KEADILAN CINTA IBU
oleh Anis Unifah
Sebagaimana Islam memerintahkan para orang tua untuk memberikan kasih
sayang kepada anak-anak mereka, Islam juga melarang dalam memberikan kasih
sayang terlalu berlebihan sehingga cenderung kepada sikap memanjakan yang
negatif.
Namun, lahir menjadi anak sulung dalam keluarga selalu jauh dari
perlakuan manja dan kusebut itu ketidakberuntungan. Sedangkan adikku selalu
diperlakukan manja. Ibu seringnya menyuruhku melakukan pekerjaan rumah
sementara adikku dibebaskan dari tugas-tugas itu. Menyapu lantai, ngepel, cuci
baju, cuci piring dan memasak, selalu aku yang membantu Ibuku.
“Tubuh adikmu lemah, tidak sekuat kamu,” kata Ibuku membela adikku.
Sejak kecil adikku sering sakit-sakitan. Tetapi aku memandang Ibuku pilih
kasih karena terlalu memanjakannya. Apapun yang dimintanya, Ibuku membelikannya
sedangkan aku disuruh berhemat.
“Kalau kamu kan kakak, nanti kamu jadi panutan adikmu, supaya nanti dia
bisa belajar dari kakaknya.”
Karena kata-kata Ibuku itulah, aku terbiasa tidak dimanjakan dan mandiri.
Setelah lulus SMA, aku kuliah di kota yang jauh dari kota kelahiranku
sehingga aku tinggal di tempat kos. Setelah aku meninggalkan rumah, adikku-lah
yang mengerjakan semua pekerjaan rumah¾menggantikan diriku.
Mungkin sudah waktunya dia belajar karena dia sudah SMA.
Jauh dari rumah, aku mulai menikmati kebebasan dari peraturan orang tuaku
meski aku tetap ingat pesan Ibuku bahwa anak perempuan harus menjaga dirinya.
Aku selalu ingat pesan itu.
Setelah adikku lulus SMA, Ibuku menyuruh adikku kuliah di kampus yang
sama denganku dan tinggal satu kamar di tempat kos. Awalnya kami sering
bertengkar karena dia begitu pemalas, mungkin karena dia dimanjakan sejak
kecil.
Seperti kata Ibuku waktu aku kecil dulu, “Kalau kamu kan kakak, nanti kamu jadi panutan adikmu, supaya nanti dia
bisa belajar dari kakaknya.”
Seorang kakak harus memberikan contoh kepada adiknya. Sekarang aku mulai
mengerti makna kata-kata. Ternyata hanya Ibuku yang lebih mengerti apa yang
sesungguhnya dibutuhkan anak-anaknya. Bukan hanya bersifat materi tapi lebih
dari itu: kepribadian. Mungkin Ibu tidak memanjakanku dari kecil karena nanti
saat kami besar aku bisa mengajarkan kemandirian kepada adikku. Sementara Ibuku
menunggu adikku siap untuk diajari kemandirian dariku karena sejak kecil dia
sakita-sakitan dan kalau apa yang dimintanya tidak dituruti dia jatuh sakit.
Pikiran tentang Ibuku yang pilih kasih terhadap adikku, kini tak ada
lagi. Ibuku memang adil pada anak-anaknya sehingga dia tahu bentuk kasih sayang
yang diberikan kepada anak-anaknya kelihatannya mungkin berbeda tetapi
sesungguhnya sama. Kasih sayang Ibu tak pernah mengerti waktu dan dia tahu yang
terbaik untuk anak-anaknya. Tak ada Ibu yang pilih kasih. Terimakasih Ibu,
karena engkau menyebarkan rasa cinta-mencintai dan sayang-menyayangi diantara
anak-anakmu. Kalau bukan karena cinta yang kau ajarkan padaku, mungkin aku tak
akan memahami bahwa menjadi panutan untuk adikku adalah salah satu wujud
cintamu kepada kami. Aku sayang dan rindu, Ibu. Semoga kau selalu dalam
lindungan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar