Sabtu, 15 November 2014

Event Menulis Cerita Fiksimini tentang Hujan

Cerpenku masuk lagi di event menulis Fiksimini tentang Hujan..
Ini cerita komedi romantis... :D

PAYUNG BIRU
oleh Anis Unifah

Awalnya aku mengesalkan hujan deras hari ini. Mencerca nikmat dari Allah lewat hujan yang melimpah. Petani pasti bersyukur karena hujan kali ini menyuburkan tanahnya sehingga padinya akan lebih lebat lagi bijinya. Tetapi, aku yang terdiam sendiri di teras kelas sangat menyesal, sedih dan hatiku tak karuan. Sementara teman-teman tengah asyik berjalan di bawah payung menuju pulang sambil menikmati hujan yang memercik sepatu dan seragam putih abu-abunya, aku menyalahkan hujan padahal aku sudah tahu Allah merencanakannya.
“Aku lupa membawa payung,” Inilah kesalahanku. Tetapi aku mengelak kelupaanku sendiri dan menyalahkan hujan yang tak berbuat dosa. Memang benar lupa itu tidak berdosa, tetapi aku justru mendosakan lupa karena ia telah menahanku disini bersama hujan yang menipiskan waktuku disini tanpa berbuat apa-apa. Sia-sia waktuku, pikirku.
“Diska,” seseorang memanggilku.
Meskipun aku tidak mencari sumber suara, aku sudah tahu suara itu milik siapa. Mas Alif tersenyum kepadaku lalu mengalihkan pandangan ke tetesan hujan di depannya, tetesan yang turun dari atas genteng. Dialah Ketua OSIS, kakak kelas yang telah aku sukai sejak aku masuk SMA. Sudah hampir dua tahun aku menyukainya. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri ketika MOS. Teman-teman begitu iri melihat kedekatanku dengannya, tetapi Mas Alif menjawab kami sebatas layaknya kakak dan adik. Dia ingin punya adik perempuan seperti aku karena dia anak tunggal, sedangkan aku menginginkan seorang kakak lelaki karena aku anak pertama dan dua adikku semuanya perempuan.
“Kamu tidak bawa payung?” tanyanya.
“Tidak. Padahal aku sudah dengar berita cuaca kemungkinannya hampir 100 % hari ini akan turun hujan.”
Mas Alif mengeluarkan payung biru dari dalam tasnya. “Baiklah, kamu pakai saja Diska. Aku tak apa-apa tidak pakai payung.”
Sebelum mendengarkan jawabanku dia berlari pergi.
Tidak mungkin aku membiarkan orang yang kusukai basah oleh hujan menyebalkan. Dibawah mekarnya payung, aku berlari mengejarnya. Kulihat dia hampir basah kuyup dan segera kukejar. Langkahnya terhenti ketika dia merasa ada yang menghalangi siraman hujan ke tubuhnya. Kuperlihatkan senyum termanis yang kupunya lalu kami berjalan dibawah payung yang sama. Disampingnya, aku merasa sangat pendek. Tinggi Mas Alif sekitar 173 cm sedangkan aku hanya 151 cm. Interval jarak yang sangat jauh, sehingga tinggiku hanya sebatas lengannya saja.
Tanganku gemetar memegang batang payung. Aku begitu gugup layaknya tampil di panggung yang ditonton ribuan orang. Ini pertama kalinya berjalan berdua dengannya. Ada sesuatu yang membuncah didada, seperti kawah yang mendidih. Mungkinkah ini cinta? Namun sebelum aku menyadarinya, Mas Alif telah lebih dulu menyadarkanku dari lamunan. Payung yang kupegang justru nyangkut dan menutupi wajahnya. Orang-orang di jalan tertawa melihat payung menutupi wajah Mas Alif, hahaha.
Karena kejadian memalukan itu, Mas Alif sekarang yang ganti memegang batang payung. Sangat romantis sekali, pikirku. Mungkinkah ini akan jadi momen tak terlupakan sepanjang masa remajaku? Meski sekitar 20 cm jarak kami tetapi tetap saja masih membuatku senang karna kami masih berbagi payung yang sama. Aku senyum-senyum sendiri, tetapi tiba-tiba kepalaku terasa dingin. Tepi payung tepat berada di atas kepalaku sehingga jatuhnya air dari atas payung meluncur tepat ke kepalaku, deras seperti air terjun. Mas Alif, yang bener bawa payungnya dong!!
Setelah kejadian memalukan yang kedua, dia lebih dekat meskipun kami tidak bersentuhan. Dia tidak ingin berdua-duaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, katanya yang ketiga adalah syetan. Aku mengiyakan, cukup sekali ini saja kami berdua berjalan di bawah payung yang sama.
“Ayahku hari ini ke Surabaya,” katanya tiba-tiba.
Ibunya telah tiada dan hanya tinggal bersama Ayahnya saja. Ayahnya seorang pengusaha tekstil yang sering bepergian keluar kota karena itu Mas Alif sering sendirian di rumahnya.
Pikiranku menerawang jauh sementara rumahku semakin dekat. Jika saja ini yang terakhir aku berjalan berdua saja, dibawah payung yang sama dengan Mas Alif, maka aku berharap tidak akan pernah sampai rumah. Jika saja rumahku sedikit lebih jauh lagi. Jika saja aku tidak pernah sampai rumahku, tapi itu mustahil sekali kan?
“Jika saja…” Mas Alif mengatakan sesuatu seolah bisa membaca pikiranku, ataukah kami bisa bertelepati?
Hatiku terasa berdegup-degup, kawah yang tadinya telah dingin kini mendidih kembali bahkan lebih panas dari sebelumnya.
“Jika saja tidak pernah sampai ke rumahku…” dia melanjutkan kata-katanya semakin membuatku penasaran, benarkah kami punya pikiran yang sama?
“Di rumahku… aku baru ingat kalau ada jemuran …” lanjutnya.
APAAA? Jadi tidak romantis lagi.




Yogyakarta, 10 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar