Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen "TAUBAT"

Cerpen Flash Fiction (FF) karyaku ini menjadi Kontributor dalam event bertema "Proud To Be Muslim" by Penerbit Asrifa

TAUBAT
oleh Anis Unifah

Aku melihat pria tua itu kembali. Dengan tubuhnya yang ringkih dan uban yang putih, ia mendekap dalam kesejukan masjid. Ia begitu khusyuk dalam shalatnya, duduk tahiyat akhir lalu mengucap salam sambil menoleh ke kanan dan kiri lalu mengusap wajahnya. Dia menghabiskan hidupnya dengan membersihkan masjid itu setiap hari, menyapu halamannya yang berserakan daun-daun cengkeh dan daun mangga.
Sejak satu tahun terakhir ini, pria itulah yang selalu aku lihat begitu setia merawat rumah Allah yang kini tak begitu dipedulikan. Kalian bisa melihat bagaimana teras masjid dijadikan tempat pacaran oleh remaja-remaja edan sekarang ini.
Pria itu menghampiriku, nafasnya tersengal setelah ia baru saja selesai mengumpulkan daun-daun kering berguguran di halaman masjid. Usai shalat Ashar, masjid begitu sepi. Dia kini duduk di dekatku.
“Mau minum, Pak?” tawarku sambil mengulurkan sebotol air mineral padanya.
Dia tersenyum lalu mengambil botol itu dan meneguknya. “Alhamdulillah, terimakasih dek.”
“Sama-sama, Pak,” jawabku dan menerima botol air mineral yang dikembalikannya padaku.
“Siapa namamu, dek?” tanyanya.
“Husain.”
“Oh, Husain, seperti nama cucu Baginda Rasulullah.”
Aku mengangguk lalu balik bertanya, “Kalau Bapak sendiri?”
Dia tersenyum hambar, keriput di sekitar mata dan keningnya mengkerut menciptakan lapisan-lapisan seperti kain kusut.
“Aku biasa dipanggil pengurus masjid. Sebenarnya aku punya nama dan nama itu tidak ingin aku sebut lagi,” jawabnya.
“Kenapa, Pak?” tanyaku ingin tahu.
Dia membuang nafas panjang, “Bukankah saat kita di akhirat nanti, kita akan dipanggil sesuai dengan nama kita?”
“Ya,”
“Aku malu menyebut namaku, karena orang-orang dulu mengenal namaku sebagai seorang lelaki yang berlumur dosa, lelaki yang tak pernah melakukan kebaikan. Dosaku seluas samudera dan setinggi gunung, tetapi…”
“Tetapi apa, Pak?”
“Allah Maha Pengampun, bukan?”
“Ya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
“Aku senang aku dilahirkan dalam Islam, meski aku berlumur dosa Allah masih mau mengampuni dosa-dosaku.”
“Sebenarnya dosa apa yang telah Bapak perbuat?”
“Banyak, banyak sekali dan saat aku mengingat dosa-dosa itu, mungkin mengurus rumah-Nya seumur hidupku tak akan cukup untuk menebusnya. Karena itulah aku sangat bersyukur tuhanku adalah Allah, bukan yang lain karena aku dulu pernah menuhankan yang lain selain Dia. Aku menyesal, apa yang aku tuhankan sama sekali tak memberiku apa-apa, hanya sebuah penyesalan.”
Air matanya jatuh berlinang ketika ia bercerita. Mungkin ia mengingat dosa-dosa apa yang telah ia lakukan dahulu. Ya, aku juga bersyukur telah dilahirkan dengan darah muslim yang mengalir di seluruh tubuhku, menjadikannya cahaya di hatiku. Itu adalah kenikmatan yang tak bisa aku dapatkan jika tuhanku bukan Allah.
***
Beberapa bulan kemudian, pria tua pengurus masjid itu meninggal dengan posisi sujud saat ia selesai shalat jum’at. Aku yakin Allah telah mengampuni dosa-dosanya, karena itulah Allah mengambilnya pada hari yang istimewa bagi umat Islam yakni hari jum’at. Bukankah meninggal pada hari jum’at adalah kematian yang khusnul khatimah. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar