Rabu, 19 November 2014

MENYIMAK GANGSADEWA SEDANG “BERMAIN”

Artikel ini diterbitkan di Koran Minggu Pagi, kolom Flash
edisi 25 TH 67


Untuk menghadirkan kembali perpaduan musik tradisi dengan musik barat (Cross Culture), Gangsadewa Etnich Ensamble, sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik nusantara telah menggelar pertunjukan dengan judul “Bermain” pada tanggal 15 September tadi malam pukul 19.30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. “Leader” Gangsadewa adalah Pak Memet (Drs. Chairul Slamet. MSn), musisi sekaligus dosen musik di ISI Jogja.
Kelompok musik yang berdiri sejak tahun 2004, dikomandani oleh Memet Chairul Slamet (composer), Dodi Precil (perkusi), Haris (sapek, kecapi, gambus), Herry (kecapi, bonang, cak), Herman (gitar), Putri (perkusi, jembe, vokal), dan Yopi (bass, perkusi) ini telah menghasilkan 4 album dan kaya akan pengalaman pentas di panggung nasional maupun internasional.
Di lagu pertamanya, Gangsadewa mengajak penonton yang hadir untuk bersama-sama berdo’a. Alunan instrumen musik tradisional yang berasal dari etnik nusantara dipadu dengan musik modern, penonton yang duduk dengan khidmat serasa diajak ke alam terbuka, menyatu dengan alam seraya menyematkan do’a agar tanah air selalu “gemah ripah loh jenawi”.
“Siluet” merupakan judul lagu kedua yang dibawakan oleh Gangsadewa. Lagu ini bercerita tentang alam di Indonesia. Unsur etnik telah terasa sejak musik ini dimainkan, diawali dengan suara vokal Putri dan Yopi, penonton diajak untuk menyatu dengan alam. Penonton serasa berada di pucuk gunung yang sejuk, terhampar hijau dengan gemerlap cahaya di bayang-bayang air yang jernih, lembah-lembah dan langit biru, burung-burung bergerombol beterbangan, hawa sejuk pegunungan menyelinapkan ketenangan, berada di sebuah negeri yang damai, nusantara tak terbatas dari ujung ke ujung, dari jauh ke tempat yang jauh namun sesungguhnya kita satu. Hingga akhirnya menjelang akhir dari lagu kedua ini, Memet dkk, memainkan melodi secara bersama-sama sebagai penutup membawa kita ke hutan-hutan, daun-daun basah oleh embun yang menjadi dingin, alam kita yang semerbak wangi bunga pinus. Tanah negeri kita yang dulu hijau.
Setelah “Siluet”, lagu selanjutnya adalah “Gravitasi” yaitu sebuah konsep dimana gravitasi tidak hanya ke bawah tapi bisa juga ke samping, miring, ke atas, atau ke arah mana saja. Saatnya menciptakan istilah sendiri, menjadi diri sendiri. Hal ini diutarakan langsung oleh Pak Memet sesaat sebelum Gangsadewa tampil di lagu ketiganya kali ini. Hidup tanpa gravitasi, manusia akan kehilangan keseimbangan ketika ia hidup berdampingan dengan alam, akibatnya manusia akan kehilangan tujuan hidupnya sebagai pemelihara alam di bumi ini. Dibawakan dengan tempo yang sedang, serta perasaan emosional yang tinggi dari para personilnya, Gangsadewa berusaha menterjemahkan “Gravitasi” ke dalam bentuk komposisi modern dan unik yang dibalut dengan unsur etnik Nusantara, kemudian dipadukan secara harmonis dalam pola ritme yang dihasilkan oleh tiupan Flute dari Pak Memet. Tata cahaya panggung pun ikut berubah seiring perubahan tempo yang dimainkan oleh Memet dkk.
Selanjutnya adalah lagu dengan judul “Yuu Joo”, yang berasal dari bahasa Jepang berarti “Persahabatan”. Komposisi ini bercerita tentang persahabatan budaya antara Jepang dan Nusantara yang berbeda etnik namun bisa berpadu lewat alunan musik, seperti yang diungkapkan oleh Pak Memet sendiri sebelum komposisi ini ditampilkan. Nada musik teralun dengan tempo yang lembut segera membawa penonton menjadi Hanami ke negeri Sakura pada musim Semi di bulan Maret dengan bunga-bunga Cherry Blossom yang bermekaran, sambil menggelar tikar dan minum teh bersama keluarga atau sahabat. Perpaduan musik Jepang dan Nusantara ini merupakan dua garis budaya yang bertemu dalam satu titik lebur yang menjadikan komposisi “Yuu Joo” ini sangat enak untuk dinikmati.
Menjelang penutupan, Pak Memet memperkenalkan semua personil yang berasal dari genre musik yang berbeda. Contohnya Yopi yang berasal dari aliran musik reggae, Putri yang beraliran dangdut dan Heri beraliran rock. Meski berasal dari aliran musik yang berbeda-beda, namun Pak Memet “merekayasa” dan jadilah “Gangsadewa” sehingga masing-masing personel dapat memainkan segala jenis instrument musik tanpa merubah karakter. Selain memperkenalkan personel satu per satu, Pak Memet juga memperkenalkan setiap alat instrumen. Katanya, dengan perpaduan setiap instrumen di Gangsadewa, dosa terbesar dalam musik yaitu “fales” tidak dimasukkan ke dalam “neraka” tetapi justru dimasukkan ke “surga” dalam musik sehingga terciptalah suatu komposisi yang justru dapat dinikmati.
Pada lagu penutup, penonton diajak “Bermain”, sesuai judulnya, karena dengan bermainlah sesungguhnya seseorang dapat menikmati hidupnya. Dengan bermain kita menjadi apa adanya, bermain kita bisa tahu; kita bisa lepas; kita bisa berlari; kita bisa berteriak; kita bisa puas. Hanya dengan “Bermain”, kita bisa menikmati belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar