Sabtu, 10 Januari 2015

Lelaki Tertampan di Dunia (Untuk Ayahku)

Cerpen ini aku dedikasikan untuk Ayahku tercinta...



LELAKI TERTAMPAN DI DUNIA
oleh Anis Unifah

Ayahku adalah seorang yang pendiam, bicara seperlunya, hanya yang penting-penting saja. Karena jarang bicara, aku dan Ayahku tidak terlalu dekat. Apa yang ingin aku sampaikan padanya, selalu aku sampaikan terlebih dahulu kepada Ibuku, baru kemudian Ibuku-lah yang menyampaikannya kepada Ayahku.
Karena tak pernah ngobrol dengan anak-anaknya, bukan berarti Ayahku tak peduli. Memang seperti itulah kepribadian Ayahku, pendiam. Para tetangga juga sering bilang kalau Ayahku hanya bicara seperlunya. Bukankah memang demikian yang dianjurkan Rasulullah, bicaralah yang manfaat atau diam.
Ayahku adalah sosok yang tak pernah marah. Selama ini aku belum pernah melihatnya marah. Aku juga tak berharap aku dimarahi oleh Ayahku.
Sebenarnya di mataku, Ayahku tidaklah tampan. Bahkan, aku pernah memberi tebakan kepada Ibuku siapa lelaki tertampan di dunia. Saat itu aku baru kelas 2 SD dan di sekolah Guruku baru saja menceritakan kisah ketampanan Nabi Yusuf yang dapat membuat gila para wanita yang memandang hingga tak sadar mengiris jarinya sendiri saat mengupas apel. Aku berharap saat aku mengajukan pertanyaan itu, Ibuku menjawab ‘Nabi Yusuf’ sehingga aku bisa membuktikan padanya bahwa aku telah mengetahui beberapa kisah para Nabi.
“Bu, siapa lelaki paling tampan di dunia?” tanyaku.
Tapi coba tebak apa jawaban Ibuku.
“Ya, Ayahmu itu,” jawab Ibuku sambil menoleh memandang Ayahku yang sedang membetulkan baut pintu yang copot.
Seorang gadis kecil yang saat itu masih berusia tujuh tahun akan menganggap jawaban Ibuku itu salah. Secara logika, seharusnya jawabannya adalah Nabi Yusuf, karena tak diragukan lagi ketampanan Nabi Yusuf (Menurut cerita, ya, meski tak pernah tahu ketampanan Nabi Yusuf, cukup mempercayai apa yang dikatakan Al-Qur’an). Sementara Ayahku hanyalah seorang pekerja bangunan yang setiap hari terkena panas matahari, kulit menghitam dan tak terawat.
Tapi setelah aku bertambah besar, aku mulai mengerti makna jawaban Ibuku saat itu. Bukan secara logika, tetapi berdasarkan filsafat. Ayahku selalu bekerja untuk menafkahi keluarga. Meski tak dikatakannya secara terang-terangan, aku sangat yakin kalau Ayahku sangat mencintai kami. Begitupun dengan Ibuku yang mencintai Ayahku. Karena cinta, maka sesuatu yang biasa-biasa saja akan tampak indah. Ayahku yang berkulit gelap dan berkumis terlihat tampan di mata Ibuku. Semua karena cinta antara mereka, saling memahami dan mencintai, berbagi senang maupun duka.
Meski Ayahku hanya sebagai pekerja bangunan yang gajinya hanya tujuh ratus ribu per bulan, tetapi Ayahku bisa menguliahkan aku dan adikku. Aku bangga pada Ayahku. Mungkin ada salah seorang temanku yang malu karena Ayahnya seorang pekerja bangunan. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu dianggap pekerjaan yang rendah, tetapi aku bangga dengan Ayahku. Apapun pekerjaan Ayahku, aku tak akan malu, asalkan tak meminta-minta. Karena Ayahku pernah mengajariku untuk tetap berusaha dan jangan pernah putus asa
Terimakasih Ayahku tercinta. Namamu akan selalu hadir dalam do’a-do’a yang aku panjatkan, berdampingan dengan nama Ibuku yang selalu engkau cintai. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memberikan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aku cinta kalian. Ayah, aku cinta pada engkau. Salam hangat dari anakmu yang sering mengecewakanmu ini. Bagiku, engkaulah lelaki tertampan di dunia, sama seperti yang Ibu katakan. Dan suamiku nanti Insya Allah menjadi lelaki tertampan yang kedua setelah engkau, Ayah. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar