Tema: Remaja, antara Pergaulan dan Cinta
NANTIKANKU DI BATAS WAKTU
oleh Anis Unifah
Jemariku tak dapat melukiskan wajahnya. Aku merasa tak pantas jika
mencintainya. Aku bukan siapa-siapa. Kalau saja waktu dapat berputar dan
menyuarakan cinta, kan kukirim sinyal untuknya.
Aku dan Adam tidak pernah bicara selain perdebatan di kelas. kami
sama-sama keras kepala mempertahankan pendapat. Jika aku sedang
mempresentasikan makalahku bersama teman-teman, ia selalu bertanya seolah-olah
memojokkan dan menentang pendapatku.
Aku akui ia memang genius, semua nilainya A, terutama untuk mata
pelajaran Statistik yang sangat sulit. Tapi di mataku, dia bukanlah lelaki yang
bisa menghargai orang lain terutama pada siswa perempuan di kelas kami, tapi ia
juga tidak bisa disebut sombong. Dia tidak pernah bicara dengan perempuan, dia
selalu mengacuhkan mereka padahal banyak sekali para siswi di sekolah yang
menaruh perasaan padanya, termasuk diriku.
Namun, hari ini, di tengah hujan yang mengguyur halaman sekolah saat jam
pulang, aku mulai mengerti. Hujan begitu lebatnya sementara teman-teman telah
memekarkan payung dan meninggalkan sekolah. Aku tak membawa payung, merasa
menyesal tak menghiraukan kata-kata Ibuku untuk menyediakan payung di dalam tas
setiap saat. Cuaca bisa berbohong, kelihatan panas pagi hari tapi hujan lebat
saat tengah hari. Itulah rahasia Tuhan.
“Silmi.”
Ini pertama kalinya Adam menyebut namaku diluar perdebatan kami di kelas
dan ini pertama kalinya kami bicara. Dia terlihat lebih tampan saat dari dekat,
alisnya yang hitam dan rapi, juga hidungnya yang terpahat sempurna, matanya
yang mengalihkan pandangan dari mataku. Sejenak aku terhanyut, tapi aku lebih
tertarik pada kecerdasannya daripada ketampanannya.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
Dia menyodorkan payung untukku lalu tersenyum. Aku tak berani menatapnya lama-lama
dan hanya mengambil payung yang ia sodorkan itu.
“Lalu kau pakai payung apa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa, pakai saja,” jawabnya. “Baiklah, sampai jumpa.”
Dia berlari meninggalkan aku yang masih berdiri di teras. Aku ingin
memanggilnya yang sedang terguyur hujan di jalanan menuju pintu gerbang.
Keadaan ini memaksaku untuk terus memikirkan kebaikannya dan kepada hujan aku
ingin ia berhenti mengguyur Adam yang rela memberikan payungnya untukku.
Aku berjalan di bawah payung ini sendirian menuju pulang tetapi kemudian
aku melihatnya sedang berdiri di teras toko untuk berteduh, dia basah kuyup.
Aku merasa bersalah karena dia meminjamkan payungnya untukku. Aku
menghampirinya dan ia kaget melihatku mendekat padanya.
“Terimakasih dan maaf,” kataku tiba-tiba.
Dia sedikit menggigil karena kedinginan, tapi dia mendengar kata-kataku.
“Aku sudah membuatmu basah kuyup seperti ini,” lanjutku.
“Tak mengapa, kau bisa mengembalikan payungku besok.”
“Adam, aku… aku…”
Entah mengapa, aku tak bisa membendung lagi cinta yang mendidih seperti
kawah di hatiku. Aku mulai mengerti makna cinta, tapi aku belum terlalu dalam
mengetahuinya. Apakah mungkin terlalu cepat untuk menyatakan kepadanya?
“Silmi?” dia memanggilku dengan nada ingin tahu.
“Aku menyukaimu, Adam.”
Akhirnya kata tak lazim diucapkan perempuan kepada lelaki itu pun keluar
juga dari mulutku. Dia akan menganggapku perempuan yang tak tahu malu. Tapi anehnya
dia tak berkata apa-apa dan masih berdiri membeku di tempatnya.
“Namun aku tak sepantasnya mengucapkan hal seperti ini,” lanjutku dan
terus menunduk di hadapannya. “Jika orang lain menyukaimu lantaran
ketampananmu, aku menyukaimu karena kecerdasan dan kebaikanmu.”
Dia masih tak bergeming.
Aku pun berkata lagi, “Sebentar lagi kita lulus dan aku dengar kau akan
kuliah di luar negeri karena mendapat beasiswa. Sebelum terlambat dan kita
tidak akan pernah bertemu lagi, aku mengatakan ini padamu sekarang. Kumohon
jangan membenciku karena aku mengatakan ini, sesuatu yang seharusnya tak dikatakan
perempuan kepada lelaki, sesuatu yang tidak wajar.”
Aku belum mendengar jawaban apa-apa darinya, maka aku pun mengambil
langkah mundur. Masih dengan menunduk aku berkata padanya, “Baiklah, aku akan
mengembalikan payungnya besok, atau… anggap saja kejadian ini tak pernah
terjadi, kau boleh melupakan apa yang barusan katakan.”
Aku membalikkan badan dan tidak berani menatapnya, tiba-tiba ia membuka
suara.
“Silmi,” panggilnya.
Jantungku berdetak lebih kencang. Aku berhenti melangkah lalu membalikkan
badan dan menatapnya. Kami saling menatap sesaat lalu sama-sama mengalihkan
pandangan.
“Aku juga menyukaimu, Silmi, tapi tidak sepantasnya kita berdua-duaan
seperti ini karena aku takut syaithan membisiki kita kepada sesuatu yang
dilarang,” katanya dan gejolak hatiku mereda.
“Kau tahu lagu Nantikanku di batas waktu, yang dinyanyikan EdCoustic?”
tanyanya.
“Ya, aku tahu,” jawabku segera. Lagu itu adalah lagu kesukaanku.
“Itu lagu kesukaanku,” katanya. Ternyata kami suka dengan lagu yang sama.
“Caraku menyukaimu adalah dengan lagu itu. Jika nanti kita lulus dan aku
kuliah di luar negeri Insya Allah, lagu itu untukmu. Nantikanku di batas waktu.
Jika berjodoh kita akan pasti bertemu lagi.”
Dia menjawabnya dengan begitu sederhana dan bijaksana. Aku tidak salah
memilih orang yang kusukai dan aku akan menantinya sampai waktu itu telah tiba,
sampai waktu yang ditentukan telah dekat dan kita akan bertemu.
Seperti kata-kata Ibnu Hazm al-Andalusy, cinta memiliki makna yang dalam,
indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan
keagungannya. Hakikat cinta tidak dapat ditemukan, selain dengan segenap
kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta tidak dimusuhi oleh agama dan tidak
dilarang oleh syari’at-Nya. Cinta adalah
urusan hati dan hati adalah urusan Illahi. Kuserahkan cintaku pada Illahi.
Adam, aku akan menantimu di batas waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar