Ini cerita komedi romantis... :D
PAYUNG BIRU
oleh Anis Unifah
Awalnya aku
mengesalkan hujan deras hari ini. Mencerca nikmat dari Allah lewat hujan yang
melimpah. Petani pasti bersyukur karena hujan kali ini menyuburkan tanahnya
sehingga padinya akan lebih lebat lagi bijinya. Tetapi, aku yang terdiam sendiri
di teras kelas sangat menyesal, sedih dan hatiku tak karuan. Sementara
teman-teman tengah asyik berjalan di bawah payung menuju pulang sambil
menikmati hujan yang memercik sepatu dan seragam putih abu-abunya, aku menyalahkan
hujan padahal aku sudah tahu Allah merencanakannya.
“Aku lupa
membawa payung,” Inilah kesalahanku. Tetapi aku mengelak kelupaanku sendiri dan
menyalahkan hujan yang tak berbuat dosa. Memang benar lupa itu tidak berdosa,
tetapi aku justru mendosakan lupa karena ia telah menahanku disini bersama
hujan yang menipiskan waktuku disini tanpa berbuat apa-apa. Sia-sia waktuku,
pikirku.
“Diska,”
seseorang memanggilku.
Meskipun aku
tidak mencari sumber suara, aku sudah tahu suara itu milik siapa. Mas Alif
tersenyum kepadaku lalu mengalihkan pandangan ke tetesan hujan di depannya,
tetesan yang turun dari atas genteng. Dialah Ketua OSIS, kakak kelas yang telah
aku sukai sejak aku masuk SMA. Sudah hampir dua tahun aku menyukainya. Aku
masih ingat dengan jelas bagaimana dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri
ketika MOS. Teman-teman begitu iri melihat kedekatanku dengannya, tetapi Mas Alif
menjawab kami sebatas layaknya kakak dan adik. Dia ingin punya adik perempuan
seperti aku karena dia anak tunggal, sedangkan aku menginginkan seorang kakak
lelaki karena aku anak pertama dan dua adikku semuanya perempuan.
“Kamu tidak
bawa payung?” tanyanya.
“Tidak. Padahal
aku sudah dengar berita cuaca kemungkinannya hampir 100 % hari ini akan turun
hujan.”
Mas Alif mengeluarkan
payung biru dari dalam tasnya. “Baiklah, kamu pakai saja Diska. Aku tak apa-apa
tidak pakai payung.”
Sebelum mendengarkan
jawabanku dia berlari pergi.
Tidak mungkin
aku membiarkan orang yang kusukai basah oleh hujan menyebalkan. Dibawah mekarnya
payung, aku berlari mengejarnya. Kulihat dia hampir basah kuyup dan segera
kukejar. Langkahnya terhenti ketika dia merasa ada yang menghalangi siraman
hujan ke tubuhnya. Kuperlihatkan senyum termanis yang kupunya lalu kami
berjalan dibawah payung yang sama. Disampingnya, aku merasa sangat pendek. Tinggi
Mas Alif sekitar 173 cm sedangkan aku hanya 151 cm. Interval jarak yang sangat
jauh, sehingga tinggiku hanya sebatas lengannya saja.
Tanganku
gemetar memegang batang payung. Aku begitu gugup layaknya tampil di panggung yang
ditonton ribuan orang. Ini pertama kalinya berjalan berdua dengannya. Ada sesuatu
yang membuncah didada, seperti kawah yang mendidih. Mungkinkah ini cinta? Namun
sebelum aku menyadarinya, Mas Alif telah lebih dulu menyadarkanku dari lamunan.
Payung yang kupegang justru nyangkut dan menutupi wajahnya. Orang-orang di
jalan tertawa melihat payung menutupi wajah Mas Alif, hahaha.
Karena kejadian
memalukan itu, Mas Alif sekarang yang ganti memegang batang payung. Sangat romantis sekali, pikirku.
Mungkinkah ini akan jadi momen tak terlupakan sepanjang masa remajaku? Meski sekitar
20 cm jarak kami tetapi tetap saja masih membuatku senang karna kami masih berbagi
payung yang sama. Aku senyum-senyum sendiri, tetapi tiba-tiba kepalaku terasa
dingin. Tepi payung tepat berada di atas kepalaku sehingga jatuhnya air dari
atas payung meluncur tepat ke kepalaku, deras seperti air terjun. Mas Alif, yang bener bawa payungnya dong!!
Setelah
kejadian memalukan yang kedua, dia lebih dekat meskipun kami tidak bersentuhan.
Dia tidak ingin berdua-duaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya, katanya
yang ketiga adalah syetan. Aku mengiyakan, cukup sekali ini saja kami berdua
berjalan di bawah payung yang sama.
“Ayahku hari
ini ke Surabaya,” katanya tiba-tiba.
Ibunya telah tiada
dan hanya tinggal bersama Ayahnya saja. Ayahnya seorang pengusaha tekstil yang
sering bepergian keluar kota karena itu Mas Alif sering sendirian di rumahnya.
Pikiranku
menerawang jauh sementara rumahku semakin dekat. Jika saja ini yang terakhir aku berjalan berdua saja, dibawah payung
yang sama dengan Mas Alif, maka aku berharap tidak akan pernah sampai rumah. Jika
saja rumahku sedikit lebih jauh lagi. Jika saja aku tidak pernah sampai
rumahku, tapi itu mustahil sekali kan?
“Jika saja…”
Mas Alif mengatakan sesuatu seolah bisa membaca pikiranku, ataukah kami bisa
bertelepati?
Hatiku terasa
berdegup-degup, kawah yang tadinya telah dingin kini mendidih kembali bahkan
lebih panas dari sebelumnya.
“Jika saja
tidak pernah sampai ke rumahku…” dia melanjutkan kata-katanya semakin membuatku
penasaran, benarkah kami punya pikiran yang sama?
“Di rumahku…
aku baru ingat kalau ada jemuran …” lanjutnya.
APAAA? Jadi tidak romantis lagi.
Yogyakarta, 10 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar