Sabtu, 15 November 2014

Sebuah Cerpen

Dimuat di Koran Minggu Pagi (KR Group) Yogyakarta,
edisi 25 TH 67


SEBUAH PENOLAKAN
oleh Anis Unifah

Aku membuka mataku dan terenyak. Perasaanku semakin tak karuan. Sementara Alby masih asyik menantikan saat-saat terakhir mentari yang tengah lenyap ditelan kegelapan. Sesaat pikirku melayang. Alangkah indahnya apa yang kulihat di depan mataku. Bukan lautan, tapi wajah Alby yang tenang. Jika dia menggilai lautan, maka aku mengaguminya dengan kegilaan yang berkobar, laksana orang yang berlari dari penjara kemudian mencicipi lezatnya udara kebebasan setelah lama mendekam dalam kesempitan.
Kulihat burung camar terbang diantara pantai dan air dari muara ke laut, dari langit ke bumi. Tapi, dimanakah letak keanehannya? Di sini! Ya, di dada yang penuh kefasikan, segala hal yang jauh dan berlawanan terkumpul bagaikan empat musim. Mungkinkah aku berdiri di hadapannya tanpa malu, kemudian aku katakan kepadanya apakah yang memikat di sini, di jiwa ini?
Rasanya tidak mungkin. Aku dan Alby tidak memiliki persamaan sedikitpun. Aku habiskan waktuku hanya dengan mengejar kesenangan. Jiwaku tumbuh di tengah-tengah suasana pesta dan hura-hura. Alunan musiklah yang mengalirkan darahku. Tarian dan dansa adalah gerak langkahku. Seolah kesenangan dan namaku adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan.
Adapun Alby tumbuh dalam studinya yang menjemukan. Jika hidupku adalah mengejar berbagai kesenangan, yang dikejarnya adalah kesuksesan dalam belajar. Terkadang hal itu membuatku tertawa sekaligus tak percaya, karena aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa hiburan, berleha-leha dan bermalas-malasan.
Itulah Alby, seolah segala hiburannya telah terampas oleh buku-buku dan shalat. Sungguh, aku merasa heran dengan adat baru itu. Sebuah adat yang dia coba masukkan ke dalam rumah kami yang mabuk dalam kesenangan duniawi. Dia adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh di tengah keluargaku yang malas dan selalu berleha-leha.
Aku berkata kepadanya tentang kenikmatan, laut, musik dan cinta. Dan dia berbicara kepadaku tentang kesadaran bersama, revolusi, agama, politik, kezaliman dan keadilan sosial. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dengan gaya bahasa yang sulit aku cerna, dengan istilah-istilah yang sulit aku lafalkan. Aku mulai memikirkan kemustahilan hidup bersamanya di tengah dunia kami yang tidak harmonis dan saling bertentangan. Nafsu amarahku membisikkan padaku untuk menghinakannya dalam kehinaan yang besar. Betapa mudahnya bagiku untuk menghinakan manusia yang hidup di rumah kami secara baik. Itulah takdir anak pungut.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Dunia Alby ternyata telah memikatku, aku memang tidak memahami dunianya yang penuh konflik, tapi aku mulai tertular dengan kebiasan-kebiasaannya, seperti membaca buku.
***
Gelap mulai merangsak datang. Saat itu jantungku berdetak kencang. Lidahku kelu untuk mengutarakan yang sebenarnya. Mungkin ini saatnya bagiku untuk mengakui semuanya. Jika tidak, sampai kapan akan kupendam perasaan ini padanya?
Bagaikan didorong oleh sesuatu yang bergelombang besar bak sunami, aku mengungkapkan perasaanku padanya. Aku bilang aku mencintainya, bukan sebagai saudara tetapi sebagai dua insan manusia. Tetapi Alby hanya tertawa mendengar pengakuanku.
“Kenapa kau tertawa, Alby?!”
 “Tidak Maisa. Mustahil bagi kita. Ini tidak benar, Maisa. Kita adalah saudara,” ujarnya untuk menegaskan. Sudahlah Maisa, buanglah jauh-jauh perasaan itu. Apa kau tak sadar bahwa kita adalah saudara? Jangan kau rusak tali persaudaraan kita,” katanya lirih mencoba menenangkanku.
“Bukan. Kau bukan saudaraku. Kau bukan saudaraku..”
Mendengar kekukuhanku, dia berbalik dan perlahan meninggalkanku. Dia menolak cintaku. Sungguh, ini merupakan penghinaan besar bagiku. Ini adalah pengalaman terpahit yang pernah kualami. Bagaimana bisa seorang anak yang dipungut keluargaku menolak cinta anak seseorang yang telah memungutnya?
Langit semakin pekat, tapi cucuran air mata tak kunjung reda. Di tengah sedu sedan, terlintas begitu saja di pikiranku keinginan untuk membalas perlakuan Alby. Entah dari mana pikiran seperti itu datang, tapi yang jelas penolakannya telah menyulut kedengkian yang mendalam.
Dengan hati geram aku melangkah pulang. Semilir angin dingin kala itu tidak mampu meredakan amarah yang seolah membakar sekujur tubuhku dan mendidihkan darahku. Meskipun niat untuk membalas dendam hanyalah sebuah pemikiran yang terlintas begitu saja, tapi sungguh aku akan melakukannya. Sambil berderai air mata, aku masuk ke dalam rumah dan sedikit berlari menuju kamar. Ketika ditanya, aku menjawab dengan terbata bahwa Alby ingin memperkosaku. Sejak lama ia tertarik padaku, namun aku menolaknya. Ayah geram, Ibu pun terperanjat kaget bukan kepalang mendengarkan pengakuanku yang bagai petir di siang hari.
Ayahku semakin habis kesabaran ketika Alby datang berwajah polos tak tahu apa yang terjadi. Seketika dia tampar Alby sekuat tenaga, Alby pun terhuyung beberapa langkah akibat tamparan hebat yang mendarat di wajahnya. Masih tidak mengaku, Ayahku mengangkat vas bunga keramik dan dipukulkannya hingga pecah tepat mengenai kepala Alby. Alby tersungkur di lantai kamar. Darah segar mengalir membasahi rambutnya yang hitam, ia mengerang kesakitan. Sementara, di dalam hati aku tertawa riang karena merasa dendamku sudah terbayarkan.
“Jangan beri dia ampun Ayah, sebenarnya telah lama dia berusaha untuk memperkosaku!” lanjutku berusaha meyakinkan. Pengakuan palsuku itu membuat Ayah semakin geram dan Ayah menendang perut Alby dengan keras hingga ia jatuh tersungkur setelah membentur dinding.
Alby merintih. Perlahan dia berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit. Dalam keadaan tak berdaya, dia menatapku dengan linangan air mata. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Ayahku mendahuluinya.
“Keluar dari rumah ini manusia terkutuk! Pergi dan jangan pernah kembali! Kau tidak pantas untuk Maisa!” teriak Ayahku penuh amarah.
Alby menatapku dengan pandangan yang melukiskan luka hatinya yang mendalam. Saat itu, aku merasa puas. Rasa dendam dan kecewaku kepadanya sedikit terobati. “Sekarang juga aku akan pergi, Paman. Aku akan pergi dan takkan pernah kembali,” ucapnya terputus-putus.
Dengan langkah gontai Alby keluar dari kamar, sambil mengusap keningnya yang berlumuran darah. Dia pergi meninggalkan kami, pergi dengan hati yang luka. Ketika melihat kepergiannya dengan kondisi seperti itu, tiba-tiba hatiku diguncang berbagai perasaan yang bergejolak hebat, antara benci, cinta, sedih, dan kecewa, semuanya lebur dalam dada.
Setelah kepergiannya aku terus berada di kamarku dalam waktu yang panjang. Di sela-sela waktu ini, aku merasa tercekik, aku menganggap segala hal telah berguguran dalam jiwaku, aku sedang mencari jawaban hidup. Kesendirian telah menelan keberadaanku seluruhnya, tapi bayangan Alby tetap tak mau meninggalkanku. Semakin hari, dia seakan tertancap dalam di dada, perasaan berdosa kepadanya seakan mengendalikan pikiranku. Dimana dia sekarang? Ya, hati ini tidak bisa lepas dari jaring-jaring penyesalan.
Waktu luang seakan memojokkanku dan aku tertawa di antara kebingungan dan ketakutan. Pikiran tentang takdir mengetuk pintu gerbang akalku, padahal aku belum pernah memikirkan sebelumnya. Aku merasa lemah di hadapan kekuatan aneh ini. Wahai takdir, yang tidak aku ketahui sama sekali, ampunilah aku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar