LELAKI
TERTAMPAN DI DUNIA
oleh Anis Unifah
Ayahku adalah
seorang yang pendiam, bicara seperlunya, hanya yang penting-penting saja.
Karena jarang bicara, aku dan Ayahku tidak terlalu dekat. Apa yang ingin aku
sampaikan padanya, selalu aku sampaikan terlebih dahulu kepada Ibuku, baru
kemudian Ibuku-lah yang menyampaikannya kepada Ayahku.
Karena tak
pernah ngobrol dengan anak-anaknya, bukan berarti Ayahku tak peduli. Memang
seperti itulah kepribadian Ayahku, pendiam. Para tetangga juga sering bilang kalau
Ayahku hanya bicara seperlunya. Bukankah memang demikian yang dianjurkan
Rasulullah, bicaralah yang manfaat atau diam.
Ayahku adalah
sosok yang tak pernah marah. Selama ini aku belum pernah melihatnya marah. Aku
juga tak berharap aku dimarahi oleh Ayahku.
Sebenarnya di
mataku, Ayahku tidaklah tampan. Bahkan, aku pernah memberi tebakan kepada Ibuku
siapa lelaki tertampan di dunia. Saat itu aku baru kelas 2 SD dan di sekolah
Guruku baru saja menceritakan kisah ketampanan Nabi Yusuf yang dapat membuat gila
para wanita yang memandang hingga tak sadar mengiris jarinya sendiri saat
mengupas apel. Aku berharap saat aku mengajukan pertanyaan itu, Ibuku menjawab
‘Nabi Yusuf’ sehingga aku bisa membuktikan padanya bahwa aku telah mengetahui
beberapa kisah para Nabi.
“Bu, siapa
lelaki paling tampan di dunia?” tanyaku.
Tapi coba tebak
apa jawaban Ibuku.
“Ya, Ayahmu
itu,” jawab Ibuku sambil menoleh memandang Ayahku yang sedang membetulkan baut
pintu yang copot.
Seorang gadis
kecil yang saat itu masih berusia tujuh tahun akan menganggap jawaban Ibuku itu
salah. Secara logika, seharusnya jawabannya adalah Nabi Yusuf, karena tak
diragukan lagi ketampanan Nabi Yusuf (Menurut cerita, ya, meski tak pernah tahu
ketampanan Nabi Yusuf, cukup mempercayai apa yang dikatakan Al-Qur’an).
Sementara Ayahku hanyalah seorang pekerja bangunan yang setiap hari terkena
panas matahari, kulit menghitam dan tak terawat.
Tapi setelah aku
bertambah besar, aku mulai mengerti makna jawaban Ibuku saat itu. Bukan secara
logika, tetapi berdasarkan filsafat. Ayahku selalu bekerja untuk menafkahi
keluarga. Meski tak dikatakannya secara terang-terangan, aku sangat yakin kalau
Ayahku sangat mencintai kami. Begitupun dengan Ibuku yang mencintai Ayahku.
Karena cinta, maka sesuatu yang biasa-biasa saja akan tampak indah. Ayahku yang
berkulit gelap dan berkumis terlihat tampan di mata Ibuku. Semua karena cinta
antara mereka, saling memahami dan mencintai, berbagi senang maupun duka.
Meski Ayahku hanya
sebagai pekerja bangunan yang gajinya hanya tujuh ratus ribu per bulan, tetapi
Ayahku bisa menguliahkan aku dan adikku. Aku bangga pada Ayahku. Mungkin ada
salah seorang temanku yang malu karena Ayahnya seorang pekerja bangunan. Bagi
sebagian orang, pekerjaan itu dianggap pekerjaan yang rendah, tetapi aku bangga
dengan Ayahku. Apapun pekerjaan Ayahku, aku tak akan malu, asalkan tak meminta-minta. Karena Ayahku pernah
mengajariku untuk tetap berusaha dan jangan pernah putus asa
Terimakasih
Ayahku tercinta. Namamu akan selalu hadir dalam do’a-do’a yang aku panjatkan,
berdampingan dengan nama Ibuku yang selalu engkau cintai. Semoga Allah
mengampuni dosa-dosa kalian dan memberikan keselamatan serta kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Aku cinta kalian. Ayah, aku cinta pada engkau. Salam hangat
dari anakmu yang sering mengecewakanmu ini. Bagiku, engkaulah lelaki tertampan
di dunia, sama seperti yang Ibu katakan. Dan suamiku nanti Insya Allah menjadi
lelaki tertampan yang kedua setelah engkau, Ayah. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar