TAK TERBELI OLEH UANG
oleh Anis Unifah
Tinggal di desa lebih
menyenangkan, udara yang masih segar dan segala warna tampak hijau menyejukkan,
tetapi Mutya tidak suka dengan jalannya yang belum diaspal, masih bebatuan;
makadam.
Gadis cantik yang tinggal di kota
seperti Jakarta, setiap lebaran dia selalu mengunjungi neneknya di desa, bahkan
di lereng gunung. Mobil yang membawanya ke desa itu telah melemparkannya ke
kanan dan kiri. Ayahnya yang jago menyetir bahkan harus mengerahkan segala daya
penuh untuk menguasai jalan bebatuan.
Sebenarnya sudah berulang kali
nenek dan kakek Mutya diajak pindah ke kota, tetapi dia lebih memilih tinggal
di desa. Disanalah tempat kelahirannya, ujar mereka. Karena itulah, sebagai
anak yang berbakti, Ayah Mutya selalu sungkem kepada orang tuanya di desa.
Mutya muntah-muntah setelah ia
turun dari mobil. Dandanannya yang nyentrik kini sudah amburadul. Maskaranya
sudah luntur dan terlihat seperti lingkaran hitam di matanya, seperti hantu.
Sam, adiknya, tertawa cekikikan. Meski Sam masih SMP kelas IX dan hanya beda
dua tahun dari kakaknya, tubuh Sam lebih tinggi dari Mutya sehingga Sam bebas
mengolok-olok kakaknya. Toh, Mutya tidak bisa melawan secara fisik kepada Sam.
“Tak akan aku ajari kau PR
Matematika-mu selama satu bulan,” ancam Mutya dan hanya dengan inilah Mutya
bisa melawan adiknya.
Sam mengernyitkan alis, “Oh,
maaf-maaf. Aku tak akan mentertawaimu lagi karena mabuk darat.”
“Aku hanya mabuk darat setahun
sekali dan hanya saat perjalan melelahkan ini.”
Mutya mengusap mulutnya untuk
menghilangkan bekas muntahan lalu menyusul orang tuanya masuk ke rumah menemui
kakek dan neneknya. Kelelahan mereka terbayarkan dengan hidangan makanan opor
ayam dengan bumbu khas desa yang tak pernah didapatkan di kota. Ya, karena di
desa bisa menanam sendiri bumbu-bumbu, tidak seperti di kota yang serba instan.
Bubur instan, bumbu sup instan, kari instan, nasi goreng instan, bahkan air pun
instan.
Mutya segera meneguk air dari
teko yang ternyata masih hangat. Neneknya memasak sendiri airnya, tidak pernah
tahu apa itu galon.
“Air hangat baik untuk
kesehatan,” Neneknya berkata¾dan kata-kata itu yang selalu diucapkan pada Mutya setiap kali ia
meneguk air hangat itu.
Mutya hanya mengangguk, dia
sedikit kecewa. Perjalanan melelahkan dan penuh keringat serta perjuangan ini
harusnya disuguhi minuman dingin yang menyegarkan tenggorokan. Tapi apa?
Hangat? Menyehatkan? Ya, tak ada air dingin disini, tak ada lemari es.
Semua berkumpul di ruang tamu,
neneknya membawa nasi dan sayur serta lauk kemudian Mutya membantunya. Mereka
makan bersama. Seusai makan, Sam yang selalu blusukan menemukan pohon mangga
dan rambutan yang berbuah di belakang rumah. Dengan susah payah dia naik ke
pohon mangga, akhirnya ia bisa memetik buah mangga yang ranum. Ia cengar-cengir
sendiri.
“Sam, ambilkan satu,” suruh Mutya
yang terlah berdiri di bawah pohon mangga.
Sam yang nakal menjatuhkan mangga
di kepala kakaknya, untung Mutya bisa menghindarinya. Mutya marah-marah, lalu
beralih mengambil rambutan dengan bambu panjang. Akhirnya ia berhasil
menjatuhkan gerombolan rambutan dari rantingnya. Mutya senang dan ketika ia
hendak mengupas buah yang berambut merah itu, sang nenek menghampirinya.
Dengan berjalan tertatih-tatih
sambil membawa sebuah keranjang, ia berkata kepada Mutya, “kakekmu sudah memanennya
kemarin, khusus disiapkan untuk kalian.”
Oh, sial. Pengorbanannya memetik
buah rambutan dengan susah payah, juga hampir kepalanya benjol karena ulah Sam,
semuanya sia-sia. Keranjang yang dibawa neneknya itu berisi banyak sekali
mangga dan rambutan yang telah matang. Mungkin beginilah asyiknya di desa, bisa
memetik buah dari pekarangan sendiri.
Mutya dan keluarganya menikmati
buah itu.
Malam pun tiba, Mutya tidur
dengan Ibunya dan sudah waktunya para nyamuk beraksi, mencari mangsa, meminum
darah manusia. Mutya memukuli tangannya sendiri, bahkan mukanya untuk membunuh
nyamuk yang merajalela menyerangnya. Ah sial, gerutunya. Kalau di rumah, ia
bisa langsung mencolokkan obat nyamuk elektrik dan nyamuk-nyamuk segera kabur. Bahkan
disini tak ada colokan listrik, sangat terbatas sekali. Listrik harus dipakai
dengan hemat disini. Beberapa rumah bisa menggunakan sumber listrik yang sama,
jadi apabila ada satu rumah yang memakai muatan listrik berlebihan maka listrik
akan mati karena tidak kuat menahan muatan. Ya, seperti perahu yang
berpenumpang banyak, apabila satu orang melubangi perahu maka tenggelamlah
semua penumpang.
Akhirnya Mutya bisa tidur saat
neneknya menyalakan obat nyamuk bakar, meski asapnya membuat dia batuk berulang
kali.
Keesokan harinya, sang kakek
mengajak Mutya dan Sam mengambil janur di pohon kelapa. Di desa, ada hari
ketupat yakni jatuh pada hari ketujuh syawal, sehingga Sam harus memanjar pohon
kelapa dan mencari daun janur.
Setelah mendapat daun janur yang bagus-bagus,
kakek mengajari Sam membuat ketupat dengan membalutkan janur di tangannya.
Dasar Sam, sudah diajari beberapa kali ia tetap tak bisa. Sangat beda dengan
Mutya yang sekali diajari langsung bisa membuat ketupat. Biasanya mereka
membeli ketupat yang masih kosong di mall-mall, tetapi di desa mereka membuat
sendiri dan kualitas rasa juga terasa berbeda. Nasi ketupat dari janur yang
dibuat sendiri rasanya lebih enak daripada nasi ketupat yang dijual, mungkin
karena jerih payah membuatnya yang membuatnya berbeda.
Akhirnya tiba waktunya untuk
kembali ke Jakarta dan meninggalkan desa. Seperti biasanya, para tetangga
berdatangan dan bersalaman melepas kepergian Ayah Mutya. Sudah kebiasaan di
desa bahwa tetangga selalu menjaga hubungan baik, karena keluarga pertama yang
membantu saat kesusahan adalah tetangga. Bahkan para tetangga membawakan
oleh-oleh untuk Ayah Mutya. Ya, mereka dulu mengenal Ayah Mutya masih kecil.
Dia lahir di tanah ini, di desa ini, jadi kesuksesannya di Jakarta menjadi buah
bibir di desa. Satu kata bisa menyebar ke seluruh desa, itulah keunikannya
desa. Tidak seperti di kota yang diantara tetangga tidak saling kenal. Jika ada
yang tanya alamat di kota, maka tak akan ada yang kenal jika menyebut namanya,
harus menyebut jalan apa dan nomor rumah berapa. Tapi kalau di desa, tak ada
jalan dan tak ada nomor rumah, harus tanya nama orangnya siapa.
Karena persaudaraan dan
kekeluargaan di desa masih sangat kental, jadi Mutya tidak kaget ketika ia
melihat keluar jendela saat meninggalkan rumah neneknya, dilihatnya para
bapak-bapak sedang gotong royong membangun rumah milik salah satu warga. Mereka
membantu warga yang membangun rumah dengan suka rela, tanpa bayaran. Seorang
warga akan malu jika dia tidak ikut datang membantu. Sedang di kota tak ada yang
seperti ini. Membangun rumah adalah urusan individu, asal ada uang. Tetapi
sebenarnya mereka tak tahu bahwa ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang,
yaitu persaudaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar