SUMPAH ALLY
oleh
Anis Unifah
Ally hanyalah seekor singa
perempuan kecil dan lemah, tak sekuat sang Ayah, Leo yang menjadi Raja Hutan.
Ibu Ally telah tiada. Ally sering mengutuk dirinya sendiri mengapa ia harus
menjadi anak tunggal dan satu-satunya pewaris tahta Raja Hutan suatu saat
nanti.
“Kita harus mencari tempat
tinggal lain,” kata Leo di depan para singa lain.
Malam itu hampir separuh
hutan tak lagi berpohon, gersang dan udara dingin begitu menusuk.
“Bulan lalu tanah yang
tandus sudah longsor karena tidak ada lagi pohon yang dapat menyerap air hujan.
Satu minggu lagi sudah tiba musim kemarau, hutan ini bisa terbakar kapan saja,”
Leo berkata dan raut wajahnya tampak sangat muram.
Para hewan lain pun
berdatangan ikut berkumpul bersama para singa, berharap mereka mendapat
perlindungan dari Raja Hutan.
“Kita tidak bisa lagi
mendapat air bersih disini, telah tercemar,” desah Kuda.
“Ya, bahan makanan kita
juga sudah menipis. Buah-buahan juga sudah mulai habis,” tambah Kelelawar.
Semua hewan mengajukan kepada
Leo untuk mencari hutan baru sebagai tempat tinggal mereka. Hutan yang mereka
tempati sekarang tidak lagi cocok untuk tempat tinggal mereka. Bulan lalu,
tanah longsor saat mereka sedang terlelap tidur sehingga banyak binatang musnah
dan mereka kehilangan keluarga serta teman-teman mereka.
“Aku akan mencari tempat
baru sebagai tempat tinggal kita. Sabarlah sedikit!” Leo memberikan janji
kepada para hewan untuk menenangkan hati mereka yang gelisah akan bencana yang
bisa datang setiap saat.
Leo bisa dipercaya, dia
berhati mulia dan bijaksana sehingga ia dipilih sebagai Raja Hutan. Oleh sebab
itu mereka mempercayai kata-kata Leo.
Setelah mereka pergi
dengan janji Leo di benak mereka. Leo berada di atas tumpukan rumput kering.
Tubuhnya kelelahan karena mencari makan tadi siang ke tempat yang jauh. Ya,
makanan mulai menipis di hutan ini.
Sedangkan Ally memandangi
rembulan yang seolah bertengger di atas gunung di seberang. Dia menikmatinya,
kemudian dia bertanya pada Ayahnya, “Ayah, apa Ayah percaya disana masih ada
hutan yang hijau?”
Leo bangun kemudian dia
menatap rembulan itu dan berkata, “Aku harap aku bisa mempercayainya. Besok aku
akan mencari hutan baru untuk kita tinggali, disana. Tempat ini sudah tidak
layak lagi, para hewan bisa mati karena tempat yang sudah tidak ada pohon lagi.
Dengar, Ally, pohon adalah sumber dari kehidupan tetapi manusia seringkali
meremehkannya atas nama perut yang kelaparan. Mereka tak sadar bahwa hewan juga
punya perut. Disinilah kita dan manusia tidak peduli.”
“Apa Ayah membenci
manusia?” tanya Ally.
Leo membuang nafas panjang
sehingga bulu-bulunya terhembus nafasnya kemudian menjawab, “tidak semua, Ally.
Aku pernah mengenal manusia yang menjaga kelestarian hutan dan isi hutan
seperti kita, tapi mereka kalah jumlah. Perusak lebih banyak daripada
pelestari.”
Ally mengangguk-angguk.
“Ayo pergi tidur, Ally.
Badanmu masih belum kuat dan suatu saat kau akan menggantikan aku menjadi Raja
Hutan,” kata Leo.
“Aku perempuan,” jawab
Ally putus asa.
“Biar kau perempuan atau
laki-laki, kau tetaplah singa yang suatu saat akan menjadi pimpinan. Jadi,
jadilah kuat, Ally,” kata Leo mantap.
Ally mengangguk.
“Besok aku akan pergi ke
gunung itu, aku dapat mencium bau hutan hijau yang cukup baik untuk tempat
tinggal kita nanti disana. Saat aku mengaum dari gunung itu…” Leo menunjuk
gunung seberang di bawah rembulan yang mereka pandang. “…maka itu adalah tanda
dariku supaya segera pindah dari hutan ini. Ajaklah semua hewan karena mereka
adalah keluarga kita.”
“Ya, Ayah,” jawab Ally
lalu ia segera pergi tidur sesuai perintah sang Ayah.
***
Sesuai janjinya, Leo pergi
ke gunung seberang untuk mencari hutan yang bisa menjadi tempat tinggal mereka
yang baru. Leo melewati pinggiran hutan dan gersang, tidak ada lagi pepohonan.
Hutan yang dulu hijau kini kering kerontang dan hari ini matahari menyengat
begitu panasnya. Leo berpikir, bisa saja nanti siang akan terjadi kebakaran.
Leo segera berlari melesat menuju gunung seberang.
Sementara Ally menyuruh
kepada para hewan untuk bersiap-siap pindah meninggalkan hutan ini, tetapi
menunggu tanda dari Leo. Insting Leo tak pernah salah, pikir Ally. Maka Ally
dan para hewan menunggu auman Leo.
Hingga berjam-jam tidak
ada kabar dari Leo. Apakah Leo tersesat? Tak mungkin. Leo adalah singa jenius
dan tak pernah sekalipun ia tersesat.
Di tengah-tengah mereka
menunggu lama, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik dan riuh, seperti
suara pohon tumbang. Mereka tak sadar bahwa pinggiran hutan telah terbakar
akibat sengatan matahari yang begitu panas.
Mereka gembira saat auman
Leo terdengar, tapi terlambat. Api membakar hutan begitu cepat seperti petasan
yang disulut sehingga langsung meletus. Para hewan lari kocar-kacir dan asap
mengepul tebal memenuhi hutan dan pandangan mereka menjadi kabur akibat kabut
itu.
Ally tak tahan dengan asap
sehingga ia batuk-batuk sambil berlari. Kata-kata Leo semalam menjadikan Ally
tetap kuat dan bertahan di tengah-tengah kabut yang memenuhi udara. Bahkan
burung-burung kecil hilang kesadaran dan banyak yang mati karena kehabisan
nafas di dalam kabut. Ally menerjang semua benda di depannya, entah itu ranting
pohon kering atau batu besar sehingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
Ally terluka dan terlempar
di tanah yang hangat. Sebentar lagi akan terbakar. Tamat riwayatku, pikir Ally.
Tetapi auman Ayahnya serasa begitu dekat dan di tengah-tengah kabut itu ia
melihat sosok Ayahnya muncul menyelamatkannya.
“Ally, bangun, kau tak
boleh lemah,” kata Leo khawatir bercampur harap.
Ally mencoba berdiri dan
salah satu kakinya berdarah. Ia berjalan pincang-pincang. Di depan mereka para
hewan telah berlari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.
“Aku sudah tidak kuat
lagi, Ayah,” rintih Ally.
“Kau Singa, kau pemimpin
hutan menggantikan aku suatu saat nanti, jadi kau harus kuat,” jawab Leo.
Tetapi naas, hutan sudah
hampir terbakar seluruhnya dan pohon besar kering yang sudah tidak mampu lagi
menopang batangnya karena api yang menyulut sedari tadi kini mau ambruk. Pohon
itu benar-benar mau roboh ke tanah dan kalau saja Leo tidak mendorong Ally,
mungkin Ally sudah tertimpa pohon besar itu.
Ally tersungkur ke tanah
dan nafasnya tersengal. Sungguh beruntung ia tak mati, tetapi tempatnya menuju
kematian telah digantikan oleh Ayahnya. Leo tertimpa pohon besar yang panas
itu.
“Ayah,” Ally merintih dan
nafasnya sesak karena menahan tangis.
“Lari!” hanya itulah kata
terakhir Leo kepada Ally saat api tiba-tiba langsung menyulut dengan cepat dan
membakar tubuh Leo.
Terpaksa Ally meninggalkan
Ayahnya yang terbakar di hutan itu. Ia berlari sambil menangis dan kakinya yang
terluka terasa begitu perih. Namun, hatinya lebih perih.
Ia sampai di tempat yang
aman dari kebakaran hutan itu. Air matanya mengalir deras mengenang kematian
sang Ayah dilahap api.
Maka, para hewan
mengangkat Ally menjadi Ratu saat mereka meninggali hutan baru di seberang
gunung.
“Di hutan yang baru ini,
jangan biarkan manusia memusnahkan tempat tinggal kita. Jika manusia
melakukannya, maka kita juga akan memusnahkan mereka seperti yang mereka
lakukan pada kita,” sumpah Ally dan ia menjadi singa yang kuat seperti yang
dikatakan Ayahnya, meski dulunya dia hanya singa perempuan yang lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar