Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen "Sumpah Ally"

Cerpen ini menjadi kontributor dalam lomba menulis "Suara Hati Binatang"_ExPose Com



SUMPAH ALLY
oleh Anis Unifah

Ally hanyalah seekor singa perempuan kecil dan lemah, tak sekuat sang Ayah, Leo yang menjadi Raja Hutan. Ibu Ally telah tiada. Ally sering mengutuk dirinya sendiri mengapa ia harus menjadi anak tunggal dan satu-satunya pewaris tahta Raja Hutan suatu saat nanti.
“Kita harus mencari tempat tinggal lain,” kata Leo di depan para singa lain.
Malam itu hampir separuh hutan tak lagi berpohon, gersang dan udara dingin begitu menusuk.
“Bulan lalu tanah yang tandus sudah longsor karena tidak ada lagi pohon yang dapat menyerap air hujan. Satu minggu lagi sudah tiba musim kemarau, hutan ini bisa terbakar kapan saja,” Leo berkata dan raut wajahnya tampak sangat muram.
Para hewan lain pun berdatangan ikut berkumpul bersama para singa, berharap mereka mendapat perlindungan dari Raja Hutan.
“Kita tidak bisa lagi mendapat air bersih disini, telah tercemar,” desah Kuda.
“Ya, bahan makanan kita juga sudah menipis. Buah-buahan juga sudah mulai habis,” tambah Kelelawar.
Semua hewan mengajukan kepada Leo untuk mencari hutan baru sebagai tempat tinggal mereka. Hutan yang mereka tempati sekarang tidak lagi cocok untuk tempat tinggal mereka. Bulan lalu, tanah longsor saat mereka sedang terlelap tidur sehingga banyak binatang musnah dan mereka kehilangan keluarga serta teman-teman mereka.
“Aku akan mencari tempat baru sebagai tempat tinggal kita. Sabarlah sedikit!” Leo memberikan janji kepada para hewan untuk menenangkan hati mereka yang gelisah akan bencana yang bisa datang setiap saat.
Leo bisa dipercaya, dia berhati mulia dan bijaksana sehingga ia dipilih sebagai Raja Hutan. Oleh sebab itu mereka mempercayai kata-kata Leo.
Setelah mereka pergi dengan janji Leo di benak mereka. Leo berada di atas tumpukan rumput kering. Tubuhnya kelelahan karena mencari makan tadi siang ke tempat yang jauh. Ya, makanan mulai menipis di hutan ini.
Sedangkan Ally memandangi rembulan yang seolah bertengger di atas gunung di seberang. Dia menikmatinya, kemudian dia bertanya pada Ayahnya, “Ayah, apa Ayah percaya disana masih ada hutan yang hijau?”
Leo bangun kemudian dia menatap rembulan itu dan berkata, “Aku harap aku bisa mempercayainya. Besok aku akan mencari hutan baru untuk kita tinggali, disana. Tempat ini sudah tidak layak lagi, para hewan bisa mati karena tempat yang sudah tidak ada pohon lagi. Dengar, Ally, pohon adalah sumber dari kehidupan tetapi manusia seringkali meremehkannya atas nama perut yang kelaparan. Mereka tak sadar bahwa hewan juga punya perut. Disinilah kita dan manusia tidak peduli.”
“Apa Ayah membenci manusia?” tanya Ally.
Leo membuang nafas panjang sehingga bulu-bulunya terhembus nafasnya kemudian menjawab, “tidak semua, Ally. Aku pernah mengenal manusia yang menjaga kelestarian hutan dan isi hutan seperti kita, tapi mereka kalah jumlah. Perusak lebih banyak daripada pelestari.”
Ally mengangguk-angguk.
“Ayo pergi tidur, Ally. Badanmu masih belum kuat dan suatu saat kau akan menggantikan aku menjadi Raja Hutan,” kata Leo.
“Aku perempuan,” jawab Ally putus asa.
“Biar kau perempuan atau laki-laki, kau tetaplah singa yang suatu saat akan menjadi pimpinan. Jadi, jadilah kuat, Ally,” kata Leo mantap.
Ally mengangguk.
“Besok aku akan pergi ke gunung itu, aku dapat mencium bau hutan hijau yang cukup baik untuk tempat tinggal kita nanti disana. Saat aku mengaum dari gunung itu…” Leo menunjuk gunung seberang di bawah rembulan yang mereka pandang. “…maka itu adalah tanda dariku supaya segera pindah dari hutan ini. Ajaklah semua hewan karena mereka adalah keluarga kita.”
“Ya, Ayah,” jawab Ally lalu ia segera pergi tidur sesuai perintah sang Ayah.
***
Sesuai janjinya, Leo pergi ke gunung seberang untuk mencari hutan yang bisa menjadi tempat tinggal mereka yang baru. Leo melewati pinggiran hutan dan gersang, tidak ada lagi pepohonan. Hutan yang dulu hijau kini kering kerontang dan hari ini matahari menyengat begitu panasnya. Leo berpikir, bisa saja nanti siang akan terjadi kebakaran. Leo segera berlari melesat menuju gunung seberang.
Sementara Ally menyuruh kepada para hewan untuk bersiap-siap pindah meninggalkan hutan ini, tetapi menunggu tanda dari Leo. Insting Leo tak pernah salah, pikir Ally. Maka Ally dan para hewan menunggu auman Leo.
Hingga berjam-jam tidak ada kabar dari Leo. Apakah Leo tersesat? Tak mungkin. Leo adalah singa jenius dan tak pernah sekalipun ia tersesat.
Di tengah-tengah mereka menunggu lama, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik dan riuh, seperti suara pohon tumbang. Mereka tak sadar bahwa pinggiran hutan telah terbakar akibat sengatan matahari yang begitu panas.
Mereka gembira saat auman Leo terdengar, tapi terlambat. Api membakar hutan begitu cepat seperti petasan yang disulut sehingga langsung meletus. Para hewan lari kocar-kacir dan asap mengepul tebal memenuhi hutan dan pandangan mereka menjadi kabur akibat kabut itu.
Ally tak tahan dengan asap sehingga ia batuk-batuk sambil berlari. Kata-kata Leo semalam menjadikan Ally tetap kuat dan bertahan di tengah-tengah kabut yang memenuhi udara. Bahkan burung-burung kecil hilang kesadaran dan banyak yang mati karena kehabisan nafas di dalam kabut. Ally menerjang semua benda di depannya, entah itu ranting pohon kering atau batu besar sehingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
Ally terluka dan terlempar di tanah yang hangat. Sebentar lagi akan terbakar. Tamat riwayatku, pikir Ally. Tetapi auman Ayahnya serasa begitu dekat dan di tengah-tengah kabut itu ia melihat sosok Ayahnya muncul menyelamatkannya.
“Ally, bangun, kau tak boleh lemah,” kata Leo khawatir bercampur harap.
Ally mencoba berdiri dan salah satu kakinya berdarah. Ia berjalan pincang-pincang. Di depan mereka para hewan telah berlari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.
“Aku sudah tidak kuat lagi, Ayah,” rintih Ally.
“Kau Singa, kau pemimpin hutan menggantikan aku suatu saat nanti, jadi kau harus kuat,” jawab Leo.
Tetapi naas, hutan sudah hampir terbakar seluruhnya dan pohon besar kering yang sudah tidak mampu lagi menopang batangnya karena api yang menyulut sedari tadi kini mau ambruk. Pohon itu benar-benar mau roboh ke tanah dan kalau saja Leo tidak mendorong Ally, mungkin Ally sudah tertimpa pohon besar itu.
Ally tersungkur ke tanah dan nafasnya tersengal. Sungguh beruntung ia tak mati, tetapi tempatnya menuju kematian telah digantikan oleh Ayahnya. Leo tertimpa pohon besar yang panas itu.
“Ayah,” Ally merintih dan nafasnya sesak karena menahan tangis.
“Lari!” hanya itulah kata terakhir Leo kepada Ally saat api tiba-tiba langsung menyulut dengan cepat dan membakar tubuh Leo.
Terpaksa Ally meninggalkan Ayahnya yang terbakar di hutan itu. Ia berlari sambil menangis dan kakinya yang terluka terasa begitu perih. Namun, hatinya lebih perih.
Ia sampai di tempat yang aman dari kebakaran hutan itu. Air matanya mengalir deras mengenang kematian sang Ayah dilahap api.
Maka, para hewan mengangkat Ally menjadi Ratu saat mereka meninggali hutan baru di seberang gunung.
“Di hutan yang baru ini, jangan biarkan manusia memusnahkan tempat tinggal kita. Jika manusia melakukannya, maka kita juga akan memusnahkan mereka seperti yang mereka lakukan pada kita,” sumpah Ally dan ia menjadi singa yang kuat seperti yang dikatakan Ayahnya, meski dulunya dia hanya singa perempuan yang lemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar