SCARY BAMBOO
oleh Anis Unifah
Ini cerita yang
sudah lama sekali, ketika aku masih duduk di bangku SMA di Kediri. Fobia yang
aneh, menurutku. Jika kebanyakan orang punya fobia terhadap gelap, ular, kecoa,
atau apapun, tapi fobia ini adalah “fobia terhadap bambu”. Setiap melihat bambu
atau benda yang terbuat dari bambu maka penderita fobia ini akan ketakutan dan berusaha
menghindarinya. Bukan aku yang punya fobia seperti itu tetapi Ibu dari teman
SMA-ku. Namanya Bu Ratna. Beliau asli orang Kediri.
Pertama kali
aku mengetahui fobia yang diderita Bu Ratna, yakni ketika aku bermain ke rumah
temanku. Beliau menyuguhkan teh untukku dan mengajakku ngobrol, bertanya
tentang rumahku, sedangkan temanku sedang ganti pakaian di dalam kamarnya. Saat
asyik ngobrol, tiba-tiba mata beliau tertuju pada gelang yang kupakai di tangan
kiriku. Sebuah gelang yang terbuat dari bambu kemudian dicat warna coklat.
Entah, tiba-tiba saja keringat Bu Ratna mulai bercucuran, tubuhnya juga
gemetar. Tanpa lagi meneruskan kata-kata, beliau segera masuk ke dalam dengan
buru-buru. Aku merasa aneh melihatnya waktu itu, jangan-jangan ibu dari temanku
ini punya penyakit jiwa atau apa, sedikit “gila”? Aku takut sendiri.
Temanku kembali
menemuiku di ruang tamu. Demi menghormatinya, aku tidak menanyakannya kepada temanku
itu perihal kejadian yang baru saja aku lihat tentang Ibunya. Kami asyik
mengerjakan mengerjakan PR Matematika. Setelah pertemuan kami yang pertama,
sampa aku pamit untuk pulang, Bu Ratna tidak keluar dan menyalamiku. Tapi aku
cuek-cuek saja, tidak terlalu memikirkan fobia aneh itu. UPS BUKAN, justru saat
itu aku belum tahu bahwa itu adalah fobia yang diderita Bu Ratna.
Dua hari
setelah kejadian itu, aku dan temanku itu pergi jalan-jalan ke Pasar Bandar
Kediri, dekat dengan sekolahku. Dia memintaku menemaninya membeli kemoceng.
Katanya kemoceng di rumahnya sudah rusak bulu-bulunya jadi Ibunya memintanya
untuk membeli yang baru. Memenuhi ajakannya, kami berdua ke Pasar Bandar untuk
mencari kemoceng.
Disana, temanku
sedang memilih-milih kemoceng. Ada kemoceng yang bagus menurutku, bukan karena
warnanya tetapi karena aku lebih suka gagang kemoceng yang terbuat dari bambu
lebih kuat daripada gagang kemoceng yang terbuat dari besi. Aku mengambil
kemoceng bergagang bambu itu dan menyodorkannya kepada temanku supaya
dipilihnya.
“Jangan yang
ini.” jawabnya lalu memilih-milih lagi kemoceng yang lain.
Dia sibuk
mengamati kemoceng satu per satu lalu memilih kemoceng bergagang besi dengan
bulu ayam warna coklat.
“Kalau gagang
besi sepertinya nggak terlalu kuat,
ini lho yang awet.” Saranku
menyodorkan lagi kemoceng lain bergagang bambu.
“Ibuku takut
sama bambu.” Jawabnya singkat.
APAA??? Aku
diam sejenak, memutar kembali kaset yang terpasang di otakku. Jadi waktu itu
ketika melihat gelang yang kupakai, sebenarnya Ibunya bukan orang gila, tetapi
punya fobia terhadap bambu, lalu kutanya, “Kok bisa takut sama bambu?”
“Iya, waktu
kecil kalau Ibuku berbuat salah, selalu dipukul pakai bambu sama Kakekku.
Karena seringnya dipukul dan kenangan-kenangan waktu kecil kan tetap melekat sampai dewasa. Makanya Ibuku takut sama bambu. Di
rumah tidak ada peralatan yang terbuat dari bambu. Bahkan Ibuku juga pernah
pingsan ketika melihat bambu yang begitu banyak.” Tutur temanku bercerita.
Aku
mengangguk-angguk. Jadi ada juga fobia seperti itu. Setelah aku lulus SMA, aku
jarang lagi bertukar kabar dengan temanku itu sehingga sampai saat ini aku
tidak tau apakah Ibunya sudah sembuh dari fobianya terhadap bambu atau belum.
Memang, kejadian yang terjadi pada masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap
masa-masa perkembangan setelahnya. Jadi, kita para calon orang tua harus
berhati-hati terhadap tindakan kita kepada anak kita nantinya, supaya tidak
sampai membuat trauma atau fobia yang berakibat fatal kepada anak kita, karena
hal itu kerap tidak disadari oleh orang tua. Niatnya memang baik, tapi
pendekatan yang dipakai orang tua yang kurang tepat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar