Sabtu, 15 November 2014

50 Nominator Cerpen Travel n Love

Cerpenku masuk dalam 50 Nominator Lomba Cerpen "Travel & Love" yang diadakan Padmagz Magazine. Pemenangnya masih belum ditentukan.... Sabar.. sabar..!!!


COLORS OF SECRET GARDEN
oleh Anis Unifah


Suatu hari teramat dingin, di dalam hujan yang deras. Pintu ruang seni berdecit, rasa hambar kegelisahan mencekik. Aku berdiri seorang diri. Lukisan-lukisan yang terapung di dasar dinding begitu tenang. Angin mulai menyusup lewat jendela yang mengembun oleh percikan air hujan. Diluar orang-orang berlalu lalang mencari tempat berteduh. Namun ruangan dimana aku berdiri ini bukan tempat berteduh, ini adalah ruang bersembunyi dari orang-orang yang tidak suka akan kemenangan yang aku dapatkan. Aku menyembunyikan ketakutanku disini bersama hatiku yang lemah dan hampir retak oleh ejekan dan hinaan, oleh rasa ketidakpercayaan orang-orang. Kehidupan yang berwarna tertarik dalam mimpi yang menghitam. Melucutiku dalam kesepian. Sekali lagi aku merintih dalam ketakutan dan kegelapan.
“Dia seorang plagiat!”
“Tidak mungkin dia menang dengan kemampuan melukisnya!”
“Dia bukan pemenang!”
“Dia tidak bisa melukis!”
Orang-orang di sekolah protes, aku tidak layak jadi pemenang di kompetisi melukis tahun ini. Tapi nyatanya aku memenangkan lomba dan mengalahkan 199 orang peserta yang lain. Joan, siswa paling hebat dalam melukis yang menyebut dirinya ‘Iblis pembunuh kanvas’ berkoar-koar bahwa aku memplagiat lukisan ‘Kebun Rahasia’-nya. Ia tidak terima dan meluncurkan ultimatum kejam terhadap diriku. Jadilah anak-anak lain mengejarku. Disinilah aku bersembunyi bersama sebuah lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang kugores dengan kanvas peninggalan Ayahku. Aku meringkuk dalam kegelapan sambil mendekap kuas dan kanvas. Ujung jariku mulai terasa nyeri, kulihat sekejap tadi seberkas cahaya menyinari. Karena dalam kegelapan ada cahaya. Kuas yang aku bawa kemana-mana tiba-tiba menyala seperti sebuah lilin dengan cahaya putih keemasan.
Jikalau sekarang tamat riwayatku walaupun harus demikian, tak apa-apa. Kupikir begitu, tak ada yang aku takutkan. Sementara aku khawatir tentang ilusi tercermin didalam cermin, di beberapa titik aku mengambil kecepatan setelah diberitahu ''Kau bisa pergi kemanapun yang kau inginkan''. Suara yang familiar dan sering kudengar ketika aku masih kecil, dibawah selimut hangat sambil mendengarkan dongeng sebelum tidur lelap.
Tiba-tiba semua penunjuk arah berubah menjadi abu-abu dibawah keinginanku yang telah matang. Kerlip api menarikku ke dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’ yang berubah menjadi sebuah kotak yang berlubang seperti pintu terbuka. Dari tempatku yang gelap dan dingin hujan di ruang seni, aku berpindah ke sebuah tempat yang terang dan cerah bercahaya. Sebelum aku menemukan diriku dalam kesadaran, aku lebih dulu menemukan kuasku kembali dalam genggaman tangan. Apakah ujung kuasku mengering? Cahaya itu memudar.
Jika aku dapat melihat langit biru, membuka payung biru. Bagaimana tentang hal itu? Langit yang aku lihat sekarang lebih cerah dari biasanya, bagai sehelai kain kanvas berwarna biru terang, dengan goresan-goresan putih sebagai awannya dan satu titik terang berwarna kuning bersinar sebagai matahari. Angin sepoi-sepoi yang hangat dan lembut seakan meniupkan lagu-lagu di daun pepohonan. Apakah ini surga ataukah aku berada di tempat yang lebih indah dari surga? Aku tak tau dimana kecuali aku menemukan diriku seorang diri lagi. Kanvas milikku, apa kau mengibarkan bendera putih hanya saat kau sudah menyerah? Memberi isyarat sekarang dengan merah murni seperti matador. Mawar yang berwarna merah, aku melihatnya di dalam lukisanku. Ah benar, apakah aku sekarang berada dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’? Semua yang aku lihat disini tampak persis seperti yang aku lukis dalam lukisan ‘Kebun Rahasia’-ku.
Warna memudar dibawah lampu neon.  Aku bertemu dengan seseorang pada papan catur hitam-putih. Melihat matahari terbenam orange disisinya. Itu baik, namun semakin sedikit kata yang baik, apakah seseorang memakai hitam hanya ketika berkabung? Aku rasa aku mengenali orang berpakaian itu, lebih dekat dan lebih dekat lagi. Apakah aku telah mati sehingga bisa melihat orang itu lagi disini?
“Ayah,” Aku memanggilnya lirih dengan kerinduan dalam.
“Marisa,” dia memaggilku dengan mesra lalu memelukku.
Aku tak percaya. Jikalau aku yang mati atau Ayahku yang telah mati, dia tidak akan bisa menyentuhku dan aku tidak bisa menyentuhnya. Tetapi apa ini? Aku masih bisa menyentuh dan merasakan hangat pelukannya. Kami masih hidup tetapi aku tidak tau dimana ini sekarang.
“Akhirnya kau tahu cara bagaimana menggunakan kuas itu,” kata Ayahku dengan wajah yang bahagia.
Dalam kebingunganku, rasa tidak percayaku, berada di dunia lain tak kukenali, bertemu dengan seseorang yang telah menghilang dan kukira telah mati. Aku semakin tegas membisikkan bahwa aku berada di dunia mimpi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Apakah aku telah tertidur di ruang seni ketika aku bersembunyi sehingga aku bermimpi seperti sekarang ini. Tetapi ini terasa seperti nyata. Aku bertanya pada Ayahku, “Apa maksud Ayah?”
“Kuas itulah penyebabnya,” Ayah memandang sebatang kuas yang aku genggam sejak tadi.
Kuas inilah yang melukis, bukan tanganku. Aku memang baru pertama kali menggunakan kuas itu untuk melukis yaitu lukisan dimana sekarang aku hidup di dalamnya sebagai makhluk hidup yang tinggal dalam lukisan. Ayahku menceritakan kejadian yang sesungguhnya ketika ia pertama kali menemukan kuas itu di sebuah toko alat-alat lukis. Kuas itu dijatuhkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan orang itu menghilang entah kemana ketika Ayah akan mengembalikan kuas itu. Lenyap seperti tertelan oleh bumi. Jika memang benar apa yang dikatakan Ayahku, maka itu berarti bisa saja kami akan berada dalam lukisan ini selamanya.
Aku penasaran dimana ayahku tinggal disini dan apa yang dia makan. Ayahku menjawab bahwa di tempat ini dia tidak merasakan lapar atau dahaga dan juga tidak mengantuk. Aku sangat penasaran sebenarnya tempat macam apakah ini. Ayahku bilang ingin memperlihatkanku sebuah tempat yang indah. Katanya itu adalah tempat yang sangat ia sukai disini. Aku mengikuti langkah kaki Ayahku tanpa ragu.
Kami melewati jalan di kebun ini dan melihat banyak bunga yang indah di sepanjang jalan. Ada bunga bleeding heart berwarna merah muda, putih dan violet. Ada banyak sekali bunga anggrek seperti yang pernah aku lihat di Taman ‘Singapore Botanic Garden’. Bunga Akasia berwarna merah muda, putih dan kuning tumbuh bermekaran bersama dengan bunga Anyelir, Aster dan Daisy juga Lily yang berwarna putih. Bahkan disini aku tidak alergi pada bunga Tulip. Dunia macam apakah ini?
Di tengah-tengah kebun ada air mancur seperti air mancur yang ada di Descanso Gardens California di San Rafael Hill. Kebun Rahasia ini seperti yang ada dalam impian, perpaduan dari tiga taman yang indah; Botanic Garden, Descanso Gardens dan Butchart Gardens di Columbia. Dari kejauhan aku bisa melihat gunung yang tinggi menjulang seperti Gunung Everest di Cina. Aku menyesal karena aku hanya mendaki gunung sekali yaitu di Gunung Bromo. Aku bahkan punya keinginan mendaki ke Gunung Everest suatu saat nanti.
“Ini tempat yang ingin Ayah tunjukkan padamu,” seru Ayah.
Tibalah kami di sebuah pantai yang menakjubkan indahnya. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, kecuali aku hanya ingin berteriak ‘HIDDEN PARADISE’. Inilah surga yang tersembunyi selama ini. Dulu waktu kecil aku pernah pergi ke pantai yang pasirnya berwarna putih seperti pantai Adonara di Nusa Tenggara Timur, pantai Sawarna di Lebak, Banten atau pantai Pok Tunggal yang ada di Yogyakarta. Namun aku belum pernah pergi ke pantai yang dipenuhi bebatuan hijau seperti di Pantai Penggajawa atau pantai yang pasirnya berwarna pink seperti di Pink Beach Flores. Namun pantai yang ada di depanku ini merupakan perpaduan kedua pantai yang ingin aku kunjungi. Ada bebatuan hijau yang aku injak di sela-sela pasir putih bersih dan lembut. Dari jauh, pasir di tepi pantai hanyalah pasir putih biasa. Ayah menyuruhku datang ke tepiannya dan menunggu sampai ombak menjilat tepian pasir. Warna pink tiba-tiba terlihat lebih pekat dibanding pasir yang masih kering. Aku hanya berdecak kagum dan hatiku serasa meleleh menikati pemandangan yang memikat ini.
Entah datang dari mana, pantai yang sepi dan cantik seperti pantai Gondang Lombok Utara tiba-tiba berubah menjadi ramai. Orang-orang tiba-tiba berlalu lalang sambil tersenyum dengan ramah. Berjalan lalu melewatiku, berbagi hangat bahagia diantara kesejukan pantai. Namun diriku hanya berdiri di samping Ayahku sambil membalas senyuman mereka dengan senyuman terlembut.
“Darimana datangnya orang-orang itu Ayah?” tanyaku.
“Mungkin mereka orang-orang terdahulu yang menemukan kuas itu. Orang yang tinggal disini tidak pernah tua meskipun sudah bertahun-tahun. Lihatlah Ayah.” Katanya seolah menunjukkan bahwa kulit dan wajahnya masih muda.
Aku memperhatikannya. Memang benar kata Ayahku. Dulu waktu Ayah menghilang kira-kira umurku masih 7 tahun dan sekarang aku sudah berumur 17 tahun. Seharusnya 10 tahun sudah membuat Ayahku berumur 40-an tetapi Ayahku masih tampak muda, masih sama ketika Ayah menghilang. Aku pernah dengar bahwa di surga tidak ada yang menjadi tua, semua tetap muda. Benarkah ini surga?
“Mungkin mereka terlalu asyik berada di tempat seperti ini dan tidak ingin kembali ke dunia nyata.” Kata Ayahku. “Setiap sore mereka pergi ke pantai ini dan melihat matahari terbenam.”
“Seharusnya mereka kembali, Ayah.”
“Untuk apa harus kembali jika disini tidak merasakan kelaparan, tidak haus, tidak mengantuk, tidak lelah, tidak tua dan bahagia seperti berada dalam surga.” Jawab Ayahku sambil memandangi matahari tenggelam masuk ke garis lurus berwarna merah keemasan.
Aku berpikir sejenak. Memang tempat ini begitu indah dan aku tidak ingin meninggalkannya. Sebuah surga indah yang tidak pernah terkira panoramanya yang mempesona, menyejukkan mata dan menghilangkan kesedihan. Namun ini dunia yang tidak dikenal dan aku ingin kembali ke dunia nyata betapapun keindahannya disini.
“Kita harus kembali, Ayah. Kita harus menemukan jalan pulang.” Ajakku dengan lembut.
Tapi Ayah sama sekali tidak meleleh meski aku merayunya dengan rajukan anak kecil kepada Ayahnya.
“Tempat ini terlalu indah untuk ditinggalkan, Marisa. Tempat ini surga yang tidak bisa kita temukan di dunia nyata.” Serunya lalu ia menggumam dengan sedih, “Kalau saja aku bisa mengajak Mayu kesini.”
Aku juga berpikiran yang sama seperti Ayah. Andai saja aku bisa mengajak Ibu masuk ke dunia ini lalu keluarga kami bersatu kembali dalam kebahagiaan di surga yang indah ini. Betapa sangat bahagianya. Saat pagi melihat matahari terbit dan memotong tanaman yang telah tinggi di kebun kemudian berjalan di air mancur dan pantai yang berwarna pink dengan bebatuan hijau yang indah. Pikiranku terkudeta oleh keindahan yang menakjubkan ini. Haruskah kami hidup di surga yang tidak nyata ini?
“Tidak, Ayah. Kita harus kembali. Kita bisa melukis dengan kuas ini lalu pergi ke tempat yang kita inginkan seperti yang pernah Ayah katakan padaku.” Kataku sambil memandangnya dengan lekat. “Aku tidak pernah merasa di surga jika aku tidak bisa berkumpul dengan keluargaku, dengan Ayah dan Ibu. Itulah surga yang paling indah bagiku. Ibu juga pasti akan khawatir ketika aku tidak kembali, Ayah. Kita bisa pergi lain kali kesini, dengan Ibu juga. Bukankah menyenangkan saat kita bisa pergi bersama?”
Aku menatapnya dengan lembut. Hati Ayah meleleh dan ia memelukku dengan hangat seperti saat dia selesai membacakan dongeng tempo dulu. Aku tersenyum.
“Baiklah. Kita kembali lalu melukis surga indah lainnya sehingga kita bisa pergi bersama-sama.” Kata Ayah. “Kita harus kembali ke Kebun Rahasia lalu melukis tempat dimana kamu hilang pertama kali dengan kuas ini.”
Aku mengangguk lega. Jadi, aku harus melukis ruang seni dimana lukisan ‘Kebun Rahasia’ itu berada, tempat dimana aku ditelan ke dalam lukisan ini. Kami berjalan menuju kebun sambil menceritakan rencana kemana lagi kita akan pergi dengan kuas ini. Tetapi setelah aku pertimbangkan lagi, aku tidak membutuhkan kuas ini lagi ketika aku telah kembali ke dunia nyata.
Aku ingin pergi ke pantai Gondang yang ada di Lombok Utara bersama-sama dengan Ayah dan Ibu, mengalami perjalanan yang normal. Perjalanan dari Mataram menuju Pantai Gondang yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam, dengan kecepatan mobil rata-rata 60 km/jam. Sepanjang jalan, bisa melihat pemandangan indah sawah-sawah milik petani yang sebagian sedang dipanen. Lalu, dapat melihat monyet-monyet kecil saat memasuki Puncak Pusuk. Hawa sejuk yang mulai terasa dan banyak monyet-monyet kecil berbaris di sisi jalan menunggu wisatawan melemparkan makanan kecil.
Aku seperti Rudy Tabootie bersama Snap di film kartun ChalkZona atau ‘Zona Kapur’ yang menggambar dengan kapur lalu semua yang digambarnya menjadi hidup. Perasaan bahagia karena memikirkannya saja telah melenturkan tanganku ketika melukis ruang seni sekolah di kain sobekan lengan seragam putihku. Aku ingin segera kembali dan mewujudkan rencana jalan-jalan bersama Ayah dan Ibuku. Lalu sebuah cahaya bersinar memancar. Tidak hanya putih tetapi berwarna-warni seperti pelangi. Warna-warni itu meluas dan memenuhi kebun ini sehingga kami masuk dalam lingkaran cahaya yang menenangkan. Karena terlalu terang, aku tidak bisa melihat apa-apa. Cahaya warna-warni itu memudar dan tiba-tiba berubah menjadi warna gelap dan suara siraman hujan terdengar dibalik warna gelap tiba-tiba. Aku telah kembali di dunia nyata dan di sampingku Ayahku tersenyum padaku.
“Ayo kita pulang,” ajak Ayahku.
Aku mengangguk senang, “Ayo kita jalan-jalan setelah itu.” Jawabku.
Kami berjalan pulang berangkulan.



Yogyakarta, 29 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar