TAUBAT
oleh Anis Unifah
Aku melihat
pria tua itu kembali. Dengan tubuhnya yang ringkih dan uban yang putih, ia mendekap
dalam kesejukan masjid. Ia begitu khusyuk dalam shalatnya, duduk tahiyat akhir
lalu mengucap salam sambil menoleh ke kanan dan kiri lalu mengusap wajahnya.
Dia menghabiskan hidupnya dengan membersihkan masjid itu setiap hari, menyapu
halamannya yang berserakan daun-daun cengkeh dan daun mangga.
Sejak satu
tahun terakhir ini, pria itulah yang selalu aku lihat begitu setia merawat
rumah Allah yang kini tak begitu dipedulikan. Kalian bisa melihat bagaimana
teras masjid dijadikan tempat pacaran oleh remaja-remaja edan sekarang ini.
Pria itu
menghampiriku, nafasnya tersengal setelah ia baru saja selesai mengumpulkan
daun-daun kering berguguran di halaman masjid. Usai shalat Ashar, masjid begitu
sepi. Dia kini duduk di dekatku.
“Mau minum,
Pak?” tawarku sambil mengulurkan sebotol air mineral padanya.
Dia
tersenyum lalu mengambil botol itu dan meneguknya. “Alhamdulillah, terimakasih
dek.”
“Sama-sama,
Pak,” jawabku dan menerima botol air mineral yang dikembalikannya padaku.
“Siapa
namamu, dek?” tanyanya.
“Husain.”
“Oh, Husain,
seperti nama cucu Baginda Rasulullah.”
Aku
mengangguk lalu balik bertanya, “Kalau Bapak sendiri?”
Dia
tersenyum hambar, keriput di sekitar mata dan keningnya mengkerut menciptakan
lapisan-lapisan seperti kain kusut.
“Aku biasa
dipanggil pengurus masjid. Sebenarnya aku punya nama dan nama itu tidak ingin
aku sebut lagi,” jawabnya.
“Kenapa,
Pak?” tanyaku ingin tahu.
Dia membuang
nafas panjang, “Bukankah saat kita di akhirat nanti, kita akan dipanggil sesuai
dengan nama kita?”
“Ya,”
“Aku malu
menyebut namaku, karena orang-orang dulu mengenal namaku sebagai seorang lelaki
yang berlumur dosa, lelaki yang tak pernah melakukan kebaikan. Dosaku seluas
samudera dan setinggi gunung, tetapi…”
“Tetapi apa,
Pak?”
“Allah Maha
Pengampun, bukan?”
“Ya, Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
“Aku senang
aku dilahirkan dalam Islam, meski aku berlumur dosa Allah masih mau mengampuni
dosa-dosaku.”
“Sebenarnya
dosa apa yang telah Bapak perbuat?”
“Banyak,
banyak sekali dan saat aku mengingat dosa-dosa itu, mungkin mengurus rumah-Nya
seumur hidupku tak akan cukup untuk menebusnya. Karena itulah aku sangat
bersyukur tuhanku adalah Allah, bukan yang lain karena aku dulu pernah
menuhankan yang lain selain Dia. Aku menyesal, apa yang aku tuhankan sama
sekali tak memberiku apa-apa, hanya sebuah penyesalan.”
Air matanya
jatuh berlinang ketika ia bercerita. Mungkin ia mengingat dosa-dosa apa yang
telah ia lakukan dahulu. Ya, aku juga bersyukur telah dilahirkan dengan darah
muslim yang mengalir di seluruh tubuhku, menjadikannya cahaya di hatiku. Itu
adalah kenikmatan yang tak bisa aku dapatkan jika tuhanku bukan Allah.
***
Beberapa
bulan kemudian, pria tua pengurus masjid itu meninggal dengan posisi sujud saat
ia selesai shalat jum’at. Aku yakin Allah telah mengampuni dosa-dosanya, karena
itulah Allah mengambilnya pada hari yang istimewa bagi umat Islam yakni hari
jum’at. Bukankah meninggal pada hari jum’at adalah kematian yang khusnul
khatimah. Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan memberikan tempat terbaik
di sisi-Nya. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar