COLORS OF SECRET
GARDEN
oleh Anis Unifah
Suatu hari
teramat dingin, di dalam hujan yang deras. Pintu ruang seni berdecit, rasa
hambar kegelisahan mencekik. Aku berdiri seorang diri. Lukisan-lukisan yang
terapung di dasar dinding begitu tenang. Angin mulai menyusup lewat jendela
yang mengembun oleh percikan air hujan. Diluar orang-orang berlalu lalang
mencari tempat berteduh. Namun ruangan dimana aku berdiri ini bukan tempat
berteduh, ini adalah ruang bersembunyi dari orang-orang yang tidak suka akan
kemenangan yang aku dapatkan. Aku menyembunyikan ketakutanku disini bersama
hatiku yang lemah dan hampir retak oleh ejekan dan hinaan, oleh rasa
ketidakpercayaan orang-orang. Kehidupan yang berwarna tertarik dalam mimpi yang
menghitam. Melucutiku dalam kesepian. Sekali lagi aku merintih dalam ketakutan
dan kegelapan.
“Dia seorang
plagiat!”
“Tidak mungkin
dia menang dengan kemampuan melukisnya!”
“Dia bukan
pemenang!”
“Dia tidak bisa
melukis!”
Orang-orang di
sekolah protes, aku tidak layak jadi pemenang di kompetisi melukis tahun ini.
Tapi nyatanya aku memenangkan lomba dan mengalahkan 199 orang peserta yang
lain. Joan, siswa paling hebat dalam melukis yang menyebut dirinya ‘Iblis
pembunuh kanvas’ berkoar-koar bahwa aku memplagiat lukisan ‘Kebun Rahasia’-nya.
Ia tidak terima dan meluncurkan ultimatum kejam terhadap diriku. Jadilah
anak-anak lain mengejarku. Disinilah aku bersembunyi bersama sebuah lukisan ‘Kebun
Rahasia’ yang kugores dengan kanvas peninggalan Ayahku. Aku meringkuk dalam
kegelapan sambil mendekap kuas dan kanvas. Ujung jariku mulai terasa nyeri, kulihat
sekejap tadi seberkas cahaya menyinari. Karena dalam kegelapan ada cahaya. Kuas
yang aku bawa kemana-mana tiba-tiba menyala seperti sebuah lilin dengan cahaya
putih keemasan.
Jikalau sekarang
tamat riwayatku walaupun harus demikian, tak apa-apa. Kupikir begitu, tak ada
yang aku takutkan. Sementara aku khawatir tentang ilusi tercermin didalam
cermin, di beberapa titik aku mengambil kecepatan setelah diberitahu ''Kau bisa pergi kemanapun yang kau
inginkan''. Suara yang familiar dan sering kudengar ketika aku masih kecil,
dibawah selimut hangat sambil mendengarkan dongeng sebelum tidur lelap.
Tiba-tiba semua
penunjuk arah berubah menjadi abu-abu dibawah keinginanku yang telah matang. Kerlip
api menarikku ke dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang berubah menjadi sebuah
kotak yang berlubang seperti pintu terbuka. Dari tempatku yang gelap dan dingin
hujan di ruang seni, aku berpindah ke sebuah tempat yang terang dan cerah
bercahaya. Sebelum aku menemukan diriku dalam kesadaran, aku lebih dulu
menemukan kuasku kembali dalam genggaman tangan. Apakah ujung kuasku mengering?
Cahaya itu memudar.
Jika aku dapat
melihat langit biru, membuka payung biru. Bagaimana tentang hal itu? Langit
yang aku lihat sekarang lebih cerah dari biasanya, bagai sehelai kain kanvas
berwarna biru terang, dengan goresan-goresan putih sebagai awannya dan satu
titik terang berwarna kuning bersinar sebagai matahari. Angin sepoi-sepoi yang
hangat dan lembut seakan meniupkan lagu-lagu di daun pepohonan. Apakah ini
surga ataukah aku berada di tempat yang lebih indah dari surga? Aku tak tau
dimana kecuali aku menemukan diriku seorang diri lagi. Kanvas milikku, apa kau
mengibarkan bendera putih hanya saat kau sudah menyerah? Memberi isyarat sekarang
dengan merah murni seperti matador. Mawar yang berwarna merah, aku melihatnya
di dalam lukisanku. Ah benar, apakah aku sekarang berada dalam lukisan ‘Kebun
Rahasia’? Semua yang aku lihat disini tampak persis seperti yang aku lukis
dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’-ku.
Warna memudar
dibawah lampu neon. Aku bertemu dengan
seseorang pada papan catur hitam-putih. Melihat matahari terbenam orange
disisinya. Itu baik, namun semakin sedikit kata yang baik, apakah seseorang
memakai hitam hanya ketika berkabung? Aku rasa aku mengenali orang berpakaian
itu, lebih dekat dan lebih dekat lagi. Apakah aku telah mati sehingga bisa
melihat orang itu lagi disini?
“Ayah,” Aku memanggilnya
lirih dengan kerinduan dalam.
“Marisa,” dia
memaggilku dengan mesra lalu memelukku.
Aku tak
percaya. Jikalau aku yang mati atau Ayahku yang telah mati, dia tidak akan bisa
menyentuhku dan aku tidak bisa menyentuhnya. Tetapi apa ini? Aku masih bisa
menyentuh dan merasakan hangat pelukannya. Kami masih hidup tetapi aku tidak
tau dimana ini sekarang.
“Akhirnya kau
tahu cara bagaimana menggunakan kuas itu,” kata Ayahku dengan wajah yang
bahagia.
Dalam
kebingunganku, rasa tidak percayaku, berada di dunia lain tak kukenali, bertemu
dengan seseorang yang telah menghilang dan kukira telah mati. Aku semakin tegas
membisikkan bahwa aku berada di dunia mimpi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Apakah
aku telah tertidur di ruang seni ketika aku bersembunyi sehingga aku bermimpi
seperti sekarang ini. Tetapi ini terasa seperti nyata. Aku bertanya pada
Ayahku, “Apa maksud Ayah?”
“Kuas itulah
penyebabnya,” Ayah memandang sebatang kuas yang aku genggam sejak tadi.
Kuas inilah
yang melukis, bukan tanganku. Aku memang baru pertama kali menggunakan kuas itu
untuk melukis yaitu lukisan dimana sekarang aku hidup di dalamnya sebagai
makhluk hidup yang tinggal dalam lukisan. Ayahku menceritakan kejadian yang
sesungguhnya ketika ia pertama kali menemukan kuas itu di sebuah toko alat-alat
lukis. Kuas itu dijatuhkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan orang itu
menghilang entah kemana ketika Ayah akan mengembalikan kuas itu. Lenyap seperti
tertelan oleh bumi. Jika memang benar apa yang dikatakan Ayahku, maka itu
berarti bisa saja kami akan berada dalam lukisan ini selamanya.
Aku penasaran
dimana ayahku tinggal disini dan apa yang dia makan. Ayahku menjawab bahwa di
tempat ini dia tidak merasakan lapar atau dahaga dan juga tidak mengantuk. Aku
sangat penasaran sebenarnya tempat macam apakah ini. Ayahku bilang ingin
memperlihatkanku sebuah tempat yang indah. Katanya itu adalah tempat yang
sangat ia sukai disini. Aku mengikuti langkah kaki Ayahku tanpa ragu.
Kami melewati
jalan di kebun ini dan melihat banyak bunga yang indah di sepanjang jalan. Ada
bunga bleeding heart berwarna merah
muda, putih dan violet. Ada banyak sekali bunga anggrek seperti yang pernah aku
lihat di Taman ‘Singapore Botanic Garden’. Bunga Akasia berwarna merah muda,
putih dan kuning tumbuh bermekaran bersama dengan bunga Anyelir, Aster dan
Daisy juga Lily yang berwarna putih. Bahkan disini aku tidak alergi pada bunga
Tulip. Dunia macam apakah ini?
Di
tengah-tengah kebun ada air mancur seperti air mancur yang ada di Descanso Gardens California di San
Rafael Hill. Kebun Rahasia ini seperti yang ada dalam impian, perpaduan dari
tiga taman yang indah; Botanic Garden, Descanso
Gardens dan Butchart Gardens di Columbia. Dari kejauhan aku
bisa melihat gunung yang tinggi menjulang seperti Gunung Everest di
Cina. Aku menyesal karena aku hanya mendaki gunung sekali yaitu di Gunung Bromo.
Aku bahkan punya keinginan mendaki ke Gunung Everest suatu saat nanti.
“Ini tempat
yang ingin Ayah tunjukkan padamu,” seru Ayah.
Tibalah kami di
sebuah pantai yang menakjubkan indahnya. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan
kata-kata, kecuali aku hanya ingin berteriak ‘HIDDEN PARADISE’. Inilah surga
yang tersembunyi selama ini. Dulu waktu kecil aku pernah pergi ke pantai yang
pasirnya berwarna putih seperti pantai Adonara di Nusa Tenggara Timur, pantai
Sawarna di Lebak, Banten atau pantai Pok Tunggal yang ada di Yogyakarta. Namun
aku belum pernah pergi ke pantai yang dipenuhi bebatuan hijau seperti di Pantai
Penggajawa atau pantai yang pasirnya berwarna pink seperti di Pink Beach
Flores. Namun pantai yang ada di depanku ini merupakan perpaduan kedua pantai
yang ingin aku kunjungi. Ada bebatuan hijau yang aku injak di sela-sela pasir
putih bersih dan lembut. Dari jauh, pasir di tepi pantai hanyalah pasir putih
biasa. Ayah menyuruhku datang ke tepiannya dan menunggu sampai ombak menjilat
tepian pasir. Warna pink tiba-tiba terlihat lebih pekat dibanding pasir yang
masih kering. Aku hanya berdecak kagum dan hatiku serasa meleleh menikati
pemandangan yang memikat ini.
Entah datang
dari mana, pantai yang sepi dan cantik seperti pantai Gondang Lombok Utara
tiba-tiba berubah menjadi ramai. Orang-orang tiba-tiba berlalu lalang sambil
tersenyum dengan ramah. Berjalan lalu melewatiku, berbagi hangat bahagia
diantara kesejukan pantai. Namun diriku hanya berdiri di samping Ayahku sambil
membalas senyuman mereka dengan senyuman terlembut.
“Darimana
datangnya orang-orang itu Ayah?” tanyaku.
“Mungkin mereka
orang-orang terdahulu yang menemukan kuas itu. Orang yang tinggal disini tidak pernah
tua meskipun sudah bertahun-tahun. Lihatlah Ayah.” Katanya seolah menunjukkan
bahwa kulit dan wajahnya masih muda.
Aku
memperhatikannya. Memang benar kata Ayahku. Dulu waktu Ayah menghilang
kira-kira umurku masih 7 tahun dan sekarang aku sudah berumur 17 tahun.
Seharusnya 10 tahun sudah membuat Ayahku berumur 40-an tetapi Ayahku masih
tampak muda, masih sama ketika Ayah menghilang. Aku pernah dengar bahwa di
surga tidak ada yang menjadi tua, semua tetap muda. Benarkah ini surga?
“Mungkin mereka
terlalu asyik berada di tempat seperti ini dan tidak ingin kembali ke dunia
nyata.” Kata Ayahku. “Setiap sore mereka pergi ke pantai ini dan melihat
matahari terbenam.”
“Seharusnya
mereka kembali, Ayah.”
“Untuk apa
harus kembali jika disini tidak merasakan kelaparan, tidak haus, tidak
mengantuk, tidak lelah, tidak tua dan bahagia seperti berada dalam surga.”
Jawab Ayahku sambil memandangi matahari tenggelam masuk ke garis lurus berwarna
merah keemasan.
Aku berpikir
sejenak. Memang tempat ini begitu indah dan aku tidak ingin meninggalkannya.
Sebuah surga indah yang tidak pernah terkira panoramanya yang mempesona,
menyejukkan mata dan menghilangkan kesedihan. Namun ini dunia yang tidak
dikenal dan aku ingin kembali ke dunia nyata betapapun keindahannya disini.
“Kita harus
kembali, Ayah. Kita harus menemukan jalan pulang.” Ajakku dengan lembut.
Tapi Ayah sama
sekali tidak meleleh meski aku merayunya dengan rajukan anak kecil kepada
Ayahnya.
“Tempat ini
terlalu indah untuk ditinggalkan, Marisa. Tempat ini surga yang tidak bisa kita
temukan di dunia nyata.” Serunya lalu ia menggumam dengan sedih, “Kalau saja
aku bisa mengajak Mayu kesini.”
Aku juga
berpikiran yang sama seperti Ayah. Andai saja aku bisa mengajak Ibu masuk ke
dunia ini lalu keluarga kami bersatu kembali dalam kebahagiaan di surga yang
indah ini. Betapa sangat bahagianya. Saat pagi melihat matahari terbit dan
memotong tanaman yang telah tinggi di kebun kemudian berjalan di air mancur dan
pantai yang berwarna pink dengan bebatuan hijau yang indah. Pikiranku terkudeta
oleh keindahan yang menakjubkan ini. Haruskah kami hidup di surga yang tidak
nyata ini?
“Tidak, Ayah.
Kita harus kembali. Kita bisa melukis dengan kuas ini lalu pergi ke tempat yang
kita inginkan seperti yang pernah Ayah katakan padaku.” Kataku sambil
memandangnya dengan lekat. “Aku tidak pernah merasa di surga jika aku tidak
bisa berkumpul dengan keluargaku, dengan Ayah dan Ibu. Itulah surga yang paling
indah bagiku. Ibu juga pasti akan khawatir ketika aku tidak kembali, Ayah. Kita
bisa pergi lain kali kesini, dengan Ibu juga. Bukankah menyenangkan saat kita
bisa pergi bersama?”
Aku menatapnya
dengan lembut. Hati Ayah meleleh dan ia memelukku dengan hangat seperti saat
dia selesai membacakan dongeng tempo dulu. Aku tersenyum.
“Baiklah. Kita
kembali lalu melukis surga indah lainnya sehingga kita bisa pergi
bersama-sama.” Kata Ayah. “Kita harus kembali ke Kebun Rahasia lalu melukis
tempat dimana kamu hilang pertama kali dengan kuas ini.”
Aku mengangguk
lega. Jadi, aku harus melukis ruang seni dimana lukisan ‘Kebun Rahasia’ itu
berada, tempat dimana aku ditelan ke dalam lukisan ini. Kami berjalan menuju
kebun sambil menceritakan rencana kemana lagi kita akan pergi dengan kuas ini. Tetapi
setelah aku pertimbangkan lagi, aku tidak membutuhkan kuas ini lagi ketika aku
telah kembali ke dunia nyata.
Aku ingin pergi
ke pantai Gondang yang ada di Lombok Utara bersama-sama dengan Ayah dan Ibu,
mengalami perjalanan yang normal. Perjalanan dari Mataram menuju Pantai Gondang
yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam, dengan kecepatan mobil rata-rata 60 km/jam.
Sepanjang jalan, bisa melihat pemandangan indah sawah-sawah milik petani yang
sebagian sedang dipanen. Lalu, dapat melihat monyet-monyet kecil saat memasuki
Puncak Pusuk. Hawa sejuk yang mulai terasa dan banyak monyet-monyet kecil
berbaris di sisi jalan menunggu wisatawan melemparkan makanan kecil.
Aku seperti
Rudy Tabootie bersama Snap di film kartun ChalkZona
atau ‘Zona Kapur’ yang menggambar dengan kapur lalu semua yang digambarnya
menjadi hidup. Perasaan bahagia karena memikirkannya saja telah melenturkan
tanganku ketika melukis ruang seni sekolah di kain sobekan lengan seragam
putihku. Aku ingin segera kembali dan mewujudkan rencana jalan-jalan bersama
Ayah dan Ibuku. Lalu sebuah cahaya bersinar memancar. Tidak hanya putih tetapi
berwarna-warni seperti pelangi. Warna-warni itu meluas dan memenuhi kebun ini
sehingga kami masuk dalam lingkaran cahaya yang menenangkan. Karena terlalu
terang, aku tidak bisa melihat apa-apa. Cahaya warna-warni itu memudar dan
tiba-tiba berubah menjadi warna gelap dan suara siraman hujan terdengar dibalik
warna gelap tiba-tiba. Aku telah kembali di dunia nyata dan di sampingku Ayahku
tersenyum padaku.
“Ayo kita
pulang,” ajak Ayahku.
Aku mengangguk
senang, “Ayo kita jalan-jalan setelah itu.” Jawabku.
Kami berjalan
pulang berangkulan.
Yogyakarta,
29 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar