tema: Ketika Alam Berbicara
CERITA SEBUAH KAMPUNG
oleh Anis Unifah
Ada sebuah kampung yang kaya, subur dan makmur. Kampung itu dipimpin oleh
seseorang yang selalu mengingatkan para penduduknya untuk taat kepada Allah,
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang
Allah. Karena ketaatan mereka kepada Allah, maka Allah menjadikan kampung itu
sebagai kampung yang makmur dan penduduknya shalih dan shalihah.
Para pengurus kampung itu biasa mengumpulkan uang dari penduduk untuk
disumbangkan ke kampung lain yang membutuhkan. Mereka tidak pernah mengambil
uang yang dikumpulkan itu untuk kebutuhan pribadi mereka.
Suatu hari, Kepala Kampung itu meninggal karena usianya yang sudah renta.
Allah memanggilnya kembali ke sisi-Nya, maka dipilihlah Kepala Kampung yang
lain yang dipercaya oleh penduduk untuk menggantikan Kepala Kampung yang telah
wafat.
Setiap Kepala Kampung meninggal, maka dipilihlah Kepala Kampung yang lain
untuk meneruskannya, begitu seterusnya hingga para penduduk shalih dan shalihah
yang ada di kampung tersebut meninggal satu per satu tergantikan oleh penduduk
yang tidak mengenal Allah.
Maka penduduk itu pun mulai melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah,
seperti berzina antara lelaki dan perempuan yang belum menikah, mengambil
bagian dari uang yang dikumpulkan seluruh penduduk untuk kepentingan pribadi
(korupsi), mengambil tanah penduduk lain secara batil, yang kaya merendahkan
yang miskin, para homo dan lesbian berkeliaran dimana-mana dan banyak lagi
macam pelanggaran yang penduduk itu lakukan.
Kepala Kampung tak tahan dengan kelakuan penduduk yang tidak bisa
dikendalikan lagi. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh Kepala Kampung tidak
lagi dihiraukan, bahkan karena mereka jengkel maka rumah Kepala Kampung dibakar
dan putrinya diperkosa oleh remaja kampung tersebut.
Kepala Kampung berdo’a kepada Allah, supaya mereka diberi pelajaran agar
penduduknya bertaubat dan kembali pada-Nya. Hanya dengan ketaatan kepada
Allah-lah yang menjadikan kampung itu kembali subur dan makmur.
Maka Kepala Kampung yang hanya tinggal di reruntuhan rumahnya itu pun
shalat di masjid kampung saat maghrib menjelang. Dia tak henti-hentinya berdo’a
supaya Allah mengabulkan do’anya. Seusai berdo’a, dia hendak keluar masjid
tetapi tiba-tiba hujan turun begitu deras sehingga Kepala Kampung dan jama’ah
lain yang hanya sedikit itu tidak jadi meninggalkan masjid.
Petir menggelegar dan hujan turun lebat seperti lautan yang meluap. Maka
dengan mata kepalanya sendiri, Kepala Kampung dan para jama’ah melihat
rumah-rumah, sawah dan perkebunan terbawa oleh air seperti guncangan tsunami.
Rumah-rumah roboh serta hancur, papan-papannya tersangkut ke sekeliling masjid
sehingga menutupi masjid dan melindungi masjid itu. Kepala Kampung menyuruh
para jama’ah untuk beristighfar dan memohon perlindungan kepada Allah.
Hingga satu malam, hujan itu tidak berhenti membuat listrik mati dan
suara gemuruh, jeritan-jeritan dan suara hancur lebur bercampur deburan air
terdengar. Kepala Kampung hanya mendengarnya dibalik kegelapan dalam masjid
yang tertutupi oleh papan-papan yang mengelilingi masjid.
Akhirnya, subuh pun menjelang dan suara-suara keruh itu pun memudar.
Kepala Kampung shalat berjama’ah subuh dengan para penduduk yang ada di masjid
tersebut. Seusai shalat subuh, mereka menunggu matahari terbit dan sinarnya mulai
menyusup diantara celah-celah kayu yang menutupi masjid. Mereka kemudian
menyingkirkan kayu-kayu itu dari teras dan alangkah terkejutnya mereka saat
melihat ke sekeliling. Semuanya rata dengan tanah. Masya Allah.
Ini hanyalah suatu kampung yang kecil, bagaimana kalau itu sebuah negeri
yang besar? Maka Allah Yang Maha Memiliki segalanya-lah yang mempunyai kehendak
atas segala sesuatu. Ketika Allah telah memerintahkan alam untuk
memporak-porandakan manusia, maka tiadalah tempat memohon perlindungan kecuali
kepada Allah. Karena itu, marilah kita taat kepada Allah dan menjauhi
larangan-Nya supaya kita dapat membawa generasi-generasi muda negeri ini
menjadi generasi yang bertaqwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar