Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen Flash True Story "Keadilan Cinta Ibu"

menjadi kontributor dan dibukukan dalam Event "Engkaulah Surga-Ku"_Penerbit Oksana



KEADILAN CINTA IBU
oleh Anis Unifah

Sebagaimana Islam memerintahkan para orang tua untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak mereka, Islam juga melarang dalam memberikan kasih sayang terlalu berlebihan sehingga cenderung kepada sikap memanjakan yang negatif.
Namun, lahir menjadi anak sulung dalam keluarga selalu jauh dari perlakuan manja dan kusebut itu ketidakberuntungan. Sedangkan adikku selalu diperlakukan manja. Ibu seringnya menyuruhku melakukan pekerjaan rumah sementara adikku dibebaskan dari tugas-tugas itu. Menyapu lantai, ngepel, cuci baju, cuci piring dan memasak, selalu aku yang membantu Ibuku.
“Tubuh adikmu lemah, tidak sekuat kamu,” kata Ibuku membela adikku.
Sejak kecil adikku sering sakit-sakitan. Tetapi aku memandang Ibuku pilih kasih karena terlalu memanjakannya. Apapun yang dimintanya, Ibuku membelikannya sedangkan aku disuruh berhemat.
“Kalau kamu kan kakak, nanti kamu jadi panutan adikmu, supaya nanti dia bisa belajar dari kakaknya.”
Karena kata-kata Ibuku itulah, aku terbiasa tidak dimanjakan dan mandiri.
Setelah lulus SMA, aku kuliah di kota yang jauh dari kota kelahiranku sehingga aku tinggal di tempat kos. Setelah aku meninggalkan rumah, adikku-lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah¾menggantikan diriku. Mungkin sudah waktunya dia belajar karena dia sudah SMA.
Jauh dari rumah, aku mulai menikmati kebebasan dari peraturan orang tuaku meski aku tetap ingat pesan Ibuku bahwa anak perempuan harus menjaga dirinya. Aku selalu ingat pesan itu.
Setelah adikku lulus SMA, Ibuku menyuruh adikku kuliah di kampus yang sama denganku dan tinggal satu kamar di tempat kos. Awalnya kami sering bertengkar karena dia begitu pemalas, mungkin karena dia dimanjakan sejak kecil.
Seperti kata Ibuku waktu aku kecil dulu, “Kalau kamu kan kakak, nanti kamu jadi panutan adikmu, supaya nanti dia bisa belajar dari kakaknya.
Seorang kakak harus memberikan contoh kepada adiknya. Sekarang aku mulai mengerti makna kata-kata. Ternyata hanya Ibuku yang lebih mengerti apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak-anaknya. Bukan hanya bersifat materi tapi lebih dari itu: kepribadian. Mungkin Ibu tidak memanjakanku dari kecil karena nanti saat kami besar aku bisa mengajarkan kemandirian kepada adikku. Sementara Ibuku menunggu adikku siap untuk diajari kemandirian dariku karena sejak kecil dia sakita-sakitan dan kalau apa yang dimintanya tidak dituruti dia jatuh sakit.
Pikiran tentang Ibuku yang pilih kasih terhadap adikku, kini tak ada lagi. Ibuku memang adil pada anak-anaknya sehingga dia tahu bentuk kasih sayang yang diberikan kepada anak-anaknya kelihatannya mungkin berbeda tetapi sesungguhnya sama. Kasih sayang Ibu tak pernah mengerti waktu dan dia tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak ada Ibu yang pilih kasih. Terimakasih Ibu, karena engkau menyebarkan rasa cinta-mencintai dan sayang-menyayangi diantara anak-anakmu. Kalau bukan karena cinta yang kau ajarkan padaku, mungkin aku tak akan memahami bahwa menjadi panutan untuk adikku adalah salah satu wujud cintamu kepada kami. Aku sayang dan rindu, Ibu. Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar