BITTERSWEET
oleh
Anis Unifah
Menjadi seorang
Barista adalah impiannya, karena ia menyukai kopi. Tapi ia tak pernah tau bahwa
kopi ternikmat di dunia bukanlah kopi yang dibuat dengan mesin espresso atau
mesin pembuat kopi lainnya. Justru kopi ternikmat dibuat oleh tangan penuh
cinta, yang dengan jeli merebus air jangan sampai mendidih meluap dan
menimang-nimang seberapa banyak gula yang diperlukan untuk mencampur kopinya.
“Mary,”
lagi-lagi dia memanggilku dengan nada datar, seperti waktu kuliah dulu ketika
kami sering ke kedai kopi bersama dan menghabiskan waktu meminum secangkir kopi
ditemani tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Dia menyukai kopi kental dan pahit
sementara aku tak tahan dengan pahitnya kopi, karena itulah aku suka kopi susu
yang manis.
“Sam?” aku
memenuhi panggilannya dan kami berdua seolah teman lama yang berpisah
bertahun-tahun. Aku memang tak pernah melihatnya sejak kami lulus kuliah, satu
tahun yang lalu. Hanya satu tahun.
Dia mengajakku
mampir ke kedainya. Aku tak menyangka dia sudah mempunyai kedai kopi sendiri,
seperti impiannya. Dia mempekerjakan dua orang, satu untuk menjaga kasir dan
satu lagi menjadi Barista.
“Kenapa tak kau
saja yang menjadi Barista, Sam?” tanyaku padanya saat kami duduk di salah satu kursi
kedai itu. “Bukankah kau punya tangan ajaib untuk membuat kopi yang enak dengan
mesin espresso, atau single serve coffee
machine?”
Tiba-tiba Sam
tertawa mendengar apa yang aku ucapkan.
“Why? Ada yang salah?” tanyaku penasaran.
“Single serve coffee machine hanya cocok
untuk mereka yang suka dengan hal-hal praktis. Tidak perlu ribet menghitung takaran
kopi bubuk karena kopi bubuknya sudah dikemas didalam sebuah kemasan yang
sesuai dengan takaran untuk membuat secangkir kopi yang disebut coffee pod. Cukup masukkan kemasan
tersebut ke dalam mesin kopi dan didihkan seperti cara memakai mesin Espresso.”
“Waow! Kau
bahkan tahu perbedaan kegunaan mesin-mesin itu.”
Aku memandang
takjub padanya, sama seperti saat kuliah dulu ketika dia menjawab pertanyaan
dosen dengan jawaban yang ilmiah dan sistematis, perfect. Tak bisa kupingkiri, karena kecerdasan yang menawan
darinyalah aku menyukai lelaki jangkung dengan tinggi 180 cm itu. Dagunya yang
lancip dan penuh menggambarkan kepribadiannya yang mantap dan siap mengambil
resiko apapun.
“Meski mesin
espresso adalah salah satu mesin kopi yang paling canggih karena hampir
semuanya serba otomatis, misalnya pengaturan suhu, tetap tak bisa dipungkiri
kalau tangan Barista tetap masih menjadi penentu rasa dari secangkir kopi yang
dihasilkan,” katanya bangga.
“Apa kau pernah
membuat kopi tanpa mesin, Sam?” tanyaku.
“Tentu saja
pernah. Bukan penikmat kopi jika dia tidak bisa membuat kopinya sendiri. Kadang
aku juga pernah merebus air sendiri di kedai ini. Tapi karena kompor gas tidak
sering dipakai, aku takut,” jawabnya. “Tapi aku suka kopi dengan sedikit gula,
sangat sedikit.”
“Aku tau kau
suka dengan sesuatu yang manis,” selaku.
“Tapi tidak
untuk kopi.”
“Kenapa?”
tanyaku penasaran.
“Secangkir kopi
kental dan pahit, itulah hidupku. Setiap hari setelah bangun tidur dan sebelum
memulai kegiatan sehari, aku pasti menyiapkan secangkir kopi yang pahit dan
kental. Ketika kerongkonganku dibangkitkan oleh pahitnya kopi kental, isi
kepalakupun seakan terlonjak bangun.”
“Oh ya?”
Dia mengangguk,
“Hidup seperti kopi, ada manis dan ada pahitnya. Kau tahu bittersweet?”
“Manis bercampur
pahit?” tebakku.
“Ya, tetapi
seberapapun manisnya kopi, rasa pahitnya tak akan bisa disembunyikan. Hidup
juga butuh secangkir kopi yang pahit, Mary, agar kita bisa mempertimbangkan secara
lebih matang dan mendalam agar bisa mengambil langkah baru dan memberi nilai
baru. Hanya dengan begitu kita bisa menjadi lebih gigih dan kuat. Jadi, kita
harus bersiap-siap dengan semua kemungkinan rasa pahit dalam hidup ini.”
“Filosofi sekali
kau menyamakan hidup ini dengan kopi?”
“Karena kopi pun
punya filosofinya sendiri. Rasa manis karena gula yang bercampur kopi adalah
kenangan-kenangan indah dan saat menyenangkan dalam hidup kita. Tapi jangan
lupa rasa pahitnya, tak jarang kita dihadapkan pada momen-momen pahit yang
membuat kita merasa sedih, terluka, atau bahkan berduka. Kau pasti pernah
merasakan pahitnya hidup kan?”
Aku mencerna
kata-katanya dan dia sangat tau duka terbesar dalam hidupku ketika aku
kehilangan Ibuku untuk selamanya. Tentu dia tau jawaban apa yang akan aku
berikan. Namun, ketertarikanku padanya semakin menipiskan rasa kejujuranku
untuk menjawab seperti apa yang aku rasakan.
“Mungkin aku tak
pernah mengalami duka yang dalam,” kataku berbohong. “Tapi seperti katamu, kita
harus siap untuk menghadapi kemungkinan terpahit dalam hidup.”
“Jika saja kau
ingin menikmati kopi dan ternyata di depanmu tak ada gula, maka mau tak mau kau
akan menikmati kopi yang pahit dan kental. Mungkin kau tak suka untuk pertama
kalinya, tapi setelah terbiasa, kau tak akan lagi merasakan pahitnya, justru
kau menyukainya. Begitu juga dengan hidup, Mary. Mungkin saat pertama kali duka
datang, kau tak suka. Tetapi jika pahitnya hidup sudah terbiasa kau rasakan,
maka kau akan menyukainya dan karena pahit itulah kau akan menjadi pribadi yang
kuat dan gigih.”
Mungkin memang
benar kata Sam. Tetapi karena kehilangan Ibu yang telah melahirkanku, mungkin
aku tak ingin merasakan pahit lagi dalam hidup.
“Mungkin suatu
saat kau akan mengerti perkataanku, Mary,” katanya dan aku menjawab dengan
anggukan.
Ya, mungkin,
suatu saat nanti.
***
Sejak hari itu,
kami sering bertemu dan dia bilang mencintaiku dan ingin menikahiku. Semua
terjadi begitu cepat dan dia datang bersama orang tuanya ke rumah untuk
melamar. Terjadilah pertunangan dan tanggal pernikahanpun disepakati.
***
H-2…
Sam bilang masih
ada di kedainya ketika aku menelepon dari rumahku malam-malam. Ada masalah di
kedainya tapi dia tidak cerita tentang masalah yang terjadi disana. Aku hanya
bilang padanya untuk segera pulang setelah urusan selesai.
Dia hanya
menjawab, “Aku mencintaimu.”
Bukan seperti
Sam biasanya. Dia memang lelaki yang sulit mengekspresikan perasaannya. Bahkan
ketika dia ingin menikahiku, dia sama sekali tidak bilang mencintaiku. Tapi
kali ini rasanya lain. Kata-kata yang menunjukkan ekspresi cinta darinya itu
justru membuatku khawatir.
Itulah
percakapan terakhirku dengannya. Satu jam kemudian, ada sebuah telepon dari
rumah sakit, Sam ada di rumah sakit.
Mana mungkin?
Dia masih meneleponku satu jam yang lalu. Apa yang terjadi dengannya?
“Ada ledakan gas
di kedai kopi. Sepertinya kompor gas itu sudah lama tidak dipakai,” kata
seorang saksi mata.
Aku segera pergi
ke rumah sakit bersama Ayahku. Tapi aku hanya menemukan tubuh Sam yang tak
bernyawa. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan seseorang yang kucintai.
Aku sedikit
menyesal, mengapa dia tidak menunggu beberapa hari saja untuk mencicipi kopi
buatanku sendiri ketika ia bangun pagi setelah kita menikah. Kini tak ada lagi
masa depan seperti itu. Sam telah pergi meninggalkan duka yang teramat dalam di
kalbuku.
Semua persiapan
menikah dibatalkan. Hari-hariku terasa pahit seperti kopi yang diceritakan Sam.
Bittersweet. Aku mengikuti
kebiasaannya menikmati kopi pahit dan kental setelah bangun tidur, tetapi isi
kepalaku sama sekali tak terlonjak bangun tapi justru tenggelam dalam nostalgia
manis bersama Sam saat kami kuliah dulu.
Seperti kata
Sam, hidup seperti kopi. Semanis apapun rasanya, rasa pahit kopi tak akan bisa
disembunyikan. Karena kopi pahit dan kental yang pertama kali kita coba,
mungkin kita tak akan suka pada awalnya tetapi jika telah terbiasa dengan
pahitnya maka kita akan tumbuh menjadi kuat dan gigih. Mungkin itulah yang
diharapkan Sam, aku harus tetap kuat meski kehilangan dia untuk selama-lamanya.
Beginilah
hidupku, seperti kopi yang siap menghadapi pahitnya hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar