Sabtu, 15 November 2014

Event Menulis FTS "Fobia"

Alhamdulillah jadi 20 kontributor, yaah meskipun tidak menang.. never mind..


SCARY BAMBOO
oleh Anis Unifah


Ini cerita yang sudah lama sekali, ketika aku masih duduk di bangku SMA di Kediri. Fobia yang aneh, menurutku. Jika kebanyakan orang punya fobia terhadap gelap, ular, kecoa, atau apapun, tapi fobia ini adalah “fobia terhadap bambu”. Setiap melihat bambu atau benda yang terbuat dari bambu maka penderita fobia ini akan ketakutan dan berusaha menghindarinya. Bukan aku yang punya fobia seperti itu tetapi Ibu dari teman SMA-ku. Namanya Bu Ratna. Beliau asli orang Kediri.
Pertama kali aku mengetahui fobia yang diderita Bu Ratna, yakni ketika aku bermain ke rumah temanku. Beliau menyuguhkan teh untukku dan mengajakku ngobrol, bertanya tentang rumahku, sedangkan temanku sedang ganti pakaian di dalam kamarnya. Saat asyik ngobrol, tiba-tiba mata beliau tertuju pada gelang yang kupakai di tangan kiriku. Sebuah gelang yang terbuat dari bambu kemudian dicat warna coklat. Entah, tiba-tiba saja keringat Bu Ratna mulai bercucuran, tubuhnya juga gemetar. Tanpa lagi meneruskan kata-kata, beliau segera masuk ke dalam dengan buru-buru. Aku merasa aneh melihatnya waktu itu, jangan-jangan ibu dari temanku ini punya penyakit jiwa atau apa, sedikit “gila”? Aku takut sendiri.
Temanku kembali menemuiku di ruang tamu. Demi menghormatinya, aku tidak menanyakannya kepada temanku itu perihal kejadian yang baru saja aku lihat tentang Ibunya. Kami asyik mengerjakan mengerjakan PR Matematika. Setelah pertemuan kami yang pertama, sampa aku pamit untuk pulang, Bu Ratna tidak keluar dan menyalamiku. Tapi aku cuek-cuek saja, tidak terlalu memikirkan fobia aneh itu. UPS BUKAN, justru saat itu aku belum tahu bahwa itu adalah fobia yang diderita Bu Ratna.
Dua hari setelah kejadian itu, aku dan temanku itu pergi jalan-jalan ke Pasar Bandar Kediri, dekat dengan sekolahku. Dia memintaku menemaninya membeli kemoceng. Katanya kemoceng di rumahnya sudah rusak bulu-bulunya jadi Ibunya memintanya untuk membeli yang baru. Memenuhi ajakannya, kami berdua ke Pasar Bandar untuk mencari kemoceng.
Disana, temanku sedang memilih-milih kemoceng. Ada kemoceng yang bagus menurutku, bukan karena warnanya tetapi karena aku lebih suka gagang kemoceng yang terbuat dari bambu lebih kuat daripada gagang kemoceng yang terbuat dari besi. Aku mengambil kemoceng bergagang bambu itu dan menyodorkannya kepada temanku supaya dipilihnya.
“Jangan yang ini.” jawabnya lalu memilih-milih lagi kemoceng yang lain.
Dia sibuk mengamati kemoceng satu per satu lalu memilih kemoceng bergagang besi dengan bulu ayam warna coklat.
“Kalau gagang besi sepertinya nggak terlalu kuat, ini lho yang awet.” Saranku menyodorkan lagi kemoceng lain bergagang bambu.
“Ibuku takut sama bambu.” Jawabnya singkat.
APAA??? Aku diam sejenak, memutar kembali kaset yang terpasang di otakku. Jadi waktu itu ketika melihat gelang yang kupakai, sebenarnya Ibunya bukan orang gila, tetapi punya fobia terhadap bambu, lalu kutanya, “Kok bisa takut sama bambu?”
“Iya, waktu kecil kalau Ibuku berbuat salah, selalu dipukul pakai bambu sama Kakekku. Karena seringnya dipukul dan kenangan-kenangan waktu kecil kan tetap melekat sampai dewasa. Makanya Ibuku takut sama bambu. Di rumah tidak ada peralatan yang terbuat dari bambu. Bahkan Ibuku juga pernah pingsan ketika melihat bambu yang begitu banyak.” Tutur temanku bercerita.
Aku mengangguk-angguk. Jadi ada juga fobia seperti itu. Setelah aku lulus SMA, aku jarang lagi bertukar kabar dengan temanku itu sehingga sampai saat ini aku tidak tau apakah Ibunya sudah sembuh dari fobianya terhadap bambu atau belum. Memang, kejadian yang terjadi pada masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap masa-masa perkembangan setelahnya. Jadi, kita para calon orang tua harus berhati-hati terhadap tindakan kita kepada anak kita nantinya, supaya tidak sampai membuat trauma atau fobia yang berakibat fatal kepada anak kita, karena hal itu kerap tidak disadari oleh orang tua. Niatnya memang baik, tapi pendekatan yang dipakai orang tua yang kurang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar