edisi 25 TH 67
Untuk menghadirkan kembali perpaduan musik tradisi dengan musik barat (Cross Culture), Gangsadewa Etnich
Ensamble, sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik
nusantara telah menggelar pertunjukan dengan judul “Bermain” pada tanggal 15
September tadi malam pukul 19.30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. “Leader”
Gangsadewa adalah Pak Memet
(Drs. Chairul Slamet. MSn), musisi sekaligus dosen musik di ISI Jogja.
Kelompok musik yang berdiri sejak tahun 2004, dikomandani oleh Memet
Chairul Slamet (composer), Dodi Precil (perkusi), Haris (sapek, kecapi,
gambus), Herry (kecapi, bonang, cak), Herman (gitar), Putri (perkusi, jembe,
vokal), dan Yopi (bass, perkusi) ini telah menghasilkan 4 album dan kaya
akan pengalaman pentas di panggung nasional maupun internasional.
Di lagu pertamanya, Gangsadewa mengajak penonton yang hadir untuk
bersama-sama berdo’a. Alunan instrumen musik tradisional yang berasal dari
etnik nusantara dipadu dengan musik modern, penonton yang duduk dengan khidmat
serasa diajak ke alam terbuka, menyatu dengan alam seraya menyematkan do’a agar
tanah air selalu “gemah ripah loh jenawi”.
“Siluet” merupakan
judul lagu kedua yang dibawakan oleh Gangsadewa. Lagu ini bercerita tentang
alam di Indonesia. Unsur etnik telah terasa sejak musik ini dimainkan, diawali
dengan suara vokal Putri dan Yopi, penonton diajak untuk menyatu dengan alam.
Penonton serasa berada di pucuk gunung yang sejuk, terhampar hijau dengan
gemerlap cahaya di bayang-bayang air yang jernih, lembah-lembah dan langit
biru, burung-burung bergerombol beterbangan, hawa sejuk pegunungan
menyelinapkan ketenangan, berada di sebuah negeri yang damai, nusantara tak
terbatas dari ujung ke ujung, dari jauh ke tempat yang jauh namun sesungguhnya
kita satu. Hingga akhirnya menjelang akhir dari lagu kedua ini, Memet dkk,
memainkan melodi secara bersama-sama sebagai penutup membawa kita ke
hutan-hutan, daun-daun basah oleh embun yang menjadi dingin, alam kita yang
semerbak wangi bunga pinus. Tanah negeri kita yang dulu hijau.
Setelah “Siluet”,
lagu selanjutnya adalah “Gravitasi” yaitu sebuah konsep dimana gravitasi tidak
hanya ke bawah tapi bisa juga ke samping, miring, ke atas, atau ke arah mana
saja. Saatnya menciptakan istilah sendiri, menjadi diri sendiri. Hal ini
diutarakan langsung oleh Pak Memet sesaat sebelum Gangsadewa tampil di lagu ketiganya kali ini. Hidup tanpa
gravitasi, manusia akan kehilangan keseimbangan ketika ia hidup berdampingan
dengan alam, akibatnya manusia akan kehilangan tujuan hidupnya sebagai
pemelihara alam di bumi ini. Dibawakan dengan tempo yang sedang, serta perasaan
emosional yang tinggi dari para personilnya, Gangsadewa berusaha menterjemahkan “Gravitasi” ke dalam bentuk
komposisi modern dan unik yang dibalut dengan unsur etnik Nusantara, kemudian
dipadukan secara harmonis dalam pola ritme yang dihasilkan oleh tiupan Flute
dari Pak Memet. Tata cahaya panggung pun ikut berubah seiring perubahan tempo
yang dimainkan oleh Memet dkk.
Selanjutnya adalah
lagu dengan judul “Yuu Joo”, yang berasal dari bahasa Jepang berarti
“Persahabatan”. Komposisi ini bercerita tentang persahabatan budaya antara
Jepang dan Nusantara yang berbeda etnik namun bisa berpadu lewat alunan musik,
seperti yang diungkapkan oleh Pak Memet sendiri sebelum komposisi ini
ditampilkan. Nada musik teralun dengan tempo yang lembut segera membawa
penonton menjadi Hanami ke negeri Sakura pada musim Semi di bulan Maret dengan
bunga-bunga Cherry Blossom yang
bermekaran, sambil menggelar tikar dan minum teh bersama keluarga atau sahabat.
Perpaduan musik Jepang dan Nusantara ini merupakan dua garis budaya yang
bertemu dalam satu titik lebur yang menjadikan komposisi “Yuu Joo” ini sangat
enak untuk dinikmati.
Menjelang penutupan,
Pak Memet memperkenalkan semua personil yang berasal dari genre musik yang
berbeda. Contohnya Yopi yang berasal dari aliran musik reggae, Putri yang
beraliran dangdut dan Heri beraliran rock. Meski berasal dari aliran musik yang
berbeda-beda, namun Pak Memet “merekayasa” dan jadilah “Gangsadewa” sehingga
masing-masing personel dapat memainkan segala jenis instrument musik tanpa
merubah karakter. Selain memperkenalkan personel satu per satu, Pak Memet juga
memperkenalkan setiap alat instrumen. Katanya, dengan perpaduan setiap
instrumen di Gangsadewa, dosa terbesar dalam musik yaitu “fales” tidak
dimasukkan ke dalam “neraka” tetapi justru dimasukkan ke “surga” dalam musik
sehingga terciptalah suatu komposisi yang justru dapat dinikmati.
Pada lagu penutup, penonton diajak “Bermain”,
sesuai judulnya, karena dengan bermainlah sesungguhnya seseorang dapat
menikmati hidupnya. Dengan bermain kita menjadi apa adanya, bermain kita bisa
tahu; kita bisa lepas; kita bisa berlari; kita bisa berteriak; kita bisa puas.
Hanya dengan “Bermain”, kita bisa menikmati belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar