BROTHER
oleh Anis Unifah
Aku mengikuti langkah Daniel. Kami berhenti di sebuah rumah dengan ukiran
kuno, berdinding bata tanpa semen. Dari luar, bangunan itu sama sekali tak
menarik. Tetapi Daniel, lelaki jangkung dengan tinggi 180 centimeter itu
memilih tempat kuno itu untuk menemui luthier.
Daniel tak mengetuk pintu dan masuk ke ruangan bangunan kuno itu, seolah
ia sudah sering mengunjungi tempat ini. Aku tak berkomentar apa-apa dan
mengikuti langkahnya. Ada seorang lelaki sedang memasang senar di biola, kira-kira
usianya dua puluh lima tahun, satu tahun lebih tua dari aku dan Daniel.
“Perfect”, lelaki itu memuji biola
buatannya sendiri lalu menggantungkannya di ruangan bersama barisan biola lain.
Matanya kemudian menangkap Daniel dan aku, “Oh, Daniel, senarmu putus lagi?”
tanyanya lalu berdiri dan menghampiri kami. Ia sekilas memandangku lalu
mengalihkan pandangan ke mata Daniel.
“Iya, aku terlalu membuatnya bekerja paksa,” jawab Daniel, membicarakan
biolanya yang kelihatan sudah tua dan rapuh, ada banyak goresan di badan
biolanya.
Daniel memberikan biolanya kepada lelaki itu.
“Oh ya, dia Thomas, kakakku,” kata Daniel memperkenalkan lelaki itu
padaku.
Aku tak bisa menyembunyikan wajah kaget saat Daniel bilang lelaki itu
adalah kakaknya. Sama sekali tak mirip, kecuali keduanya sama-sama tampan.
Thomas tersenyum padaku sambil mengulurkan tangan sebagai tanda
perkenalan, “Aku Thomas. Aku seorang Luthier.”
Aku menjabat tangannya sambil menjawab, “Olivia… kau bisa memanggilku
Oliv saja.”
“Ehm-hem, inilah pekerjaanku, Oliv, aku seorang luthier, membuat dan membetulkan biola,” lanjutnya lalu duduk di
kursi kerjanya lagi, dia memandangku dan menebak, “Jadi kau pacar Daniel?”
Aku langsung menolak pertanyaan itu, “Tidak, tidak. Aku hanya teman
kampusnya yang kebetulan tertarik dengan biola. Aku sering melihatnya
menghabiskan waktu di pojok ruang musik sambil memainkan biolanya. Mungkin
itulah yang dinamakan kerja paksa.” Aku melirik Daniel dan ia hanya tersenyum
kecut karena sindiranku.
Thomas tersenyum memandang adiknya, “Yeah, itulah daya tarik Daniel.
Orang akan memandangnya keren saat dia bermain biola.”
Thomas kemudian mencari senar lalu memasangnya. Sementara Daniel melihat
jajaran biola yang tergantung di ruangan, ada juga yang rapi disandarkan di
dinding di atas meja. Aku mengamati sisi-sisi biola. Dipandang baik dari depan
maupun dari belakang, badan biola menyerupai bentuk jam pasir.
Dua buah lekukan menyerupai huruf C pada kedua sisi samping biola memberikan
ruang bagi busur biola untuk bergerak.
“Kau yang membuat semua biola ini?” tanyaku pada Thomas dan ia hanya
mengangguk karena sibuk memasang senar. “Kau membuatnya dari kayu apa?” tanyaku
tetapi Thomas tak menjawab karena sibuk.
“Kayu Spruce, sejenis kayu cemara,” sahut Daniel dan pandanganku segera
beralih kepada lelaki tampan di depanku. “Umumnya permukaan atas biola dibuat
dari kayu spruce, sejenis kayu
cemara, yang dipahat sehingga memiliki bentuk yang simetris dan diberi dua lubang suara atau lubang
F. Diberi nama demikian karena bentuknya. Lubang suara tersebut mempengaruhi
kelenturan suara biola, dan juga sebagai lubang napas biola pada saat udara beresonansi di dalamnya.”
Aku kurang paham dengan apa yang diucapkannya.
“Pada pinggir permukaan ini,” Daniel menunjuk pinggir permukaan biola, “dibentuk
suatu lekukan garis yang disebut purfling, tujuannya menghalangi retakan
yang berasal dari pinggir. Purfling palsu yang dicat pada permukaan
biola biasanya menandakan kualitas biola yang rendah.”
“Kau akan tahu tak ada purfling
palsu di biola yang aku buat. Jadi deduksinya adalah semua biolaku berkualitas
tinggi,” sahut Thomas sombong.
Daniel hanya menengok kakaknya dengan wajah tak senang lalu melanjutkan,
“Sebuah balok kayu kecil dipasang didalam permukaan atas biola, sejajar dengan
jembatan biola di atasnya, untuk menambah massa serta kekerasan permukaan atas
biola.”
Aku mengangguk-angguk meski aku tidak mengerti penjelasan Daniel sama
sekali.
Daniel menunjuk bagian belakang dan samping biola lalu berkata, “Bagian
belakang dan samping biola dibuat dari kayu mapel, biasa dipilih
yang memiliki alur yang sama. Bagian belakang biola umumnya dibuat dari kayu utuh
yang dipahat secara simetris. Bagian ini sering pula dibentuk purfling walaupun dalam hal ini tidak
seberapa berpengaruh terhadap biola itu sendiri. Beberapa biola antik dibubuhi
tulisan tangan atau diberi lapisan.”
“Dan tak ada biola antik disini, semua buatanku sendiri dan aku bukanlah
lelaki yang suka barang-barang antik,” sahut Thomas lagi.
“Tapi aku suka,” Daniel memperlihatkan ekspresi tak senang dari wajahnya
lagi.
Aku mulai membaca hubungan tak akur antara adik dan kakak ini. Semua
terpancar dari mata mereka berdua saat memandang satu sama lain, terrible.
“Sudah jadi,” Thomas memberikan biola milik Daniel kepadanya setelah
selesai diperbaiki lalu ia mengambil biola lain dan memainkannya, persis
seperti Jascha Heifetz, seorang violinis yang melegenda.
Dari suara biola yang dipetik, Thomas adalah seorang violinis beraliran
pop. Dia memainkan lagu-lagu pop, milik The Corrs. Aku sedikit terpesona dengan
permainan biola Thomas.
Daniel tak mau kalah, ia mengambil biolanya dan menggesek bow ke senar
biola. Seperti kesan pertamaku pada Daniel, dia menyukai musik klasik. Semua
permainan biolanya membuat dia menjadi sosok lelaki yang melankolis. Sangat
berbeda dengan Thomas yang energik. Tiba-tiba aku mendengar nada sumbang dari
bunyi biola yang digesek Daniel, tak seperti seorang Daniel yang biasanya perfect.
“Karena biola tidak memiliki fret seperti gitar sebagai penanda jari,”
kata Thomas sambil terus memainkan biolanya, “seorang pemain biola harus
benar-benar tahu di mana letak suatu nada dengan menggunakan perasaan. Hal ini
hanya dapat dilakukan dengan berlatih terus menerus sehingga jari-jari tangan
dapat secara otomatis menekan nada yang diinginkan dengan tepat. Selain melatih
jari, pemain biola juga harus melatih telinga sehingga dapat membedakan
nada-nada sumbang, walaupun hanya sedikit saja.”
Kata-kata Thomas terdengar pedas. Seketika Daniel menghentikan permainannya
lalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa pada kami.
“Setidaknya dia harus mengucapkan terimakasih,” gumam Thomas cuek.
“Terimakasih,” selaku, “Aku mengucapkannya menggantikan Daniel.”
Kemudian aku pamit kepada Thomas dan mengejar Daniel.
Aku sangat mengenal wajah lelaki yang aku sukai itu. Dia kesal setengah
mati.
“Kau ingat aku pernah bilang ada lelaki menjengkelkan yang selalu ingin
aku kalahkan dalam bermain biola?” tanya Daniel tiba-tiba.
Aku mengangguk.
Daniel pun menjawab dengan geram, “Dia kakakku, Thomas.”
Oh, benar dugaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar