Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen "Bittersweet"

dibukukan dalam buku seri 1 "Tea & Coffee Pot"_Kontributor event menulis tema 'Kopi Teh'_Penerbit Infinite Publisher



BITTERSWEET
oleh Anis Unifah

Menjadi seorang Barista adalah impiannya, karena ia menyukai kopi. Tapi ia tak pernah tau bahwa kopi ternikmat di dunia bukanlah kopi yang dibuat dengan mesin espresso atau mesin pembuat kopi lainnya. Justru kopi ternikmat dibuat oleh tangan penuh cinta, yang dengan jeli merebus air jangan sampai mendidih meluap dan menimang-nimang seberapa banyak gula yang diperlukan untuk mencampur kopinya.
“Mary,” lagi-lagi dia memanggilku dengan nada datar, seperti waktu kuliah dulu ketika kami sering ke kedai kopi bersama dan menghabiskan waktu meminum secangkir kopi ditemani tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Dia menyukai kopi kental dan pahit sementara aku tak tahan dengan pahitnya kopi, karena itulah aku suka kopi susu yang manis.
“Sam?” aku memenuhi panggilannya dan kami berdua seolah teman lama yang berpisah bertahun-tahun. Aku memang tak pernah melihatnya sejak kami lulus kuliah, satu tahun yang lalu. Hanya satu tahun.
Dia mengajakku mampir ke kedainya. Aku tak menyangka dia sudah mempunyai kedai kopi sendiri, seperti impiannya. Dia mempekerjakan dua orang, satu untuk menjaga kasir dan satu lagi menjadi Barista.
“Kenapa tak kau saja yang menjadi Barista, Sam?” tanyaku padanya saat kami duduk di salah satu kursi kedai itu. “Bukankah kau punya tangan ajaib untuk membuat kopi yang enak dengan mesin espresso, atau single serve coffee machine?”
Tiba-tiba Sam tertawa mendengar apa yang aku ucapkan.
Why? Ada yang salah?” tanyaku penasaran.
Single serve coffee machine hanya cocok untuk mereka yang suka dengan hal-hal praktis. Tidak perlu ribet menghitung takaran kopi bubuk karena kopi bubuknya sudah dikemas didalam sebuah kemasan yang sesuai dengan takaran untuk membuat secangkir kopi yang disebut coffee pod. Cukup masukkan kemasan tersebut ke dalam mesin kopi dan didihkan seperti cara memakai mesin Espresso.”
“Waow! Kau bahkan tahu perbedaan kegunaan mesin-mesin itu.”
Aku memandang takjub padanya, sama seperti saat kuliah dulu ketika dia menjawab pertanyaan dosen dengan jawaban yang ilmiah dan sistematis, perfect. Tak bisa kupingkiri, karena kecerdasan yang menawan darinyalah aku menyukai lelaki jangkung dengan tinggi 180 cm itu. Dagunya yang lancip dan penuh menggambarkan kepribadiannya yang mantap dan siap mengambil resiko apapun.
“Meski mesin espresso adalah salah satu mesin kopi yang paling canggih karena hampir semuanya serba otomatis, misalnya pengaturan suhu, tetap tak bisa dipungkiri kalau tangan Barista tetap masih menjadi penentu rasa dari secangkir kopi yang dihasilkan,” katanya bangga.
“Apa kau pernah membuat kopi tanpa mesin, Sam?” tanyaku.
“Tentu saja pernah. Bukan penikmat kopi jika dia tidak bisa membuat kopinya sendiri. Kadang aku juga pernah merebus air sendiri di kedai ini. Tapi karena kompor gas tidak sering dipakai, aku takut,” jawabnya. “Tapi aku suka kopi dengan sedikit gula, sangat sedikit.”
“Aku tau kau suka dengan sesuatu yang manis,” selaku.
“Tapi tidak untuk kopi.”
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Secangkir kopi kental dan pahit, itulah hidupku. Setiap hari setelah bangun tidur dan sebelum memulai kegiatan sehari, aku pasti menyiapkan secangkir kopi yang pahit dan kental. Ketika kerongkonganku dibangkitkan oleh pahitnya kopi kental, isi kepalakupun seakan terlonjak bangun.”
“Oh ya?”
Dia mengangguk, “Hidup seperti kopi, ada manis dan ada pahitnya. Kau tahu bittersweet?”
“Manis bercampur pahit?” tebakku.
“Ya, tetapi seberapapun manisnya kopi, rasa pahitnya tak akan bisa disembunyikan. Hidup juga butuh secangkir kopi yang pahit, Mary, agar kita bisa mempertimbangkan secara lebih matang dan mendalam agar bisa mengambil langkah baru dan memberi nilai baru. Hanya dengan begitu kita bisa menjadi lebih gigih dan kuat. Jadi, kita harus bersiap-siap dengan semua kemungkinan rasa pahit dalam hidup ini.”
“Filosofi sekali kau menyamakan hidup ini dengan kopi?”
“Karena kopi pun punya filosofinya sendiri. Rasa manis karena gula yang bercampur kopi adalah kenangan-kenangan indah dan saat menyenangkan dalam hidup kita. Tapi jangan lupa rasa pahitnya, tak jarang kita dihadapkan pada momen-momen pahit yang membuat kita merasa sedih, terluka, atau bahkan berduka. Kau pasti pernah merasakan pahitnya hidup kan?”
Aku mencerna kata-katanya dan dia sangat tau duka terbesar dalam hidupku ketika aku kehilangan Ibuku untuk selamanya. Tentu dia tau jawaban apa yang akan aku berikan. Namun, ketertarikanku padanya semakin menipiskan rasa kejujuranku untuk menjawab seperti apa yang aku rasakan.
“Mungkin aku tak pernah mengalami duka yang dalam,” kataku berbohong. “Tapi seperti katamu, kita harus siap untuk menghadapi kemungkinan terpahit dalam hidup.”
“Jika saja kau ingin menikmati kopi dan ternyata di depanmu tak ada gula, maka mau tak mau kau akan menikmati kopi yang pahit dan kental. Mungkin kau tak suka untuk pertama kalinya, tapi setelah terbiasa, kau tak akan lagi merasakan pahitnya, justru kau menyukainya. Begitu juga dengan hidup, Mary. Mungkin saat pertama kali duka datang, kau tak suka. Tetapi jika pahitnya hidup sudah terbiasa kau rasakan, maka kau akan menyukainya dan karena pahit itulah kau akan menjadi pribadi yang kuat dan gigih.”
Mungkin memang benar kata Sam. Tetapi karena kehilangan Ibu yang telah melahirkanku, mungkin aku tak ingin merasakan pahit lagi dalam hidup.
“Mungkin suatu saat kau akan mengerti perkataanku, Mary,” katanya dan aku menjawab dengan anggukan.
Ya, mungkin, suatu saat nanti.
***
Sejak hari itu, kami sering bertemu dan dia bilang mencintaiku dan ingin menikahiku. Semua terjadi begitu cepat dan dia datang bersama orang tuanya ke rumah untuk melamar. Terjadilah pertunangan dan tanggal pernikahanpun disepakati.
***
H-2…
Sam bilang masih ada di kedainya ketika aku menelepon dari rumahku malam-malam. Ada masalah di kedainya tapi dia tidak cerita tentang masalah yang terjadi disana. Aku hanya bilang padanya untuk segera pulang setelah urusan selesai.
Dia hanya menjawab, “Aku mencintaimu.”
Bukan seperti Sam biasanya. Dia memang lelaki yang sulit mengekspresikan perasaannya. Bahkan ketika dia ingin menikahiku, dia sama sekali tidak bilang mencintaiku. Tapi kali ini rasanya lain. Kata-kata yang menunjukkan ekspresi cinta darinya itu justru membuatku khawatir.
Itulah percakapan terakhirku dengannya. Satu jam kemudian, ada sebuah telepon dari rumah sakit, Sam ada di rumah sakit.
Mana mungkin? Dia masih meneleponku satu jam yang lalu. Apa yang terjadi dengannya?
“Ada ledakan gas di kedai kopi. Sepertinya kompor gas itu sudah lama tidak dipakai,” kata seorang saksi mata.
Aku segera pergi ke rumah sakit bersama Ayahku. Tapi aku hanya menemukan tubuh Sam yang tak bernyawa. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan seseorang yang kucintai.
Aku sedikit menyesal, mengapa dia tidak menunggu beberapa hari saja untuk mencicipi kopi buatanku sendiri ketika ia bangun pagi setelah kita menikah. Kini tak ada lagi masa depan seperti itu. Sam telah pergi meninggalkan duka yang teramat dalam di kalbuku.
Semua persiapan menikah dibatalkan. Hari-hariku terasa pahit seperti kopi yang diceritakan Sam. Bittersweet. Aku mengikuti kebiasaannya menikmati kopi pahit dan kental setelah bangun tidur, tetapi isi kepalaku sama sekali tak terlonjak bangun tapi justru tenggelam dalam nostalgia manis bersama Sam saat kami kuliah dulu.
Seperti kata Sam, hidup seperti kopi. Semanis apapun rasanya, rasa pahit kopi tak akan bisa disembunyikan. Karena kopi pahit dan kental yang pertama kali kita coba, mungkin kita tak akan suka pada awalnya tetapi jika telah terbiasa dengan pahitnya maka kita akan tumbuh menjadi kuat dan gigih. Mungkin itulah yang diharapkan Sam, aku harus tetap kuat meski kehilangan dia untuk selama-lamanya.
Beginilah hidupku, seperti kopi yang siap menghadapi pahitnya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar