasa, dan mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu
selama hidupnya melarat," demikian Prof Schermerhorn, dalam catatan
hariannya, 14 Oktober 1946.”
“Melarat”
adalah kata yang bermakna rendah, tetapi Haji Agus Salim tidak pernah minder.
Menurut beliau, Islam menghendaki terbinanya masyarakat adil dan makmur yang
berpangkal pada persamaan, tetapi juga kesempatan untuk maju bagi mereka yang
berusaha. Suatu masyarakat yang juga tolong menolong dan menjauhkan diri dari
eksploitasi sesama manusia. Dari kata-kata yang diucapkan oleh beliau, maka
dapat dimaknai bahwa biarpun melarat asalkan tidak mengeksploitasi sesama
manusia itu mulia. Menurut saya, kaya tetapi korupsi! Itu sebenarnya yang “melarat”.
Seperti
yang saya singgung di paragraf pertama tentang Haji Agus Salim yang meniupkan
asap cerutunya di depan Pangeran Philip. “Haji
Agus Salim memang tidak pernah minder berhadapan dengan tokoh asing. Ketika
mewakili Presiden Soekarno menghadiri upacara penobatan Ratu Inggris Elisabeth
tahun 1953, ia agak kesal dengan suami Ratu (Pangeran Philip) yang kurang
perhatian terhadap tamu asing yang datang dari negeri-negeri jauh. Agus Salim
lalu menghampiri dan mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung
Pangeran. "Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini?" Dengan ragu-ragu
menghirup rokok itu, Pangeran mengakui tidak mengenal aroma tersebut. Agus
Salim pun dengan tersenyum, lalu berujar, "Itulah sebabnya 300 atau 400
tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya."
Maka suasana pun menjadi cair, Sang Pangeran mulai ramah meladeni tamunya.”
Dari cerita
di atas, kita diajarkan untuk tidak minder kepada siapa saja meskipun kepada
orang yang pangkatnya lebih tinggi. Manusia itu kan sama, kita bebas untuk
bersuara. Di hadapan Tuhan, manusia itu sama derajatnya, tidak ada yang
berbeda. Semua menangis ketika lahir dan akan mati suatu saat nanti. Yang
membedakan manusia dengan manusia yang lainnya hanya iman dan ilmunya.
Jika kita menilik pemuda Indonesia saat ini, mungkin kita boleh mengatakan “miris”. Betapa tidak, sekolah hanya dianggap rutinitas yang harus dilakukan setiap hari, bukan sebagai tempat untuk belajar sungguh-sungguh. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, ada yang mengumandangkan “mumpung masih sekolah” jadi mereka menjadikan sekolah sebagai alasan tawuran dan kenakalan remaja yang lain. Mungkin hanya beberapa pemuda/i yang bisa dihitung dengan jari yang benar-benar sungguh-sungguh belajar demi kemajuan bangsa Indonesia. Kenapa tidak menjadikan alasan “Mumpung masih muda” sebagai wadah untuk kreatif dan inovatif? Mumpung masih muda, ayo kita berkreativitas!
Jika kita menilik pemuda Indonesia saat ini, mungkin kita boleh mengatakan “miris”. Betapa tidak, sekolah hanya dianggap rutinitas yang harus dilakukan setiap hari, bukan sebagai tempat untuk belajar sungguh-sungguh. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, ada yang mengumandangkan “mumpung masih sekolah” jadi mereka menjadikan sekolah sebagai alasan tawuran dan kenakalan remaja yang lain. Mungkin hanya beberapa pemuda/i yang bisa dihitung dengan jari yang benar-benar sungguh-sungguh belajar demi kemajuan bangsa Indonesia. Kenapa tidak menjadikan alasan “Mumpung masih muda” sebagai wadah untuk kreatif dan inovatif? Mumpung masih muda, ayo kita berkreativitas!
50 Nominator Cerpen Travel n Love
Cerpenku masuk dalam 50 Nominator Lomba Cerpen "Travel & Love" yang diadakan Padmagz Magazine. Pemenangnya masih belum ditentukan.... Sabar.. sabar..!!!
COLORS OF SECRET
GARDEN
oleh Anis Unifah
Suatu hari
teramat dingin, di dalam hujan yang deras. Pintu ruang seni berdecit, rasa
hambar kegelisahan mencekik. Aku berdiri seorang diri. Lukisan-lukisan yang
terapung di dasar dinding begitu tenang. Angin mulai menyusup lewat jendela
yang mengembun oleh percikan air hujan. Diluar orang-orang berlalu lalang
mencari tempat berteduh. Namun ruangan dimana aku berdiri ini bukan tempat
berteduh, ini adalah ruang bersembunyi dari orang-orang yang tidak suka akan
kemenangan yang aku dapatkan. Aku menyembunyikan ketakutanku disini bersama
hatiku yang lemah dan hampir retak oleh ejekan dan hinaan, oleh rasa
ketidakpercayaan orang-orang. Kehidupan yang berwarna tertarik dalam mimpi yang
menghitam. Melucutiku dalam kesepian. Sekali lagi aku merintih dalam ketakutan
dan kegelapan.
“Dia seorang
plagiat!”
“Tidak mungkin
dia menang dengan kemampuan melukisnya!”
“Dia bukan
pemenang!”
“Dia tidak bisa
melukis!”
Orang-orang di
sekolah protes, aku tidak layak jadi pemenang di kompetisi melukis tahun ini.
Tapi nyatanya aku memenangkan lomba dan mengalahkan 199 orang peserta yang
lain. Joan, siswa paling hebat dalam melukis yang menyebut dirinya ‘Iblis
pembunuh kanvas’ berkoar-koar bahwa aku memplagiat lukisan ‘Kebun Rahasia’-nya.
Ia tidak terima dan meluncurkan ultimatum kejam terhadap diriku. Jadilah
anak-anak lain mengejarku. Disinilah aku bersembunyi bersama sebuah lukisan ‘Kebun
Rahasia’ yang kugores dengan kanvas peninggalan Ayahku. Aku meringkuk dalam
kegelapan sambil mendekap kuas dan kanvas. Ujung jariku mulai terasa nyeri, kulihat
sekejap tadi seberkas cahaya menyinari. Karena dalam kegelapan ada cahaya. Kuas
yang aku bawa kemana-mana tiba-tiba menyala seperti sebuah lilin dengan cahaya
putih keemasan.
Jikalau sekarang
tamat riwayatku walaupun harus demikian, tak apa-apa. Kupikir begitu, tak ada
yang aku takutkan. Sementara aku khawatir tentang ilusi tercermin didalam
cermin, di beberapa titik aku mengambil kecepatan setelah diberitahu ''Kau bisa pergi kemanapun yang kau
inginkan''. Suara yang familiar dan sering kudengar ketika aku masih kecil,
dibawah selimut hangat sambil mendengarkan dongeng sebelum tidur lelap.
Tiba-tiba semua
penunjuk arah berubah menjadi abu-abu dibawah keinginanku yang telah matang. Kerlip
api menarikku ke dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang berubah menjadi sebuah
kotak yang berlubang seperti pintu terbuka. Dari tempatku yang gelap dan dingin
hujan di ruang seni, aku berpindah ke sebuah tempat yang terang dan cerah
bercahaya. Sebelum aku menemukan diriku dalam kesadaran, aku lebih dulu
menemukan kuasku kembali dalam genggaman tangan. Apakah ujung kuasku mengering?
Cahaya itu memudar.
Jika aku dapat
melihat langit biru, membuka payung biru. Bagaimana tentang hal itu? Langit
yang aku lihat sekarang lebih cerah dari biasanya, bagai sehelai kain kanvas
berwarna biru terang, dengan goresan-goresan putih sebagai awannya dan satu
titik terang berwarna kuning bersinar sebagai matahari. Angin sepoi-sepoi yang
hangat dan lembut seakan meniupkan lagu-lagu di daun pepohonan. Apakah ini
surga ataukah aku berada di tempat yang lebih indah dari surga? Aku tak tau
dimana kecuali aku menemukan diriku seorang diri lagi. Kanvas milikku, apa kau
mengibarkan bendera putih hanya saat kau sudah menyerah? Memberi isyarat sekarang
dengan merah murni seperti matador. Mawar yang berwarna merah, aku melihatnya
di dalam lukisanku. Ah benar, apakah aku sekarang berada dalam lukisan ‘Kebun
Rahasia’? Semua yang aku lihat disini tampak persis seperti yang aku lukis
dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’-ku.
Warna memudar
dibawah lampu neon. Aku bertemu dengan
seseorang pada papan catur hitam-putih. Melihat matahari terbenam orange
disisinya. Itu baik, namun semakin sedikit kata yang baik, apakah seseorang
memakai hitam hanya ketika berkabung? Aku rasa aku mengenali orang berpakaian
itu, lebih dekat dan lebih dekat lagi. Apakah aku telah mati sehingga bisa
melihat orang itu lagi disini?
“Ayah,” Aku memanggilnya
lirih dengan kerinduan dalam.
“Marisa,” dia
memaggilku dengan mesra lalu memelukku.
Aku tak
percaya. Jikalau aku yang mati atau Ayahku yang telah mati, dia tidak akan bisa
menyentuhku dan aku tidak bisa menyentuhnya. Tetapi apa ini? Aku masih bisa
menyentuh dan merasakan hangat pelukannya. Kami masih hidup tetapi aku tidak
tau dimana ini sekarang.
“Akhirnya kau
tahu cara bagaimana menggunakan kuas itu,” kata Ayahku dengan wajah yang
bahagia.
Dalam
kebingunganku, rasa tidak percayaku, berada di dunia lain tak kukenali, bertemu
dengan seseorang yang telah menghilang dan kukira telah mati. Aku semakin tegas
membisikkan bahwa aku berada di dunia mimpi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Apakah
aku telah tertidur di ruang seni ketika aku bersembunyi sehingga aku bermimpi
seperti sekarang ini. Tetapi ini terasa seperti nyata. Aku bertanya pada
Ayahku, “Apa maksud Ayah?”
“Kuas itulah
penyebabnya,” Ayah memandang sebatang kuas yang aku genggam sejak tadi.
Kuas inilah
yang melukis, bukan tanganku. Aku memang baru pertama kali menggunakan kuas itu
untuk melukis yaitu lukisan dimana sekarang aku hidup di dalamnya sebagai
makhluk hidup yang tinggal dalam lukisan. Ayahku menceritakan kejadian yang
sesungguhnya ketika ia pertama kali menemukan kuas itu di sebuah toko alat-alat
lukis. Kuas itu dijatuhkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan orang itu
menghilang entah kemana ketika Ayah akan mengembalikan kuas itu. Lenyap seperti
tertelan oleh bumi. Jika memang benar apa yang dikatakan Ayahku, maka itu
berarti bisa saja kami akan berada dalam lukisan ini selamanya.
Aku penasaran
dimana ayahku tinggal disini dan apa yang dia makan. Ayahku menjawab bahwa di
tempat ini dia tidak merasakan lapar atau dahaga dan juga tidak mengantuk. Aku
sangat penasaran sebenarnya tempat macam apakah ini. Ayahku bilang ingin
memperlihatkanku sebuah tempat yang indah. Katanya itu adalah tempat yang
sangat ia sukai disini. Aku mengikuti langkah kaki Ayahku tanpa ragu.
Kami melewati
jalan di kebun ini dan melihat banyak bunga yang indah di sepanjang jalan. Ada
bunga bleeding heart berwarna merah
muda, putih dan violet. Ada banyak sekali bunga anggrek seperti yang pernah aku
lihat di Taman ‘Singapore Botanic Garden’. Bunga Akasia berwarna merah muda,
putih dan kuning tumbuh bermekaran bersama dengan bunga Anyelir, Aster dan
Daisy juga Lily yang berwarna putih. Bahkan disini aku tidak alergi pada bunga
Tulip. Dunia macam apakah ini?
Di
tengah-tengah kebun ada air mancur seperti air mancur yang ada di Descanso Gardens California di San
Rafael Hill. Kebun Rahasia ini seperti yang ada dalam impian, perpaduan dari
tiga taman yang indah; Botanic Garden, Descanso
Gardens dan Butchart Gardens di Columbia. Dari kejauhan aku
bisa melihat gunung yang tinggi menjulang seperti Gunung Everest di
Cina. Aku menyesal karena aku hanya mendaki gunung sekali yaitu di Gunung Bromo.
Aku bahkan punya keinginan mendaki ke Gunung Everest suatu saat nanti.
“Ini tempat
yang ingin Ayah tunjukkan padamu,” seru Ayah.
Tibalah kami di
sebuah pantai yang menakjubkan indahnya. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan
kata-kata, kecuali aku hanya ingin berteriak ‘HIDDEN PARADISE’. Inilah surga
yang tersembunyi selama ini. Dulu waktu kecil aku pernah pergi ke pantai yang
pasirnya berwarna putih seperti pantai Adonara di Nusa Tenggara Timur, pantai
Sawarna di Lebak, Banten atau pantai Pok Tunggal yang ada di Yogyakarta. Namun
aku belum pernah pergi ke pantai yang dipenuhi bebatuan hijau seperti di Pantai
Penggajawa atau pantai yang pasirnya berwarna pink seperti di Pink Beach
Flores. Namun pantai yang ada di depanku ini merupakan perpaduan kedua pantai
yang ingin aku kunjungi. Ada bebatuan hijau yang aku injak di sela-sela pasir
putih bersih dan lembut. Dari jauh, pasir di tepi pantai hanyalah pasir putih
biasa. Ayah menyuruhku datang ke tepiannya dan menunggu sampai ombak menjilat
tepian pasir. Warna pink tiba-tiba terlihat lebih pekat dibanding pasir yang
masih kering. Aku hanya berdecak kagum dan hatiku serasa meleleh menikati
pemandangan yang memikat ini.
Entah datang
dari mana, pantai yang sepi dan cantik seperti pantai Gondang Lombok Utara
tiba-tiba berubah menjadi ramai. Orang-orang tiba-tiba berlalu lalang sambil
tersenyum dengan ramah. Berjalan lalu melewatiku, berbagi hangat bahagia
diantara kesejukan pantai. Namun diriku hanya berdiri di samping Ayahku sambil
membalas senyuman mereka dengan senyuman terlembut.
“Darimana
datangnya orang-orang itu Ayah?” tanyaku.
“Mungkin mereka
orang-orang terdahulu yang menemukan kuas itu. Orang yang tinggal disini tidak pernah
tua meskipun sudah bertahun-tahun. Lihatlah Ayah.” Katanya seolah menunjukkan
bahwa kulit dan wajahnya masih muda.
Aku
memperhatikannya. Memang benar kata Ayahku. Dulu waktu Ayah menghilang
kira-kira umurku masih 7 tahun dan sekarang aku sudah berumur 17 tahun.
Seharusnya 10 tahun sudah membuat Ayahku berumur 40-an tetapi Ayahku masih
tampak muda, masih sama ketika Ayah menghilang. Aku pernah dengar bahwa di
surga tidak ada yang menjadi tua, semua tetap muda. Benarkah ini surga?
“Mungkin mereka
terlalu asyik berada di tempat seperti ini dan tidak ingin kembali ke dunia
nyata.” Kata Ayahku. “Setiap sore mereka pergi ke pantai ini dan melihat
matahari terbenam.”
“Seharusnya
mereka kembali, Ayah.”
“Untuk apa
harus kembali jika disini tidak merasakan kelaparan, tidak haus, tidak
mengantuk, tidak lelah, tidak tua dan bahagia seperti berada dalam surga.”
Jawab Ayahku sambil memandangi matahari tenggelam masuk ke garis lurus berwarna
merah keemasan.
Aku berpikir
sejenak. Memang tempat ini begitu indah dan aku tidak ingin meninggalkannya.
Sebuah surga indah yang tidak pernah terkira panoramanya yang mempesona,
menyejukkan mata dan menghilangkan kesedihan. Namun ini dunia yang tidak
dikenal dan aku ingin kembali ke dunia nyata betapapun keindahannya disini.
“Kita harus
kembali, Ayah. Kita harus menemukan jalan pulang.” Ajakku dengan lembut.
Tapi Ayah sama
sekali tidak meleleh meski aku merayunya dengan rajukan anak kecil kepada
Ayahnya.
“Tempat ini
terlalu indah untuk ditinggalkan, Marisa. Tempat ini surga yang tidak bisa kita
temukan di dunia nyata.” Serunya lalu ia menggumam dengan sedih, “Kalau saja
aku bisa mengajak Mayu kesini.”
Aku juga
berpikiran yang sama seperti Ayah. Andai saja aku bisa mengajak Ibu masuk ke
dunia ini lalu keluarga kami bersatu kembali dalam kebahagiaan di surga yang
indah ini. Betapa sangat bahagianya. Saat pagi melihat matahari terbit dan
memotong tanaman yang telah tinggi di kebun kemudian berjalan di air mancur dan
pantai yang berwarna pink dengan bebatuan hijau yang indah. Pikiranku terkudeta
oleh keindahan yang menakjubkan ini. Haruskah kami hidup di surga yang tidak
nyata ini?
“Tidak, Ayah.
Kita harus kembali. Kita bisa melukis dengan kuas ini lalu pergi ke tempat yang
kita inginkan seperti yang pernah Ayah katakan padaku.” Kataku sambil
memandangnya dengan lekat. “Aku tidak pernah merasa di surga jika aku tidak
bisa berkumpul dengan keluargaku, dengan Ayah dan Ibu. Itulah surga yang paling
indah bagiku. Ibu juga pasti akan khawatir ketika aku tidak kembali, Ayah. Kita
bisa pergi lain kali kesini, dengan Ibu juga. Bukankah menyenangkan saat kita
bisa pergi bersama?”
Aku menatapnya
dengan lembut. Hati Ayah meleleh dan ia memelukku dengan hangat seperti saat
dia selesai membacakan dongeng tempo dulu. Aku tersenyum.
“Baiklah. Kita
kembali lalu melukis surga indah lainnya sehingga kita bisa pergi
bersama-sama.” Kata Ayah. “Kita harus kembali ke Kebun Rahasia lalu melukis
tempat dimana kamu hilang pertama kali dengan kuas ini.”
Aku mengangguk
lega. Jadi, aku harus melukis ruang seni dimana lukisan ‘Kebun Rahasia’ itu
berada, tempat dimana aku ditelan ke dalam lukisan ini. Kami berjalan menuju
kebun sambil menceritakan rencana kemana lagi kita akan pergi dengan kuas ini. Tetapi
setelah aku pertimbangkan lagi, aku tidak membutuhkan kuas ini lagi ketika aku
telah kembali ke dunia nyata.
Aku ingin pergi
ke pantai Gondang yang ada di Lombok Utara bersama-sama dengan Ayah dan Ibu,
mengalami perjalanan yang normal. Perjalanan dari Mataram menuju Pantai Gondang
yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam, dengan kecepatan mobil rata-rata 60 km/jam.
Sepanjang jalan, bisa melihat pemandangan indah sawah-sawah milik petani yang
sebagian sedang dipanen. Lalu, dapat melihat monyet-monyet kecil saat memasuki
Puncak Pusuk. Hawa sejuk yang mulai terasa dan banyak monyet-monyet kecil
berbaris di sisi jalan menunggu wisatawan melemparkan makanan kecil.
Aku seperti
Rudy Tabootie bersama Snap di film kartun ChalkZona
atau ‘Zona Kapur’ yang menggambar dengan kapur lalu semua yang digambarnya
menjadi hidup. Perasaan bahagia karena memikirkannya saja telah melenturkan
tanganku ketika melukis ruang seni sekolah di kain sobekan lengan seragam
putihku. Aku ingin segera kembali dan mewujudkan rencana jalan-jalan bersama
Ayah dan Ibuku. Lalu sebuah cahaya bersinar memancar. Tidak hanya putih tetapi
berwarna-warni seperti pelangi. Warna-warni itu meluas dan memenuhi kebun ini
sehingga kami masuk dalam lingkaran cahaya yang menenangkan. Karena terlalu
terang, aku tidak bisa melihat apa-apa. Cahaya warna-warni itu memudar dan
tiba-tiba berubah menjadi warna gelap dan suara siraman hujan terdengar dibalik
warna gelap tiba-tiba. Aku telah kembali di dunia nyata dan di sampingku Ayahku
tersenyum padaku.
“Ayo kita
pulang,” ajak Ayahku.
Aku mengangguk
senang, “Ayo kita jalan-jalan setelah itu.” Jawabku.
Kami berjalan
pulang berangkulan.
Yogyakarta,
29 Agustus 2014
Sebuah Cerpen
Dimuat di Koran Minggu Pagi (KR Group) Yogyakarta,
edisi 25 TH 67
edisi 25 TH 67
SEBUAH PENOLAKAN
oleh Anis Unifah
Aku membuka mataku dan terenyak. Perasaanku semakin tak karuan. Sementara
Alby masih asyik menantikan saat-saat terakhir mentari yang tengah lenyap
ditelan kegelapan. Sesaat pikirku melayang. Alangkah indahnya apa yang kulihat
di depan mataku. Bukan lautan, tapi wajah Alby yang tenang. Jika dia menggilai
lautan, maka aku mengaguminya dengan kegilaan yang berkobar, laksana orang yang
berlari dari penjara kemudian mencicipi lezatnya udara kebebasan setelah lama
mendekam dalam kesempitan.
Kulihat burung camar terbang diantara pantai dan air dari muara ke laut,
dari langit ke bumi. Tapi, dimanakah letak keanehannya? Di sini! Ya, di dada
yang penuh kefasikan, segala hal yang jauh dan berlawanan terkumpul bagaikan
empat musim. Mungkinkah aku berdiri di hadapannya tanpa malu, kemudian aku
katakan kepadanya apakah yang memikat di sini, di jiwa ini?
Rasanya tidak mungkin. Aku dan Alby tidak memiliki persamaan sedikitpun.
Aku habiskan waktuku hanya dengan mengejar kesenangan. Jiwaku tumbuh di tengah-tengah
suasana pesta dan hura-hura. Alunan musiklah yang mengalirkan darahku. Tarian
dan dansa adalah gerak langkahku. Seolah kesenangan dan namaku adalah dua hal
yang tak dapat dipisahkan.
Adapun Alby tumbuh dalam studinya yang menjemukan. Jika hidupku adalah
mengejar berbagai kesenangan, yang dikejarnya adalah kesuksesan dalam belajar.
Terkadang hal itu membuatku tertawa sekaligus tak percaya, karena aku tidak
pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa hiburan, berleha-leha
dan bermalas-malasan.
Itulah Alby, seolah segala hiburannya telah terampas oleh buku-buku dan
shalat. Sungguh, aku merasa heran dengan adat baru itu. Sebuah adat yang dia
coba masukkan ke dalam rumah kami yang mabuk dalam kesenangan duniawi. Dia
adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh di tengah keluargaku yang malas dan
selalu berleha-leha.
Aku berkata kepadanya tentang kenikmatan, laut, musik dan cinta. Dan dia
berbicara kepadaku tentang kesadaran bersama, revolusi, agama, politik,
kezaliman dan keadilan sosial. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dengan gaya
bahasa yang sulit aku cerna, dengan istilah-istilah yang sulit aku lafalkan.
Aku mulai memikirkan kemustahilan hidup bersamanya di tengah dunia kami yang
tidak harmonis dan saling bertentangan. Nafsu amarahku membisikkan padaku untuk
menghinakannya dalam kehinaan yang besar. Betapa mudahnya bagiku untuk
menghinakan manusia yang hidup di rumah kami secara baik. Itulah takdir anak
pungut.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Dunia Alby ternyata telah memikatku, aku
memang tidak memahami dunianya yang penuh konflik, tapi aku mulai tertular
dengan kebiasan-kebiasaannya, seperti membaca buku.
***
Gelap mulai merangsak datang. Saat itu jantungku berdetak kencang.
Lidahku kelu untuk mengutarakan yang sebenarnya. Mungkin ini saatnya bagiku
untuk mengakui semuanya. Jika tidak, sampai kapan akan kupendam perasaan ini
padanya?
Bagaikan didorong oleh sesuatu yang bergelombang besar bak sunami, aku
mengungkapkan perasaanku padanya. Aku bilang aku mencintainya, bukan sebagai
saudara tetapi sebagai dua insan manusia. Tetapi Alby hanya tertawa mendengar
pengakuanku.
“Kenapa kau tertawa, Alby?!”
“Tidak Maisa. Mustahil bagi kita. Ini
tidak benar, Maisa. Kita adalah saudara,” ujarnya untuk menegaskan. Sudahlah
Maisa, buanglah jauh-jauh perasaan itu. Apa kau tak sadar bahwa kita adalah
saudara? Jangan kau rusak tali persaudaraan kita,” katanya lirih mencoba
menenangkanku.
“Bukan. Kau bukan saudaraku. Kau bukan saudaraku..”
Mendengar kekukuhanku, dia berbalik dan perlahan meninggalkanku. Dia
menolak cintaku. Sungguh, ini merupakan penghinaan besar bagiku. Ini adalah
pengalaman terpahit yang pernah kualami. Bagaimana bisa seorang anak yang
dipungut keluargaku menolak cinta anak seseorang yang telah memungutnya?
Langit semakin pekat, tapi cucuran air mata tak kunjung reda. Di tengah
sedu sedan, terlintas begitu saja di pikiranku keinginan untuk membalas
perlakuan Alby. Entah dari mana pikiran seperti itu datang, tapi yang jelas
penolakannya telah menyulut kedengkian yang mendalam.
Dengan hati geram aku melangkah pulang. Semilir angin dingin kala itu
tidak mampu meredakan amarah yang seolah membakar sekujur tubuhku dan
mendidihkan darahku. Meskipun niat untuk membalas dendam hanyalah sebuah
pemikiran yang terlintas begitu saja, tapi sungguh aku akan melakukannya.
Sambil berderai air mata, aku masuk ke dalam rumah dan sedikit berlari menuju
kamar. Ketika ditanya, aku menjawab dengan terbata bahwa Alby ingin
memperkosaku. Sejak lama ia tertarik padaku, namun aku menolaknya. Ayah geram, Ibu
pun terperanjat kaget bukan kepalang mendengarkan pengakuanku yang bagai petir
di siang hari.
Ayahku semakin habis kesabaran ketika Alby datang berwajah polos tak tahu
apa yang terjadi. Seketika dia tampar Alby sekuat tenaga, Alby pun terhuyung
beberapa langkah akibat tamparan hebat yang mendarat di wajahnya. Masih tidak mengaku,
Ayahku mengangkat vas bunga keramik dan dipukulkannya hingga pecah tepat
mengenai kepala Alby. Alby tersungkur di lantai kamar. Darah segar mengalir
membasahi rambutnya yang hitam, ia mengerang kesakitan. Sementara, di dalam
hati aku tertawa riang karena merasa dendamku sudah terbayarkan.
“Jangan beri dia ampun Ayah, sebenarnya telah lama dia berusaha untuk
memperkosaku!” lanjutku berusaha meyakinkan. Pengakuan palsuku itu membuat Ayah
semakin geram dan Ayah menendang perut Alby dengan keras hingga ia jatuh
tersungkur setelah membentur dinding.
Alby merintih. Perlahan dia berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit.
Dalam keadaan tak berdaya, dia menatapku dengan linangan air mata. Dia hendak mengatakan
sesuatu, tetapi suara Ayahku mendahuluinya.
“Keluar dari rumah ini manusia terkutuk! Pergi dan jangan pernah kembali!
Kau tidak pantas untuk Maisa!” teriak Ayahku penuh amarah.
Alby menatapku dengan pandangan yang melukiskan luka hatinya yang mendalam.
Saat itu, aku merasa puas. Rasa dendam dan kecewaku kepadanya sedikit terobati.
“Sekarang juga aku akan pergi, Paman. Aku akan pergi dan takkan pernah
kembali,” ucapnya terputus-putus.
Dengan langkah gontai Alby keluar dari kamar, sambil mengusap keningnya
yang berlumuran darah. Dia pergi meninggalkan kami, pergi dengan hati yang
luka. Ketika melihat kepergiannya dengan kondisi seperti itu, tiba-tiba hatiku
diguncang berbagai perasaan yang bergejolak hebat, antara benci, cinta, sedih,
dan kecewa, semuanya lebur dalam dada.
Setelah kepergiannya aku terus berada di kamarku dalam waktu yang
panjang. Di sela-sela waktu ini, aku merasa tercekik, aku menganggap segala hal
telah berguguran dalam jiwaku, aku sedang mencari jawaban hidup. Kesendirian
telah menelan keberadaanku seluruhnya, tapi bayangan Alby tetap tak mau
meninggalkanku. Semakin hari, dia seakan tertancap dalam di dada, perasaan
berdosa kepadanya seakan mengendalikan pikiranku. Dimana dia sekarang? Ya, hati
ini tidak bisa lepas dari jaring-jaring penyesalan.
Waktu luang seakan
memojokkanku dan aku tertawa di antara kebingungan dan ketakutan. Pikiran
tentang takdir mengetuk pintu gerbang akalku, padahal aku belum pernah
memikirkan sebelumnya. Aku merasa lemah di hadapan kekuatan aneh ini. Wahai takdir,
yang tidak aku ketahui sama sekali, ampunilah aku!
LIKA-LIKU MASA REMAJA
Masa remaja
adalah usia dimana seorang anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang
lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, setidaknya dalam masalah
hak. Pembicaraan mengenai masa remaja bagaikan pembicaraan tentang suatu
paradoks. Di satu sisi, masa remaja adalah masa yang menyenangkan seperti bunga
mawar merah yang mekar. Namun di sisi lain, masa remaja adalah masa yang
mengkhawatirkan.
Banyak hal
menyenangkan ketika kita membicarakan tentang remaja. Bisa kita bercermin pada
diri sendiri. Potret remaja diri kita yang menikmati kegiatan sekolah,
persahabatan dan merasakan jatuh cinta. Namun, karena masa remaja merupakan
periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, apa yang terjadi pada
masa remaja akan meninggalkan bekas yang mendalam di masa yang akan datang.
Selama rentang
kehidupan, masa remaja merupakan periode yang sangat penting dibandingkan
dengan periode sebelum maupun sesudahnya. Bukan berarti mengabaikan periode
perkembangan yang lain, akan tetapi akibat-akibat jangka panjang masa remaja
itulah yang menjadikan periode ini sangat penting untuk diperhatikan.
Para remaja
biasanya bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menuntut kebebasan
tetapi takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuannya
sendiri untuk menghadapi tanggung jawab. Hal ini disebabkan mereka merasa
mandiri dan menolak bantuan orang-orang di sekitarnya, padahal
masalah-masalahnya pada masa kanak-kanak lebih banyak diselesaikan oleh orang
tua dan guru sehingga pada masa remaja ia tidak punya pengalaman dan sulit
mengatasi masalah.
Umumnya, remaja
banyak berada di luar rumah bersama teman-temannya, maka pengaruh sikap,
pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku pergaulannya lebih besar daripada
pengaruh keluarga. Disinilah letak peran orang tua maupun orang dewasa di
sekelilingnya seperti guru, untuk memberikan pendekatan dengan cara bijaksana
serta memperhatikan keadaan emosi, minat, pola perilaku dan nilai-nilai para
remaja.
Dalam Islam,
ada sebuah Atsar dari Ali bin Abi Thalib yang artinya berbunyi: “Didiklah anak-anakmu agar siap
menghadapi zamannya, karena mereka kelak akan hidup pada zaman
yang berbeda dengan zamanmu.” Sebagai sebuah kesimpulan, tugas orang
tua-lah yang harus mendidik dan memberikan contoh akhlak yang baik kepada
anak-anaknya karena keluarga adalah sumber pendidikan pertama bagi anak.
#DikirimKeOpenminds
Langganan:
Postingan (Atom)

