edisi 25 TH 67
SEBUAH PENOLAKAN
oleh Anis Unifah
Aku membuka mataku dan terenyak. Perasaanku semakin tak karuan. Sementara
Alby masih asyik menantikan saat-saat terakhir mentari yang tengah lenyap
ditelan kegelapan. Sesaat pikirku melayang. Alangkah indahnya apa yang kulihat
di depan mataku. Bukan lautan, tapi wajah Alby yang tenang. Jika dia menggilai
lautan, maka aku mengaguminya dengan kegilaan yang berkobar, laksana orang yang
berlari dari penjara kemudian mencicipi lezatnya udara kebebasan setelah lama
mendekam dalam kesempitan.
Kulihat burung camar terbang diantara pantai dan air dari muara ke laut,
dari langit ke bumi. Tapi, dimanakah letak keanehannya? Di sini! Ya, di dada
yang penuh kefasikan, segala hal yang jauh dan berlawanan terkumpul bagaikan
empat musim. Mungkinkah aku berdiri di hadapannya tanpa malu, kemudian aku
katakan kepadanya apakah yang memikat di sini, di jiwa ini?
Rasanya tidak mungkin. Aku dan Alby tidak memiliki persamaan sedikitpun.
Aku habiskan waktuku hanya dengan mengejar kesenangan. Jiwaku tumbuh di tengah-tengah
suasana pesta dan hura-hura. Alunan musiklah yang mengalirkan darahku. Tarian
dan dansa adalah gerak langkahku. Seolah kesenangan dan namaku adalah dua hal
yang tak dapat dipisahkan.
Adapun Alby tumbuh dalam studinya yang menjemukan. Jika hidupku adalah
mengejar berbagai kesenangan, yang dikejarnya adalah kesuksesan dalam belajar.
Terkadang hal itu membuatku tertawa sekaligus tak percaya, karena aku tidak
pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa hiburan, berleha-leha
dan bermalas-malasan.
Itulah Alby, seolah segala hiburannya telah terampas oleh buku-buku dan
shalat. Sungguh, aku merasa heran dengan adat baru itu. Sebuah adat yang dia
coba masukkan ke dalam rumah kami yang mabuk dalam kesenangan duniawi. Dia
adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh di tengah keluargaku yang malas dan
selalu berleha-leha.
Aku berkata kepadanya tentang kenikmatan, laut, musik dan cinta. Dan dia
berbicara kepadaku tentang kesadaran bersama, revolusi, agama, politik,
kezaliman dan keadilan sosial. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dengan gaya
bahasa yang sulit aku cerna, dengan istilah-istilah yang sulit aku lafalkan.
Aku mulai memikirkan kemustahilan hidup bersamanya di tengah dunia kami yang
tidak harmonis dan saling bertentangan. Nafsu amarahku membisikkan padaku untuk
menghinakannya dalam kehinaan yang besar. Betapa mudahnya bagiku untuk
menghinakan manusia yang hidup di rumah kami secara baik. Itulah takdir anak
pungut.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Dunia Alby ternyata telah memikatku, aku
memang tidak memahami dunianya yang penuh konflik, tapi aku mulai tertular
dengan kebiasan-kebiasaannya, seperti membaca buku.
***
Gelap mulai merangsak datang. Saat itu jantungku berdetak kencang.
Lidahku kelu untuk mengutarakan yang sebenarnya. Mungkin ini saatnya bagiku
untuk mengakui semuanya. Jika tidak, sampai kapan akan kupendam perasaan ini
padanya?
Bagaikan didorong oleh sesuatu yang bergelombang besar bak sunami, aku
mengungkapkan perasaanku padanya. Aku bilang aku mencintainya, bukan sebagai
saudara tetapi sebagai dua insan manusia. Tetapi Alby hanya tertawa mendengar
pengakuanku.
“Kenapa kau tertawa, Alby?!”
“Tidak Maisa. Mustahil bagi kita. Ini
tidak benar, Maisa. Kita adalah saudara,” ujarnya untuk menegaskan. Sudahlah
Maisa, buanglah jauh-jauh perasaan itu. Apa kau tak sadar bahwa kita adalah
saudara? Jangan kau rusak tali persaudaraan kita,” katanya lirih mencoba
menenangkanku.
“Bukan. Kau bukan saudaraku. Kau bukan saudaraku..”
Mendengar kekukuhanku, dia berbalik dan perlahan meninggalkanku. Dia
menolak cintaku. Sungguh, ini merupakan penghinaan besar bagiku. Ini adalah
pengalaman terpahit yang pernah kualami. Bagaimana bisa seorang anak yang
dipungut keluargaku menolak cinta anak seseorang yang telah memungutnya?
Langit semakin pekat, tapi cucuran air mata tak kunjung reda. Di tengah
sedu sedan, terlintas begitu saja di pikiranku keinginan untuk membalas
perlakuan Alby. Entah dari mana pikiran seperti itu datang, tapi yang jelas
penolakannya telah menyulut kedengkian yang mendalam.
Dengan hati geram aku melangkah pulang. Semilir angin dingin kala itu
tidak mampu meredakan amarah yang seolah membakar sekujur tubuhku dan
mendidihkan darahku. Meskipun niat untuk membalas dendam hanyalah sebuah
pemikiran yang terlintas begitu saja, tapi sungguh aku akan melakukannya.
Sambil berderai air mata, aku masuk ke dalam rumah dan sedikit berlari menuju
kamar. Ketika ditanya, aku menjawab dengan terbata bahwa Alby ingin
memperkosaku. Sejak lama ia tertarik padaku, namun aku menolaknya. Ayah geram, Ibu
pun terperanjat kaget bukan kepalang mendengarkan pengakuanku yang bagai petir
di siang hari.
Ayahku semakin habis kesabaran ketika Alby datang berwajah polos tak tahu
apa yang terjadi. Seketika dia tampar Alby sekuat tenaga, Alby pun terhuyung
beberapa langkah akibat tamparan hebat yang mendarat di wajahnya. Masih tidak mengaku,
Ayahku mengangkat vas bunga keramik dan dipukulkannya hingga pecah tepat
mengenai kepala Alby. Alby tersungkur di lantai kamar. Darah segar mengalir
membasahi rambutnya yang hitam, ia mengerang kesakitan. Sementara, di dalam
hati aku tertawa riang karena merasa dendamku sudah terbayarkan.
“Jangan beri dia ampun Ayah, sebenarnya telah lama dia berusaha untuk
memperkosaku!” lanjutku berusaha meyakinkan. Pengakuan palsuku itu membuat Ayah
semakin geram dan Ayah menendang perut Alby dengan keras hingga ia jatuh
tersungkur setelah membentur dinding.
Alby merintih. Perlahan dia berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit.
Dalam keadaan tak berdaya, dia menatapku dengan linangan air mata. Dia hendak mengatakan
sesuatu, tetapi suara Ayahku mendahuluinya.
“Keluar dari rumah ini manusia terkutuk! Pergi dan jangan pernah kembali!
Kau tidak pantas untuk Maisa!” teriak Ayahku penuh amarah.
Alby menatapku dengan pandangan yang melukiskan luka hatinya yang mendalam.
Saat itu, aku merasa puas. Rasa dendam dan kecewaku kepadanya sedikit terobati.
“Sekarang juga aku akan pergi, Paman. Aku akan pergi dan takkan pernah
kembali,” ucapnya terputus-putus.
Dengan langkah gontai Alby keluar dari kamar, sambil mengusap keningnya
yang berlumuran darah. Dia pergi meninggalkan kami, pergi dengan hati yang
luka. Ketika melihat kepergiannya dengan kondisi seperti itu, tiba-tiba hatiku
diguncang berbagai perasaan yang bergejolak hebat, antara benci, cinta, sedih,
dan kecewa, semuanya lebur dalam dada.
Setelah kepergiannya aku terus berada di kamarku dalam waktu yang
panjang. Di sela-sela waktu ini, aku merasa tercekik, aku menganggap segala hal
telah berguguran dalam jiwaku, aku sedang mencari jawaban hidup. Kesendirian
telah menelan keberadaanku seluruhnya, tapi bayangan Alby tetap tak mau
meninggalkanku. Semakin hari, dia seakan tertancap dalam di dada, perasaan
berdosa kepadanya seakan mengendalikan pikiranku. Dimana dia sekarang? Ya, hati
ini tidak bisa lepas dari jaring-jaring penyesalan.
Waktu luang seakan
memojokkanku dan aku tertawa di antara kebingungan dan ketakutan. Pikiran
tentang takdir mengetuk pintu gerbang akalku, padahal aku belum pernah
memikirkan sebelumnya. Aku merasa lemah di hadapan kekuatan aneh ini. Wahai takdir,
yang tidak aku ketahui sama sekali, ampunilah aku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar