Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen "Nantikanku di batas waktu"

Cerpen ini menjadi kontributor pada Event Inspirasi Remaja Masa Kini_Penerbit Naifa Publishing,
Tema: Remaja, antara Pergaulan dan Cinta



NANTIKANKU DI BATAS WAKTU
oleh Anis Unifah

Jemariku tak dapat melukiskan wajahnya. Aku merasa tak pantas jika mencintainya. Aku bukan siapa-siapa. Kalau saja waktu dapat berputar dan menyuarakan cinta, kan kukirim sinyal untuknya.
Aku dan Adam tidak pernah bicara selain perdebatan di kelas. kami sama-sama keras kepala mempertahankan pendapat. Jika aku sedang mempresentasikan makalahku bersama teman-teman, ia selalu bertanya seolah-olah memojokkan dan menentang pendapatku.
Aku akui ia memang genius, semua nilainya A, terutama untuk mata pelajaran Statistik yang sangat sulit. Tapi di mataku, dia bukanlah lelaki yang bisa menghargai orang lain terutama pada siswa perempuan di kelas kami, tapi ia juga tidak bisa disebut sombong. Dia tidak pernah bicara dengan perempuan, dia selalu mengacuhkan mereka padahal banyak sekali para siswi di sekolah yang menaruh perasaan padanya, termasuk diriku.
Namun, hari ini, di tengah hujan yang mengguyur halaman sekolah saat jam pulang, aku mulai mengerti. Hujan begitu lebatnya sementara teman-teman telah memekarkan payung dan meninggalkan sekolah. Aku tak membawa payung, merasa menyesal tak menghiraukan kata-kata Ibuku untuk menyediakan payung di dalam tas setiap saat. Cuaca bisa berbohong, kelihatan panas pagi hari tapi hujan lebat saat tengah hari. Itulah rahasia Tuhan.
“Silmi.”
Ini pertama kalinya Adam menyebut namaku diluar perdebatan kami di kelas dan ini pertama kalinya kami bicara. Dia terlihat lebih tampan saat dari dekat, alisnya yang hitam dan rapi, juga hidungnya yang terpahat sempurna, matanya yang mengalihkan pandangan dari mataku. Sejenak aku terhanyut, tapi aku lebih tertarik pada kecerdasannya daripada ketampanannya.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
Dia menyodorkan payung untukku lalu tersenyum. Aku tak berani menatapnya lama-lama dan hanya mengambil payung yang ia sodorkan itu.
“Lalu kau pakai payung apa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa, pakai saja,” jawabnya. “Baiklah, sampai jumpa.”
Dia berlari meninggalkan aku yang masih berdiri di teras. Aku ingin memanggilnya yang sedang terguyur hujan di jalanan menuju pintu gerbang. Keadaan ini memaksaku untuk terus memikirkan kebaikannya dan kepada hujan aku ingin ia berhenti mengguyur Adam yang rela memberikan payungnya untukku.
Aku berjalan di bawah payung ini sendirian menuju pulang tetapi kemudian aku melihatnya sedang berdiri di teras toko untuk berteduh, dia basah kuyup. Aku merasa bersalah karena dia meminjamkan payungnya untukku. Aku menghampirinya dan ia kaget melihatku mendekat padanya.
“Terimakasih dan maaf,” kataku tiba-tiba.
Dia sedikit menggigil karena kedinginan, tapi dia mendengar kata-kataku.
“Aku sudah membuatmu basah kuyup seperti ini,” lanjutku.
“Tak mengapa, kau bisa mengembalikan payungku besok.”
“Adam, aku… aku…”
Entah mengapa, aku tak bisa membendung lagi cinta yang mendidih seperti kawah di hatiku. Aku mulai mengerti makna cinta, tapi aku belum terlalu dalam mengetahuinya. Apakah mungkin terlalu cepat untuk menyatakan kepadanya?
“Silmi?” dia memanggilku dengan nada ingin tahu.
“Aku menyukaimu, Adam.”
Akhirnya kata tak lazim diucapkan perempuan kepada lelaki itu pun keluar juga dari mulutku. Dia akan menganggapku perempuan yang tak tahu malu. Tapi anehnya dia tak berkata apa-apa dan masih berdiri membeku di tempatnya.
“Namun aku tak sepantasnya mengucapkan hal seperti ini,” lanjutku dan terus menunduk di hadapannya. “Jika orang lain menyukaimu lantaran ketampananmu, aku menyukaimu karena kecerdasan dan kebaikanmu.”
Dia masih tak bergeming.
Aku pun berkata lagi, “Sebentar lagi kita lulus dan aku dengar kau akan kuliah di luar negeri karena mendapat beasiswa. Sebelum terlambat dan kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku mengatakan ini padamu sekarang. Kumohon jangan membenciku karena aku mengatakan ini, sesuatu yang seharusnya tak dikatakan perempuan kepada lelaki, sesuatu yang tidak wajar.”
Aku belum mendengar jawaban apa-apa darinya, maka aku pun mengambil langkah mundur. Masih dengan menunduk aku berkata padanya, “Baiklah, aku akan mengembalikan payungnya besok, atau… anggap saja kejadian ini tak pernah terjadi, kau boleh melupakan apa yang barusan katakan.”
Aku membalikkan badan dan tidak berani menatapnya, tiba-tiba ia membuka suara.
“Silmi,” panggilnya.
Jantungku berdetak lebih kencang. Aku berhenti melangkah lalu membalikkan badan dan menatapnya. Kami saling menatap sesaat lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
“Aku juga menyukaimu, Silmi, tapi tidak sepantasnya kita berdua-duaan seperti ini karena aku takut syaithan membisiki kita kepada sesuatu yang dilarang,” katanya dan gejolak hatiku mereda.
“Kau tahu lagu Nantikanku di batas waktu, yang dinyanyikan EdCoustic?” tanyanya.
“Ya, aku tahu,” jawabku segera. Lagu itu adalah lagu kesukaanku.
“Itu lagu kesukaanku,” katanya. Ternyata kami suka dengan lagu yang sama.
“Caraku menyukaimu adalah dengan lagu itu. Jika nanti kita lulus dan aku kuliah di luar negeri Insya Allah, lagu itu untukmu. Nantikanku di batas waktu. Jika berjodoh kita akan pasti bertemu lagi.”
Dia menjawabnya dengan begitu sederhana dan bijaksana. Aku tidak salah memilih orang yang kusukai dan aku akan menantinya sampai waktu itu telah tiba, sampai waktu yang ditentukan telah dekat dan kita akan bertemu.
Seperti kata-kata Ibnu Hazm al-Andalusy, cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta tidak dapat ditemukan, selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta tidak dimusuhi oleh agama dan tidak dilarang oleh syari’at-Nya. Cinta adalah urusan hati dan hati adalah urusan Illahi. Kuserahkan cintaku pada Illahi. Adam, aku akan menantimu di batas waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar