^_*
THE RETURN OF THE KING
oleh Anis Unifah
Kerajaan hutan tiba-tiba kacau balau. Kepergian Singa, Raja Hutan yang
mulia dan bijaksana meninggalkan banyak tanda tanya. Apa yang dicari Singa di
luar sana dan siapakah yang akan menempati kursi Raja yang sedang kosong?
Para hewan pun berkumpul untuk membahas suatu keputusan. Mereka
bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Tetapi ada satu masalah. Semua hewan
mengajukan dirinya untuk menjadi Raja.
Mula-mula Merak yang berbulu indah mengajukan diri.
“Aku yang akan menjadi Raja. Lihat, aku punya bulu yang indah yang tak
kalian miliki,” kata Merak dengan sombong. Dia berlenggak-lenggok
memperlihatkan bulunya yang mekar indah seperti kipas. Ia bangga dengan apa
yang ia punya.
Semua hewan takjub melihat keindahan bulu Merak, kecuali Ayam. Ayam maju
ke depan, menyingkirkan sang Merak yang lebih tinggi daripada dirinya.
“Kamu itu suka pamer dan suka mencari perhatian, Merak. Kamu tidak pantas
menjadi Raja,” ejek si Ayam.
“Oh, Ayam,” Merak menoleh pada si Ayam lalu melanjutkan, “Aku sudah
mendengar semua tentang sifatmu yang mencerminkan egoisme, kerisauan akan eksistensi orang lain dan ambisius.
Dalam segala hal, kamu selalu ingin duluan.”
Merak dan Ayam bertengkar, Kucing yang suka mencari simpati segera
melerai mereka. Apa yang dilakukan kucing semata-mata untuk membuat hewan lain
simpati padanya dan mengangkatnya menjadi Raja.
“Sudah, kalian jangan bertengkar!” seru Kucing. “Pertengkaran itu tidak
baik, apalagi saat ini Singa sedang tidak ada.”
Semua hewan mengangguk-angguk. Memang benar apa yang dikatakan Kucing.
Mereka menganggap Kucing berhati baik, tapi Kancil yang licik tahu sifat Kucing
sebenarnya sehingga Kancil pun maju.
“Kau suka cari simpati, Kucing!” sela Kancil. Semua hewan memandang ke
arah Kancil.
Kancil maju ke depan dan menendang Merak, Ayam dan Kucing kembali ke
kerumunan hewan.
“Tak ada yang lebih pintar daripada aku di hutan ini,” kata Kancil bangga
dan tertawa terbahak-bahak.
“Kau pintar tapi kepintaranmu untuk mengelabui hewan lain, Kancil,” sela
Buaya lalu ia maju ke depan di hadapan Kancil.
Kancil pun segera mencari tempat lebih tinggi agar Buaya tak bisa
menjangkaunya. Dia takut dengan gigi-gigi tajam milik Buaya.
“Sudah berapa kali kamu membohongiku dengan kelicikanmu, Kancil. Aku tak
akan tertipu lagi dengan kepandaianmu menipu,” lanjut Buaya.
“Karena kamu pengkhianat, Buaya. Kamu suka mengkhianati jadi kamu pantas
untuk merasakan kelicikan yang aku ahli dalam bidang itu,” balas Kancil.
Buaya dan Kancil berdebat di tengah-tengah musyawarah, maka tak ada cara
lain kecuali melerainya. Gajah pun menghalau pertengkaran itu. Takut akan kaki
Gajah yang besar, maka Kancil dan Buaya kembali ke posisi semula.
“Gajah dikenal sebagai hewan yang bijaksana. Aku tak ingin posisi Raja
hutan yang sudah disandang Singa. Tetapi kepergian Singa tanpa pamit telah
membuat kita bertanya-tanya. Untuk itu kita harus memilih Raja untuk sementara
sembari menunggu Singa kembali,” kata Gajah.
“Dia tak akan kembali,” sahut Ular yang terkenal licik dan biasanya
menyerang tanpa diduga setelah bersembunyi di semak-semak sekian lama.
“Kenapa, Ular?” tanya Gajah.
“Lihatlah hutan ini,” jawab Ular. “Pohon-pohon sudah banyak yang
ditebangi dan sebentar lagi hutan akan gundul. Tanah bisa longsor setiap saat
jika musim hujan dan akan kebakaran jika musim kemarau. Hidup kita terancam
tetapi Singa justru mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia meninggalkan
kita, rakyat hutan disini. Dia mencari aman sendiri, sedang kita? Kita bisa
mati kapans saja.”
Gajah mengangguk-angguk.
Keledai yang keras kepala dan terkenal tak mau merubah sudut pandangnya
juga menyetujui apa yang dikatakan Ular.
“Ya, benar kata Ular. Singa pasti telah menemukan tempat aman untuk dia
hidup enak dan nyaman, meninggalkan kita disini yang kelaparan karena bahan
makanan kita di hutan semakin menipis. Hutan akan habis,” tegas Keledai.
“Kalau begitu aku yang akan menjadi Raja,” Si Elang menawarkan diri. “Aku
bisa terbang dengan cepat untuk mencari tempat aman, hutan yang lebat dengan
pohon-pohon yang tak ditebang sama sekali. Bagaimana?”
Ikan yang sedari tadi duduk
tenang dengan pandangan yang dingin, tak bereaksi terhadap siapapun, pada
apapun tiba-tiba mengangkat suara.
“Aku tidak setuju jika Elang jadi Raja,” kata Ikan.
“Kenapa?” tanya Gajah.
Ikan pun menjawab, “Elang selalu merebut kesempatan jika ada peluang dengan segala cara tanpa mau mengindahkan usaha
hewan lain. Jadi aku tidak setuju.”
“Lalu, apa ada yang ingin merekomendasikan siapa yang pantas menjadi Raja?” tanya Gajah pada para hewan.
Suara riuh berkecamuk di kerumunan. Ada yang merekomendasikan Jerapah,
Monyet, Beruang, Kuda, Bunglon, Kura-kura, Harimau, Katak, Kupu-kupu, Tikus,
Sapi dan Kambing.
Gajah masih berpikir keras. Dia sangat tahu sifat para hewan yang
direkomendasikan.
Jerapah suka memandang
rendah pada hewan lain karena tubuhnya paling tinggi dibanding yang lainnya.
Gajah takut jika Jerapah menjadi Raja maka dia akan memandang semua hewan
karena apabila dia menjadi Raja maka dialah deRajat tertinggi di Kerajaan
Hutan. Sikap sombong itu tak akan bisa membuat hutan makmur.
Sedangkan Monyet
suka main-main, terlalu banyak ngobrol dan selalu mengganggu konsentrasi
kelompok dalam menghadapi persoalan serius. Dia tidak bisa dijadikan Raja yang
bijaksana, sifat yang dimiliki monyet tak bisa membuat kerajaan hutan menjadi
lebih baik karena dia hanya main-main sementara ini adalah masalah rakyat
hutan.
Kalau Beruang yang jadi Raja, Gajah sangat tau
sifatnya. Beruang adalah hewan yang selalu menggerutu, mengomel tanpa alasan
yang jelas. Bisa-bisa dia akan menggerutu pada siapa saja, bahkan pada
rakyatnya.
Gajah juga tak setuju jika Kuda jadi Raja karena Kuda susah diatur atau suka melanggar aturan. Jika Kuda jadi Raja, mau jadi apa
hutan ini nanti? Dan kalau Bunglon menjadi Raja, dia tidak pernah bisa
mengambil keputusan yang pasti karena ia plin-plan, tak teguh pendirian.
Kalau Kura-kura suka mengucilkan dirinya, menolak untuk
memberikan idenya atau pendapatnya. Ini sangat tidak baik bagi kerajaan hutan
karena pendapat dan ide sangat dibutuhkan demi perbaikan kerajaan hutan yang
hampir punah ini.
Sementara Harimau, dia memang
kuat tetapi serakah, mau menang sendiri serta jauh dari sifat bijaksana. Jadi
dia tidak bisa dijadikan Raja. Raja harus punya sifat bijaksana dan mulia,
tidak serakah tapi harus kuat.
Gajah paling tak suka dengan Katak, karena dia sering mengoceh tentang
hal yang sama dengan suara yang monoton pula. Jadi kalau Katak jadi Raja, maka
musyawarah akan statis, tak bergerak untuk maju, selalu diam di tempat. Tak
baik. Ini tak baik.
Jika Kupu-kupu jadi Raja, ah dia terlalu indah.
Kupu-kupu selalu percaya bahwa dengan kecantikan dan keindahan fisiknya dia akan
mampu menaklukkan dunia, padahal sebenarnya dia hanyalah makhluk kecil
yang lemah. Gajah tak setuju.
Sapi itu pemalas, bodoh dan suka makan,
menurut Gajah jadi tak bisa jadi Raja karena Raja tidak boleh malas, bodoh,
apalagi suka makan.
Kalau Kambing, simbol
kecerobohan. Suka protes walau belum jelas permasalahannya. Sukanya main tabrak
tanpa meneliti terlebih dahulu benar salahnya. Bisa-bisa banyak hewan tidak
bersalah yang dihukum mati. Gajah tak menyetujui.
Sang Gajah sudah menyerah
untuk memilih siapa lagi yang akan direkomendasikan. Namun, para hewan masih
berteriak satu nama lagi.
“TIKUSSS!” teriak para hewan.
Gajah membuang nafas panjang dan ia terdiam sejenak.
“Tidak, tidak bisa,” jawab Gajah.
Para hewan bertanya-tanya. Jika bukan Tikus yang dipilih maka tak ada
lagi kandidat untuk menjadi Raja menggantikan Singa.
“Inilah yang aku takutkan jika Tikus menjadi Raja. Tikus adalah lambang
koruptor, jadi aku paling takut Tikus menjadi Raja Hutan,” jawab Gajah.
Di saat pikiran mereka buntu untuk memilih siapa yang pantas menjadi Raja
menggantikan Singa. Tiba-tiba suara auman Singa terdengar. Lambat laun lebih
dekat terdengar. Sampailah Singa di tengah kerumuman para rakyatnya di hutan
itu. Dialah sang Raja Hutan yang sebenar-benarnya.
“Darimana saja kau, Singa?” tanya Gajah.
“Aku baru saja mencari hutan di seberang gunung sana. Disana ada hutan
yang belum terjamah, masih hijau, subur dan cocok untuk hidup para hewan. Kita
akan pindah kesana sekarang,” jawab Singa.
“Benarkah?” tanya Gajah.
“Iya,” jawab Singa. “Mungkin hanya itulah satu-satunya hutan yang
tersisa, hutan-hutan lainnya sudah gundul, longsor tanahnya dan ada juga yang
kebakaran. Semoga hutan terakhir yang akan kita tinggali ini tak akan pernah
menjadi gundul,” kata Singa.
Maka menyesallah para hewan yang berprasangka buruk kepada Singa atas
kepergiannya. Singa yang bijaksana dan mulia itu pun memang pantas menjadi Raja
karena memikirkan kepentingan rakyat di Kerajaan Hutan. Dia tidak melakukan
demi dirinya sendiri, tapi demi kepentingan rakyatnya. Maka
berbondong-bondonglah para hewan ke hutan yang dikatakan oleh Singa itu.
Satu-satunya hutan yang pohonnya tiada ditebang, di seberang gunung itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar