^_^ ^_^
TIANG NEGARA
oleh Anis Unifah
Ada seorang Raja yang mempunyai Putri yang sangat cantik tetapi hatinya
tidak secantik parasnya. Sang Putri suka hidup mewah dan boros, malas-malasan
dan tidak pernah mau belajar. Raja khawatir dengan putrinya yang sudah menginjak
remaja tetapi berkepribadian buruk. Karena itulah, demi masa depan putrinya
yang kelak akan menjadi Ratu menggantikan dirinya, Raja mengumumkan sayembara
bagi siapa saja yang bisa mengubah putrinya untuk menjadi pribadi yang baik.
Karena iming-iming uang yang dibayarkan sangat tinggi oleh Sang Raja,
maka berdatanganlah orang-orang melamar menjadi guru untuk Putri. Sebanyak yang
melamar, sebanyak itu pulalah yang keluar. Kepribadian Putri sangat
menjengkelkan dan tidak bisa dikendalikan. Putri tidak mau mendengarkan guru
yang menerangkan pelajaran, dia suka bermain sendiri dan tidak mempedulikan
orang lain yang sedang bicara. Ia hanya ingin suaranya yang didengar. Maka,
belum ada yang berhasil mengubah kepribadian Sang Putri. Raja hampir putus asa
mendidik putrinya.
Lalu suatu hari, datanglah seorang wanita dengan pakaian sederhana.
Wanita itu melamar menjadi guru bagi Sang Putri padahal ia tidak punya latar
belakang pendidikan tinggi. Melihat latar pendidikan wanita itu, Raja tidak
yakin karena para guru yang sebelumnya datang berlatar pendidikan lebih tinggi
namun ternyata mereka gagal mendidik sang putri.
Sang Penasihat Raja pun berkata, “Janganlah melihat seseorang dari latar
belakang pendidikannya, bisa jadi dia lebih baik daripada orang-orang sebelumnya
yang pendidikannya jauh lebih tinggi.”
Raja pun menyetujui wanita itu mendidik putrinya. Selang beberapa minggu,
kelakuan putrinya sedikit berubah, dia sudah mulai mengerti sopan santun kepada
orang lain, bahkan menghormati para pelayan istana yang pangkatnya lebih rendah
dari dirinya. Selang beberapa bulan kemudian, Sang Putri menunjukkan
kepribadian yang lebih baik daripada sebelumnya. Dia menjadi putri yang belajar
dengan tekun dan tidak pernah malas-malasan. Dia tidak boros dan baik hati. Dalam
waktu satu tahun, putri tersebut telah merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya
menjadi kebiasaan-kebiasaan yang baik. Raja pun puas dengan keberhasilan wanita
itu mengubah putrinya menjadi pribadi yang cantik, secantik parasnya.
Akhirnya wanita tersebut mengundurkan diri setelah mengajari putri selama
satu tahun, tetapi Raja ingin wanita tersebut tetap mendidik putrinya. Tanpa
mengurangi rasa hormatnya, wanita itu menolak permintaan Sang Raja dengan halus
dan sopan.
“Saya harus mendidik putri-putri yang lain, dari rumah ke rumah, jadi
saya tidak bisa menerima permintaan Raja. Waktu satu tahun adalah waktu yang saya
tentukan untuk mendidik mereka,” jawab wanita tersebut.
Raja pun mengerti kemudian bertanya, “Saya penasaran dengan cara mendidik
Anda. Orang lain yang pendidikannya lebih tinggi daripada Anda justru kewalahan
mendidik putri. Sebenarnya, apa yang Anda nasihatkan padanya?”
“Wanita itu adalah tiang negara, apabila ia baik maka baiklah negara.
Wanita adalah calon Ibu bagi anak-anaknya, jadi dia harus menjadi pribadi yang
baik agar kelak anaknya juga memiliki kepribadian yang baik. Hanya itu yang
saya ajarkan kepadanya dan juga kepada putri-putri yang lain. Memang saya tidak
punya pendidikan yang lebih tinggi, tapi saya punya pengalaman yang lebih lama dibanding
mereka dalam mendidik. Saya hafal sifat mereka yang ingin didengarkan, bukan
mendengarkan, jadi saya dengarkan mereka. Bukankah pengalaman mengalahkan
teori?”
“Ya, benar,” jawab Sang Raja. Kemudian Raja memberikan gaji yang sudah
dijanjikan kepada wanita tersebut tetapi lagi-lagi wanita itu menolak.
“Cukup Raja memberikan saya biaya perjalanan pulang untuk saya saja. Saya
ikhlas karena Allah,” ujar wanita itu.
Akhirnya Raja memenuhi permintaan wanita itu dan sangat berterimakasih.
Bukankah melakukan pekerjaan karena ikhlas kepada Allah adalah sebaik-baik
pekerjaan? Maka hanya Allah-lah pemberi balasan baik kepada hamba-Nya yang
ikhlas, yaitu surga firdaus yang kekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar