Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen "Tak Terbeli oleh Uang"

menjadi kontributor dalam Event menulis "Seribu Cerita dari Desa"_dibukukan dalam buku "Lazuardi Pemikat Hati"



TAK TERBELI OLEH UANG
oleh Anis Unifah

Tinggal di desa lebih menyenangkan, udara yang masih segar dan segala warna tampak hijau menyejukkan, tetapi Mutya tidak suka dengan jalannya yang belum diaspal, masih bebatuan; makadam.
Gadis cantik yang tinggal di kota seperti Jakarta, setiap lebaran dia selalu mengunjungi neneknya di desa, bahkan di lereng gunung. Mobil yang membawanya ke desa itu telah melemparkannya ke kanan dan kiri. Ayahnya yang jago menyetir bahkan harus mengerahkan segala daya penuh untuk menguasai jalan bebatuan.
Sebenarnya sudah berulang kali nenek dan kakek Mutya diajak pindah ke kota, tetapi dia lebih memilih tinggal di desa. Disanalah tempat kelahirannya, ujar mereka. Karena itulah, sebagai anak yang berbakti, Ayah Mutya selalu sungkem kepada orang tuanya di desa.
Mutya muntah-muntah setelah ia turun dari mobil. Dandanannya yang nyentrik kini sudah amburadul. Maskaranya sudah luntur dan terlihat seperti lingkaran hitam di matanya, seperti hantu. Sam, adiknya, tertawa cekikikan. Meski Sam masih SMP kelas IX dan hanya beda dua tahun dari kakaknya, tubuh Sam lebih tinggi dari Mutya sehingga Sam bebas mengolok-olok kakaknya. Toh, Mutya tidak bisa melawan secara fisik kepada Sam.
“Tak akan aku ajari kau PR Matematika-mu selama satu bulan,” ancam Mutya dan hanya dengan inilah Mutya bisa melawan adiknya.
Sam mengernyitkan alis, “Oh, maaf-maaf. Aku tak akan mentertawaimu lagi karena mabuk darat.”
“Aku hanya mabuk darat setahun sekali dan hanya saat perjalan melelahkan ini.”
Mutya mengusap mulutnya untuk menghilangkan bekas muntahan lalu menyusul orang tuanya masuk ke rumah menemui kakek dan neneknya. Kelelahan mereka terbayarkan dengan hidangan makanan opor ayam dengan bumbu khas desa yang tak pernah didapatkan di kota. Ya, karena di desa bisa menanam sendiri bumbu-bumbu, tidak seperti di kota yang serba instan. Bubur instan, bumbu sup instan, kari instan, nasi goreng instan, bahkan air pun instan.
Mutya segera meneguk air dari teko yang ternyata masih hangat. Neneknya memasak sendiri airnya, tidak pernah tahu apa itu galon.
“Air hangat baik untuk kesehatan,” Neneknya berkata¾dan kata-kata itu yang selalu diucapkan pada Mutya setiap kali ia meneguk air hangat itu.
Mutya hanya mengangguk, dia sedikit kecewa. Perjalanan melelahkan dan penuh keringat serta perjuangan ini harusnya disuguhi minuman dingin yang menyegarkan tenggorokan. Tapi apa? Hangat? Menyehatkan? Ya, tak ada air dingin disini, tak ada lemari es.
Semua berkumpul di ruang tamu, neneknya membawa nasi dan sayur serta lauk kemudian Mutya membantunya. Mereka makan bersama. Seusai makan, Sam yang selalu blusukan menemukan pohon mangga dan rambutan yang berbuah di belakang rumah. Dengan susah payah dia naik ke pohon mangga, akhirnya ia bisa memetik buah mangga yang ranum. Ia cengar-cengir sendiri.
“Sam, ambilkan satu,” suruh Mutya yang terlah berdiri di bawah pohon mangga.
Sam yang nakal menjatuhkan mangga di kepala kakaknya, untung Mutya bisa menghindarinya. Mutya marah-marah, lalu beralih mengambil rambutan dengan bambu panjang. Akhirnya ia berhasil menjatuhkan gerombolan rambutan dari rantingnya. Mutya senang dan ketika ia hendak mengupas buah yang berambut merah itu, sang nenek menghampirinya.
Dengan berjalan tertatih-tatih sambil membawa sebuah keranjang, ia berkata kepada Mutya, “kakekmu sudah memanennya kemarin, khusus disiapkan untuk kalian.”
Oh, sial. Pengorbanannya memetik buah rambutan dengan susah payah, juga hampir kepalanya benjol karena ulah Sam, semuanya sia-sia. Keranjang yang dibawa neneknya itu berisi banyak sekali mangga dan rambutan yang telah matang. Mungkin beginilah asyiknya di desa, bisa memetik buah dari pekarangan sendiri.
Mutya dan keluarganya menikmati buah itu.
Malam pun tiba, Mutya tidur dengan Ibunya dan sudah waktunya para nyamuk beraksi, mencari mangsa, meminum darah manusia. Mutya memukuli tangannya sendiri, bahkan mukanya untuk membunuh nyamuk yang merajalela menyerangnya. Ah sial, gerutunya. Kalau di rumah, ia bisa langsung mencolokkan obat nyamuk elektrik dan nyamuk-nyamuk segera kabur. Bahkan disini tak ada colokan listrik, sangat terbatas sekali. Listrik harus dipakai dengan hemat disini. Beberapa rumah bisa menggunakan sumber listrik yang sama, jadi apabila ada satu rumah yang memakai muatan listrik berlebihan maka listrik akan mati karena tidak kuat menahan muatan. Ya, seperti perahu yang berpenumpang banyak, apabila satu orang melubangi perahu maka tenggelamlah semua penumpang.
Akhirnya Mutya bisa tidur saat neneknya menyalakan obat nyamuk bakar, meski asapnya membuat dia batuk berulang kali.
Keesokan harinya, sang kakek mengajak Mutya dan Sam mengambil janur di pohon kelapa. Di desa, ada hari ketupat yakni jatuh pada hari ketujuh syawal, sehingga Sam harus memanjar pohon kelapa dan mencari daun janur.
Setelah mendapat daun janur yang bagus-bagus, kakek mengajari Sam membuat ketupat dengan membalutkan janur di tangannya. Dasar Sam, sudah diajari beberapa kali ia tetap tak bisa. Sangat beda dengan Mutya yang sekali diajari langsung bisa membuat ketupat. Biasanya mereka membeli ketupat yang masih kosong di mall-mall, tetapi di desa mereka membuat sendiri dan kualitas rasa juga terasa berbeda. Nasi ketupat dari janur yang dibuat sendiri rasanya lebih enak daripada nasi ketupat yang dijual, mungkin karena jerih payah membuatnya yang membuatnya berbeda.
Akhirnya tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta dan meninggalkan desa. Seperti biasanya, para tetangga berdatangan dan bersalaman melepas kepergian Ayah Mutya. Sudah kebiasaan di desa bahwa tetangga selalu menjaga hubungan baik, karena keluarga pertama yang membantu saat kesusahan adalah tetangga. Bahkan para tetangga membawakan oleh-oleh untuk Ayah Mutya. Ya, mereka dulu mengenal Ayah Mutya masih kecil. Dia lahir di tanah ini, di desa ini, jadi kesuksesannya di Jakarta menjadi buah bibir di desa. Satu kata bisa menyebar ke seluruh desa, itulah keunikannya desa. Tidak seperti di kota yang diantara tetangga tidak saling kenal. Jika ada yang tanya alamat di kota, maka tak akan ada yang kenal jika menyebut namanya, harus menyebut jalan apa dan nomor rumah berapa. Tapi kalau di desa, tak ada jalan dan tak ada nomor rumah, harus tanya nama orangnya siapa.
Karena persaudaraan dan kekeluargaan di desa masih sangat kental, jadi Mutya tidak kaget ketika ia melihat keluar jendela saat meninggalkan rumah neneknya, dilihatnya para bapak-bapak sedang gotong royong membangun rumah milik salah satu warga. Mereka membantu warga yang membangun rumah dengan suka rela, tanpa bayaran. Seorang warga akan malu jika dia tidak ikut datang membantu. Sedang di kota tak ada yang seperti ini. Membangun rumah adalah urusan individu, asal ada uang. Tetapi sebenarnya mereka tak tahu bahwa ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu persaudaraan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar