^_^
SEBUAH JAWABAN
oleh Anis Unifah
Alunan lagu ‘Insya Allah’ Maher Zain feat Fadli Padi memenuhi ruang kamar
di tempat kosku yang sempit.
“Ketika kau tak sanggup melangkah
hilang arah dalam kesendirian
tiada mentari bagai malam yang
kelam
tiada tempat untuk berlabuh
bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu..”
Biasanya aku ikut menggumamkan lagu itu, tapi malam ini berbeda. Aku
memejamkan mata, meresapi maknanya sambil berbaring di ranjang dingin. Air mata
tiba-tiba merembes membasahi pipi. Insya
Allah, ada jalan.
Sebuah SMS masuk ke ponselku, dari Ibu kos.
“Kapan bayar kos? Jangan seenaknya
sendiri di tempat orang ya. Kalau besok tidak bayar, saya usir dari kos.”
Aku membuang nafas panjang dan langsung kuhapus SMS itu tanpa
membalasnya. Aku tak habis pikir dengan Ibu kos yang berjilbab panjang dan
lebar itu, tampilannya begitu Islami tapi akhlaknya… Masya Allah. Padahal baru
tiga hari telat bayar kos. Lucunya, Ibu kos seperti itu beraninya cuma lewat
SMS, tidak berani bertatapan langsung. Tapi bahasa lewat SMS pun juga bisa
menyakitkan hati.
Bukankah identitas seorang muslim atau muslimah adalah menjaga akhlak dan
hatinya, tak hanya luarnya saja yang terlihat sholeh atau sholihah tapi
dalamnya haruslah lebih dari itu. Astaghfirullahal
adziim, semoga Allah membuka pintu hatinya.
Aku memeras otak, tapi otakku justru melanglang buana ke masa-masa
menyedihkan beberapa bulan lalu. Adikku kecelakaan dan kepalanya terbentur
aspal sehingga menyebabkan tulang tengkorak kepala bagian belakangnya retak.
Demi biaya rumah sakit yang berjuta-juta, orang tuaku hutang sana-sini, sedang
Ayahku hanya seorang tukang bangunan, Ibuku guru honorer yang gajinya hanya
sedikit.
Aku yang menjadi anak pertama akhirnya harus bekerja membanting tulang
untuk membantu keuangan keluarga. Pekerjaan apapun yang aku bisa kerjakan, aku
terima, berharap aku tidak minta uang makan dan bayar kos kepada orang tuaku
karena hasil jerih payah mereka untuk melunasi hutang.
Aku masih semester lima dan lagi banyak-banyaknya tugas kuliah terutama
membuat makalah dan paper. Uang yang aku dapatkan hasil kerja di laundry yang
hanya sedikit, membuat accecories bros yang aku titipkan di toko-toko
accecories, juga hasil menjual snack, semuanya hanya cukup untuk membayar
nge-print tugas makalah dan paper. Untuk makan saja, aku harus irit
seirit-iritnya.
Dan malam ini, bertambah lagi satu masalah, datang dari Ibu kos yang
berjilbab lebar. Ya Allah, apakah ada hamba-Mu yang tega mengusir sesama muslim
seperti Ibu kos yang satu ini? Aku menepuk-nepuk dadaku supaya tenang dan air
mata tidak keluar lagi, tetapi percuma. Air mata itu telah deras mengalir
seperti bendungan yang tak kuat menahan muatan.
Lalu kukirim sebuah SMS untuk Ibu kos, “Insya Allah besok lusa ya, Bu.”
Barang berharga yang aku punya hanyalah laptop yang hampir rusak dan
anting emas yang bertengger di telinga. Kalau aku menjual laptop, lalu aku
mengerjakan tugas pakai apa? Kalau aku menjual anting, anting ini adalah
pemberian Ibuku dan dia berpesan untuk tak menjualnya apapun yang terjadi. Aku
bingung. Ya Allah…
Ya, mungkin meminjam teman, tapi setelah semua teman aku hubungi tak ada
yang bisa memijamkan uang karena mereka juga lagi butuh untuk mengeprint
makalah dan paper, juga untuk makan. Ya, kami ternyata punya kesulitan yang
sama. Begitulah nasib anak kuliahan yang nge-kos.
Ya Allah… tiba-tiba aku mengutuk diriku sendiri yang lahir ke dunia ini
sementara aku tidak pernah minta dilahirkan. Mengapa aku harus dilahirkan di
tengah keluarga yang tidak kaya, susah dan hanya seorang tukang bangunan? Aku menangis
dan bersedih. Mengapa aku tidak dilahirkan dalam keluarga yang kaya, yang bisa
makan enak, hidup enak dan tidak perlu perjuangan demi sebutir nasi seperti
anak-anak para pejabat?
Aku marah dan aku tak tahu harus marah pada siapa. Haruskah aku marah
pada Allah? Dan kenapa aku harus mempercayai Allah itu ada jika Dia sama sekali
tidak peduli padaku? Mengapa aku dilahirkan ke dunia ini, Ya Allah? Aku
meronta-ronta. Kehidupan ini begitu menyesakkan.
“Tidak. Allah mencintaiku, Dia peduli padaku,” tegasku dan bergegas
mengambil Al-Qur’an terjemah kemudian membuka lembaran di dalam Al-Qur’an
sekenanya.
Itulah kebiasaanku sejak dulu, Al-Qur’an adalah penawar dan obat hati
bagi orang-orang beriman. Setiap kali aku punya pertanyaan, maka aku ingin
jawaban itu dari Allah. Apapun lembaran yang aku buka dalam Al-Qur’an, pastilah
itu jawaban dari Allah. Maka terbukalah Surat Asy-Syuraa ayat 27 yang aku buka
sekenanya,
* öqs9ur xÝ|¡o0 ª!$# s-øÎh9$# ¾ÍnÏ$t7ÏèÏ9 (#öqtót7s9 Îû ÇÚöF{$# `Å3»s9ur ãAÍit\ã 9ys)Î/ $¨B âä!$t±o 4 ¼çm¯RÎ) ¾ÍnÏ$t7ÏèÎ/ 7Î7yz ×ÅÁt/ ÇËÐÈ
“Dan Jikalau Allah
melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas
di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.
Sesungguhnya dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”
Aku menangis. Ya Allah, Engkau memang Maha Mengetahui segala sesuatu dan
memberi jawaban untuk mengobati hati hamba-Mu yang sedang bersedih ini, Ya
Allah. Tiadalah yang dapat menolong selain Engkau dan hanya kepada-Mu lah hamba
berserah diri.
Namun pertanyaan mengapa Allah menciptakanku ke dunia ini, aku masih
belum mendapatkan jawabannya. Aku pun menelepon Ibuku.
“Sudah makan?” tanya Ibuku.
“Sudah. Bu, apa Ibu bahagia punya anak sepertiku?”
“Ya, bahagia. Kenapa tanya seperti itu?”
“Mengapa Ibu bahagia?”
“Aku rasa semua orang tua ingin punya anak, apalagi anak yang berbakti
kepada orang tua.”
“Mengapa Ibu menginginkan anak?”
“Emm…” dari nada bicaranya, kelihatannya beliau bingung dengan jawabannya
lalu beliau berkata, “Ya karena ingin saja.”
“Darimana datangnya keinginan itu, Bu?”
“Ya tidak tahu, tiba-tiba sudah ada keinginan itu, makanya terus menikah
dan punya anak kamu dan adikmu itu.”
“Apa Ibu mencintaiku?”
“Ya, tentu saja, Ibu dan Ayahmu sangat mencintai kalian.”
“Kenapa Ibu mencintai kami?”
“Ya tidak tahu, bahkan sebelum kalian ada pun Ibu dan Ayahmu sudah
mencintai kalian. Saat baru menikah, kami sudah membicarakan kalian, nanti mau
punya anak berapa, laki-laki atau perempuan dan kami bersyukur Allah memberikan
kepada kami dua orang putri yang cantik-cantik,” jawabnya lalu dia bertanya,
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Karena aku sedang berpikir mengapa Allah melahirkanku ke dunia ini, Bu.”
“Allah menciptakan kita ke dunia karena Dia mencintai kita. Kehidupan
akhirat yang kekal lebih baik daripada kehidupan dunia fana yang suatu saat
akan tiada,” terang Ibuku.
Aku mengangguk-angguk, aku sudah mendapatkan jawabannya dan tidak perlu
bersedih lagi seperti sebelumnya.
“Bu,” panggilnya.
“Ya?”
“Ibu pernah bilang kalau anting yang Ibu belikan untukku tidak boleh
dijual. Bagaimana kalau saya jual, Bu? Saya tidak ada uang untuk bayar kos. Apa
Ibu mengijinkan?”
“Jangan dijual. Nanti Ibu kirim uang untuk bayar kos ya. Maafkan Ibu ya
nak, sebagai orang tua justru tidak bisa memberi nafkah yang layak kepada
anak.”
Aku mendengar suara tangis Ibuku.
“Tidak, Bu. Aku bahagia dilahirkan oleh Ibu dan punya orang tua seperti
Ayah dan Ibu.”
Maka aku pun percaya,
Allah tidak menciptakan manusia untuk suatu kebetulan belaka, tidak menciptakan
manusia hanya untuk menyembah kepada-Nya. Tetapi Allah menciptakan manusia
karena Dia mencintai kita. Terimakasih akan cinta-Mu yang begitu besar, Ya
Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar